PeduliRakyat.co.id – Dunia game bukan hal baru bagi Jefferson, sosok di balik Liga Roblox Indonesia. Sebelum dikenal sebagai kreator konten Roblox, ternyata ia punya perjalanan panjang sebagai pemain kompetitif Dota, bahkan pernah naik podium dalam turnamen tingkat nasional saat masih duduk di bangku SMP.
Siapa sangka, perjalanan Jefferson di dunia gaming dimulai dari kebiasaannya bermain di warung internet alias warnet. Kala itu, bermain Dota bersama teman-teman menjadi aktivitas yang sulit dipisahkan dari kesehariannya.
Jefferson mengenang masa ketika Dota masih ramai dimainkan melalui jaringan LAN di warnet. Dari situlah ia mulai mengenal banyak pemain yang sering mengikuti turnamen.
“Zaman dulu saat SMP kalau main Dota adanya LAN di warnet, nggak ada versi online. Karena sering main ke warnet, jadi kenal dengan player lain. Kebetulan player yang saya kenal suka ikut turnamen. Akhirnya saya diajak ikut turnamen karena jago, xD,” cerita Jefferson.
Jefferson mengaku aktif mengikuti kompetisi Dota pada periode 2007 hingga 2016. Selama hampir satu dekade tersebut, banyak turnamen yang pernah ia ikuti.
Namun, ada satu pengalaman yang sampai sekarang masih membekas dalam ingatannya, yakni ketika mengikuti Electronic Sports World Cup (ESWC) 2007.
Menurut Jefferson, turnamen tingkat nasional itu diikuti sejumlah tim besar, termasuk XCN yang dikenal sebagai salah satu tim kuat Indonesia pada masanya.
Menariknya, Jefferson mengikuti pertandingan tersebut ketika masih berstatus pelajar SMP. Bahkan, ia datang bertanding langsung setelah pulang sekolah.
“Waktu itu saya pulang sekolah tanding memakai seragam sekolah SMP, wkwk. Saya bersyukur di ajang sebesar ini tim saya masuk podium,” kenangnya.
Jefferson menyebut timnya, Allzu, berhasil menempati posisi ketiga. Sementara itu, XCN keluar sebagai juara pertama dan Titan dari Bandung berada di posisi kedua.
Pencapaian tersebut terasa spesial karena Allzu datang sebagai tim yang tidak terlalu diunggulkan.
Pengalaman bertanding menghadapi tim-tim besar menjadi salah satu kenangan yang sulit dilupakan Jefferson sepanjang kariernya di dunia kompetitif.
Meski menikmati persaingan dalam turnamen, Jefferson akhirnya memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan perjalanan sebagai pemain kompetitif Dota.
Keputusan tersebut bukan karena ia kehilangan kecintaan terhadap game, melainkan karena mulai memikirkan kondisi finansial dan masa depannya.
Menurut Jefferson, industri esports Indonesia pada masa itu sangat berbeda dengan sekarang. Kesempatan bagi pemain profesional untuk mendapatkan penghasilan dinilainya masih terbatas.
“Zaman dulu esports nggak ada duitnya, nggak ada harapan bisa kaya sebagai player esports di Indonesia. Beda dengan zaman sekarang, para pro player masih bisa dapat uang gede dari sponsor atau streaming. Prize pool juga sudah naik berkali-kali lipat,” ungkapnya.
Jefferson merasa harus mengambil keputusan yang realistis seiring bertambahnya usia.
Ia menyadari bahwa kecintaannya terhadap dunia kompetitif tidak bisa menjadi satu-satunya pertimbangan dalam merencanakan kehidupan pribadi.
“Saya berhenti karena tidak melihat ada kesempatan yang baik untuk menyusun finansial jika meneruskan sebagai player esports pada saat itu. Umur saya juga sudah tidak muda lagi, saya harus mengambil keputusan untuk menyusun rencana finansial untuk kehidupan pribadi,” jelasnya.

Setelah meninggalkan dunia kompetitif Dota, Jefferson menemukan ketertarikan baru pada Roblox.
