Oleh: 

1. Dr. Fokky Fuad Wasitaatmadja (Dosen di Universitas Al Azhar Indonesia).

2. Dr. Heriyono Tardjono (Dosen di Universitas Al Azhar Indonesia).

PEDULIRAKYAT.CO.ID — Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama merupakan organisasi keislaman moderat yang terus mencoba memberikan kontribusi terbaik kepada Bangsa. Kedua organisasi ini mengedepankan konsep tekstualitas-rasionalitas, ritual-sosial, dan dogmatis-dinamis (Fithriyyah dan Umam, 2018). Bukan hal yang mudah bagi kedua organisasi sosial tersebut menghadapi kondisi bangsa yang terus berubah. Muhammadiyah berkontribusi dalam melaksanakan dakwah keislaman, kemanusiaan dan juga kebangsaan. Perubahan sosio kultural masyarakat juga menuntut kemampuan beradaptasi bagi keduanya dalam situasi yang terus berubah. Muhammadiyah dan NU menjadi organisasi yang dapat memberikan kontribusi pembangunan Indonesia sejak dulu, kini, dan masa depan di tengah masyarakat yang lebih luas cara pandangnya dan bidang garap yang lebih mondial dan humanis (Zainudin, 2015).

Muhammadiyah berbagi peran dengan sang adik kandung, Nahdlatul Ulama, dalam melaksanakan dakwah keislaman, kemanusiaan, dan kebangsaan ini. Muhammadiyah menggarap masyarakat kalangan rasional, sedangkan Nahdlatul Ulama menggarap ladang dakwah masyarakat tradisional yang berkarakter intuitif yang kuat. Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama memiliki kesamaan dalam pelaksanaan dakwah moderat yang dilakukannya, yaitu berbasis pada nilai-nilai kultural keindonesiaan dengan tetap berpijak pada al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Saw. Muhammadiyah dengan konsep Islam berkemajuan, dan NU dengan konsep Islam Nusantara, memiliki sebuah kesamaan yaitu pencapaian kesejahteraan umat (Khafifah, 2015).

Muhammadiyah sebagai kakak kandung, dan Nahdlatul Ulama sebagai adik kandung, kini menghadapi problem yang jauh lebih berat dibanding di masa kelahirannya di era penjajahan masa lalu. Keduanya menghadapi problem masyarakat moderen abad 21: kemiskinan, ketidakadilan, ketimpangan sosial, korupsi, ancaman resesi ekonomi global, kerusakan lingkungan, hingga problem separatisme & terorisme.

Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama tidak sekedar menjelaskan kepada umat tentang problematika keagamaan, tetapi kini harus pula mampu menjelaskan tantangan keberagamaan di Abad 21. Bukan hal yang ringan bagi keduanya untuk bergerak menghadapi ancaman baik dalam skala nasional maupun transnasional tersebut. Beragama di era milenial ketiga ini membutuhkan sebuah kecerdasan tertentu, berubahnya masyarakat dari era moderen dan tengah memasuki era postmodern juga membutuhkan kader ulama yang mampu menjawab tantangan postmodern beserta segenap problematikanya.

Interaksi masyarakat yang berada dalam ruang digital yang begitu mudahnya melakukan tindakan manipulasi fakta dalam dunia yang telah tersimulasi dalam komunikasi antar subjek semakin memperberat tantangan bagi keduanya. Digitalisasi hidup manusia menampilkan fragmen hidup yang penuh dengan hiperrealitas menjadikan semua orang sulit membedakan mana yang benar dan yang salah. Realita yang sesungguhnya dengan realita semu bercampur menjadi satu sehingga mampu menipu nalar manusia.

Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam bentuknya yang moderat harus mampu bertindak sebagai pelaku dan penggerak perubahan manusia. Muhammadiyah dengan konsep berkemajuan kini benar-benar menghadapi kondisi masyarakat yang bukan sekedar maju tetapi juga problem masyarakat yang telah maju. Nahdlatul Ulama dengan konsep Islam Nusantara pun menghadapi perubahan sosial yang mendera masyarakat Nusantara dengan tantangan problematika transnasional.

Dari Kemiskinan hingga Terorisme

Kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, demokratisasi, problem korupsi, hingga terorisme menjadi problem besar yang dihadapi oleh bangsa ini khususnya yang juga perlu ditanggulangi oleh Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Kemiskinan bersanding dengan kebodohan, juga ketidakadilan. Respons kedua organisasi ini secara proaktif sangat dinantikan oleh bangsa ini, khususnya bagi mereka yang mengalami problematika ketidakadilan.

Kemiskinan serta ketidakadilan sudah menjadi objek garapan keduanya saat baru berdiri di masa kolonial. Tetapi kini problemnya menjadi semakin kompleks karena juga diikuti oleh masuknya beragam nilai-nilai baru yang masuk. Ketidakadilan era penjajahan disebabkan oleh penindasan imperialisme dan kolonialisme bangsa asing, kini ketidakadilan oleh menggeloranya imperialisme ekonomi kapitalisme asing merupakan salah satu hal berat yang harus dihadapi oleh kedua organisasi ini.

