Oleh: IMMawati Sutraeni (Sekretaris Bidang IMMawati PC IMM Bulukumba)

PEDULIRAKYAT.CO.ID — “Ada api didalam dirinya. Jika dicintai dengan benar, dia akan menghangatkan seluruh rumahmu. Jika disalahgunakan, dia akan membakarnya.”

“Tindakan terkuat bagi seorang perempuan adalah mencintai dirinya sendiri, menjadi dirinya sendiri, dan bersinar di antara mereka yang tidak pernah percaya dia bisa.”

Berangkat dari segala celoteh indah penuh makna diatas bahwasanya perempuan memiliki segala keunikan yang tak pernah tersadarkan oleh perempuan itu sendiri, penduduk bumi dan sekitarnya.

Gelombang globalisasi sangat berpengaruh bagi masuknya wacana perempuan ke Indonesia. Gagasan domkarasi dan emansipasi yang masuk memaksa pengamat keseteraan perempuan untuk menelaah posisi perempuan yang telah termarjinalkan sejak berabad-abad.

Pada abad ke-19 dan 20 konsep feminisme Barat menjadi model teologis pembebasan perempuan diberbagai Negara yang mayoritas muslim. Bermula dari para tokoh-tokoh intelektual Mesir yang belajar ke Eropa, wacana perempuan yang diadopsi oleh mereka pada saat itu adalah “Tahrir Al-Mar’ah” yaitu Pembebasan Perempuan. Seiring berjalannya waktu gerakan Pembebasan Perempuan ini berkembang dengan cepat manakala masayarakat mulai menyadari ketertindasan, terutama yang dialami oleh perempuan, yang diakibatkan oleh kolonialisme dan modernisme.

Indonesia adalah Negara dengan jumlah penduduk 270,2 juta jiwa dengan berdasarkan sensus penduduk 2020, BPS Mencatat jumlah penduduk laki-laki di Indonesia sebanyak 136,66 juta orang atau 50,55 % dari penduduk Indonesia sementara jumlah penduduk perempuan di Indonesia sebanyak 49,42 % dari penduduk Indonesia. Ini menunjukkan bahwa populasi perempuan di Indonesia hampir setara dengan penduduk laki-laki.

Ketika kita melirik dari histories gerakan perempuan dari zaman Rasulullah sampai zaman milenial sekarang bisa dikatakan perempuan adalah termasuk salah satu agen of change dan sosial of control. Mengapa demikian? Dari tanah Arab salah satu contohnya Siti Aisyah, istri Rasulullah yang sangat cerdas dan pemberani ia sadar betul akan pendidikan, tidak sedikit hadist Rasul yang telah dirawikannya, penghafal hadist bahkan ia pernah menjadi pemimpin perang, pada perang Unta saat itu.

Sedangkan dari nusantara salah satunya adalah sosok Nyai Ahmad Dahlan atau Siti Walidah istri dari KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah. Ia adalah salah satu tokoh emansipasi perempuan yang memiliki kecerdasan dalam mengembangkan pendidikan perempuan pada masa itu, salah satunya adalah ia membuka asrama dan sekolah-sekolah puteri. mengadakan kursus-kursus pelajaran Islam, dan pemberantasan buta huruf bagi kaum perempuan.

Sedangkan perempuan masa kini adalah Tri Rismaharani sosok yang tegas, rendah hati, jujur, dan merakyat menjadikan pemimpin perempuan yang teladan bagi banyak orang, yang menduduki posisi ketiga sebagai walikota terbaik didunia oleh The City Mayor Foundation.

Sejalan dengan perkembangan zaman dan teknologi yang semakin pesat, peran perempuan semakin bergeser kearah yang cenderung apatis, yang banyak menuntut emansipasi dan eksistensi, tapi tidak dapat membuktikan dengan kelayakam dalam berkonstribusi untuk kehidupan yang lebih layak. Diera milenial ini masih banyak perempuan yang kurang tepat dalam memaknai apa itu eksistensi dan emansipasi.

Perempuan dizaman dulu, bentuk nyata eksistensinya adalah menutup aurat, berada didalam rumah, di hargai sebagai sosok yang lembut, mengerjakan tugas-tugas pokok perempuan yaitu dapur, sumur, kasur, dimana perempuan ibarat perhiasan yang dijaga oleh pemiliknya.

Perempuan dan Perannya di Era Industri 4. 0: Tantangan, Hambatan, atau Peluang?
Masyarakat Muslim di Indonesia hampir mencapai 90%, di antaranya 50% Muslim laki-laki, 40% Muslim perempuan. Dari presentase populasi generasi muslim tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan ke-Islaman di Indonesia bergerak begitu dinamis dan mengejutkan. Pasar Muslim menggeliat dan bertumbuh demikian pesat, ditandai maraknya industri hijab, kosmetik halal, bank dan keuangan syariah, makanan halal, hotel syariah, dan sebagainya.

Perempuan Muslim turut mengambil andil terutama pasar konsumen Indonesia, yang memiliki karakteristik unik yang berbeda dengan AS atau negara lainnya. Memang betul globalisasi, teknologi (Google, media sosial, mobile phone, cloud), dan gaya hidup Barat (Hollywood, Hip Hop, Justin Bieber) begitu pekat mempengaruhi nilai-nilai, perilaku, dan aspirasi konsumen Indonesia. Namun, kelokalan dan nilai-nilai Islam tetap dominan memengaruhi pola pikir, pola sikap, dan pola tindak mereka.

Pada era industry 4.0 perempuan banyak menunjukkan eksistensinya kepada dunia bahwa mereka tidak lemah, mereka juga kuat dan pemberani. Memiliki karier yang cemerlang, pendidikan yang tinggi dan mampu memasuki dunia politik hingga menjadi pemimpin Negara.

Perempuan dan/atau laki-laki saat ini tidak dapat menolak perkembangan globalisasi, teknologi, fashion, ataupun gaya hidup modern (modernisasi). Akan tetapi perempuan bisa merevitalisasi pentingnya menerapkan nilai-nilai agama. Sebab, trend zaman now melibatkan peleburan pola pikir yang religius dinamis, progresif, dan kreatif. Sehingga, globalisasi tidak menjadi hambatan tetapi menjadi tantangan dan peluang.

Inilah seharusnya kaum perempuan yang mesti dipahami bahwasanya dari belahan dunia manapun perempuan akan selalu menjadi objek pembicaraan yang menarik dan akan senantiasa mendiaspora gerakan-gerakan penindasan tanpa jedah jika perempuan masih belum sadar akan tutopsi dirinya baik dalam Al-Qur’an, dunia politik, perekonomian, kesehatan. Dan terlebih lagi jika ia paham makna eksistensi dan emansipasi yang sebenarnya adalah bagaimana perempuan bisa maju dan berkarya dari waktu kewaktu tanpa menghilangkan kodratnya (Moral,etika, adab , dan jati dirinya) sebagai perempuan.

Hari perempuan Nasional bukan hanya sekadar diperingati dan menjadi symbolic atas pencapaian para leluhur yang telah gugur di medan jihad namun ini adalah sebuah bentuk bagaimana kemudian merefleksi dan merevitalisasi gerakan-gerakan perempuan yang telah lama terselimuti oleh zona nyaman yag dianggap tabuh untuk dievaluasi.
Merefleksi 8 Maret “Internasional Women’s Day”. (RedaksiPeduli).

Stay connect With Us :