Padahal, kedua game tersebut memiliki karakter yang sangat berbeda. Dota dikenal sebagai permainan strategi kompetitif, sedangkan Roblox menawarkan beragam pengalaman permainan yang dibuat oleh para penggunanya.
Lantas, apa yang membuat mantan pemain kompetitif Dota ini tertarik menjajal Roblox?
“Saya melihat traffic player yang sangat besar di Roblox ini,” jawab Jefferson.
Ketertarikan tersebut kemudian membawanya terjun ke dunia pembuatan konten dan membangun Liga Roblox Indonesia.
Meski pernah memiliki pengalaman bertanding di level kompetitif, Jefferson tidak menganggap latar belakangnya sebagai pemain Dota menjadi faktor utama dalam memahami penonton.
Menurutnya, pengalaman sebagai gamer justru lebih membantu dalam menentukan konten yang menarik.
“Sebenarnya hal yang benar-benar membantu bukan karena saya seorang pensiunan kompetitif Dota, tapi lebih ke arah karena saya adalah gamer. Jadi saya tahu apa yang diinginkan oleh viewer saya,” tuturnya.
Sementara itu, ketika ditanya mengenai tanggapan rekan-rekan lamanya di Dota terhadap aktivitasnya sekarang, Jefferson justru memberikan jawaban santai.
“Udah lama nggak kontak dengan mereka, sembilan tahun lalu terakhir kontakan kayaknya, haha,” katanya.
Walaupun kini lebih banyak berkecimpung sebagai kreator konten Roblox, Jefferson ternyata masih menyimpan kenangan menyenangkan dari masa-masa mengikuti kompetisi Dota.
Baginya, ada sensasi tersendiri ketika harus menyusun strategi bersama tim, menghadapi lawan, hingga merasakan kebahagiaan saat berhasil naik podium.
“Perasaan saat ikut berkompetisi, membangun strategi, dan rasanya naik podium. Hal-hal itu sangat menyenangkan bagi saya,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan panjang Jefferson sebagai seorang gamer.
Kini, melalui Liga Roblox Indonesia, ia menjalani babak baru di dunia gaming dengan tantangan yang berbeda dari masa-masa kompetitifnya dahulu.
Ketika ditanya tentang pencapaian paling membanggakan sepanjang perjalanan dari Dota hingga membangun Liga Roblox Indonesia, Jefferson justru memilih berbicara tentang rasa syukur.
Ia merasa masih memiliki banyak hal yang ingin dicapai dan belum menganggap perjalanan kariernya telah sampai pada titik tertinggi.
“Untuk saat ini perasaan bersyukur lebih besar daripada rasa bangga karena saya tahu perjalanan saya masih panjang ke depan,” ujar Jefferson.
“Saya masih mempunyai goal yang lebih besar dari sekarang, jadi harus semangat ngonten terussss! Doain lancar ya :)” sambungnya.
Jefferson juga punya pesan untuk anak-anak muda Indonesia yang gemar bermain game dan ingin mencoba peruntungan sebagai kreator konten.
Menurutnya, perkembangan platform digital sekarang memberikan kesempatan lebih luas bagi para gamer untuk menunjukkan kemampuan sekaligus membangun penonton sendiri.
Ia menyarankan agar mereka tidak ragu mencoba membuat konten atau melakukan siaran langsung ketika bermain game.
“Di zaman sekarang kalau kalian suka main game, streaming-in aja. Siapa tahu rame, siapa tahu viewer pada suka sama gaya kamu. Nggak ada ruginya,” pesan Jefferson.
Dari bermain Dota di warnet dengan seragam SMP hingga mengembangkan Liga Roblox Indonesia, perjalanan Jefferson menunjukkan bagaimana kecintaan terhadap game bisa membawanya menjalani berbagai peran yang berbeda.
Meski sudah tidak lagi mengejar podium turnamen, semangatnya untuk terus berkembang di dunia gaming tampaknya belum padam. (has)


Tinggalkan Balasan