Peningkatan kualitas pendidikan menjadi salah satu kunci utama dalam menanggulangi problem ini juga telah dilancarkan oleh Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Lembaga Pendidikan Muhammadiyah dan NU bergerak mencerdaskan bangsa berupaya mencapai sebuah kesejahteraan sejak awal pendiriannya. Rupanya problem utama bukan cuma masalah kemampuan kognisi dan skill, tetapi juga munculnya problematika degradasi akhlaq yang mendera. Pendidikan di kedua lembaga ini berkonsentrasi pada pembentukan manusia yang utuh baik materiil maupun spiritual (Muttaqin, 2017).

Disinilah peran penting kedua organisasi ini dalam mendidik manusia Indonesia. Tidak semata mengajarkan gagasan kecerdasan intelektualitas semata, tetapi lembaga pendidikan yang mereka dirikan mulai sekolah dasar hingga perfuruan tinggi dan pondok pesantren mengajarkan nilai-nilai kecerdasan spiritual. Bahwa sisi akhlaq manusia dibangun terlebih dahulu, untuk memahami posisi dirinya dihadapan Allah, sesama manusia, dan alam semesta. Memahamkan bahwa manusia harus mampu menjadi khalifah yang memakmurkan bumi sebagai amanah dari Allah kepadanya.

Beragama (Berislam) bagi keduanya adalah bagaimana seseorang mampu menimbulkan perasaan yang menyejukkan. Berislam adalah mampu merekonstruksi kesadaran akan makna ia menjadi manusia dan memanusiakan orang lain. Bahwa sebagai bagian dari umat, seorang manusia memberikan kontribusi terbaiknya bagi sesama. Ketika hal ini mampu diwujudkan maka ia mampu berkontribusi dalam proses kemanusiaan. Ia berkontribusi terhadap semua problem kemanusiaan dengan hal apa yang ia mampu kerjakan. Ia berbuat dalam kapasitasnya untuk memperbaiki dirinya, keluarganya, hingga lingkungannya. Hal-hal kecil ia perbaiki untuk kemudian secara bersama dengan lainnya sedikit banyak berupaya merekonstruksi lingkungannya menjadi lebih baik.

Kebodohan dan kemiskinan dapat dieliminasi melalui kepedulian terhadap sesama. Kepedulian ini telah dibangun melalui lembaga pendidikan Muhammadiyah dan NU bermutu berkualitas yang terjangkau oleh masyarakat kecil.

Moderasi di lingkungan Muhammadiyah dan NU juga telah berupaya menanamkan kesadaran untuk membendung pembudayaan korupsi dan radikalisme melalui pendidikan anti korupsi dan pendidikan Islam yang moderat. Muhammadiyah dan NU terus berupaya membendung derasnya arus pembudayaan korupsi di segala bidang, walau terasa berat. Pendidikan anti korupsi yang berbasis pada keakhlakan dalam upaya membentuk manusia yang sadar atas bahaya mentalitas perilaku koruptif terus dikembangkan. Kesadaran atas moderasi beragama juga ditanamkan untuk membendung arus pemahaman ektremisme di kalangan pelajarnya.

Disadari benar oleh Muhammadiyah dan NU bahwa faham ekstremisme beragama yang berujung pada tindakan terorisme merupakan proses negatif globalisasi. Pemahaman transnasional atas Islam yang dipenuhi oleh konflik politik yang terjadi di luar juga ikut mempengaruhi paradigma masyarakat Indonesia terhadap Islam. Membendung arus ekstremisme bukanlah hal yang mudah, karena berkaitan dengan konsep berfikir. Perilaku ekstrem tidak diwujudkan atau dihadirkan dalam bentuk pakaian, seperti jilbab, gamis atau jenggot, tetapi pada konsep berfikir yang ekstrem seperti mudah mengkafirkan, mudah menyalahkan, hingga mengkooptasi makna jihad untuk kepentingan dan tujuan tertentu. Kedua organisasi moderat ini diharapkan mampu membimbing kelompok agama lainnya untuk berorientasi pada konsep to be religious dibandingkan sekedar to have a religion (Soeharto, 2016).

Pada kondisi inilah Muhammadiyah dan NU melalui perguruan tinggi hingga pondok pesantren yang dimilikinya berjibaku memahamkan Islam yang inklusif dan moderat sejak lama melalui kurikulum pendidikannya. Bahwa kesadaran atas habluminallah juga dibarengi dengan kesadaran atas hablumminanas. Kesadaran bertuhan dibuktikan dengan cara memanusiakan manusia lainnya. Bukan hal yang mudah bagi Muhammadiyah dan NU tentunya menghadapi berbagai tantangan berat postmoderen. Tetapi apapun yang terjadi perlu disadari bahwa Muhammadiyah dan NU menjadi tulang punggung bagi terciptanya kesadaran berislam, juga berbangsa dan bernegara. Kedua organisasi ini mampu membangun perdamaian dan demokrasi di tingkat dunia (Ika, 2019).

Stay connect With Us :