​Oleh: Abdul Gafur (Ketua Bidang Hikmah, Politik dan Kebijakan Publik DPD IMM Sulawesi Selatan)
​
PEDULIRAKYAT.CO.ID — ​“Mencintai negara tanpa mencintai kemanusiaan,​ sama saja dengan menyembah berhala”
​​-Erich Fromm-

​Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai salah-satu organisasi kemahasiswaan terbesar yang ada di Indonesia, lahir dari rahim Persyarikatan Muhammadiyah karena kemestian sejarah akan kondisi dan tuntutan kemanusiaan dan kebangsaan pada saat itu.
​
​Sejak kelahirannya 14 Maret 1964, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) telah menancapkan akarnya yang kuat, berkomitmen penuh untuk menjadi source of solution ditengah persoalan umat dan bangsa bahkan di tengah kehidupan global. Akar historis yang itulah yang terus tumbuh dan berkembang seiring dengan perjalanan sejarah itu sendiri.
​
​Memasuki usia ke- 56 tahun, usia yang cukup matang untuk terus mengarahkan IMM dalam memainkan peranan penting dalam merawat, membangun, dan memperjuangkan masa depan bangsa Indonesia sesuai dengan cita-cita kemerdekaan. Sebagaimana yang tertuang dalam nilai-nilai pancasila dan amanat UUD 1945, yakni Indonesia ikut serta dalam melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social, selaras dengan cita – cita persyarikatan Muhammadiyah abad ke-2 yaitu Indonesia Berkemajuan dan mencerahkan semesta.
​
​IMM sebagai bagian dari entitas mahasiswa yang ada tentunya harus hadir terdepan sebagai source of solution dalam mengembalikan gerakan mahasiswa pada posisi yang seharusnya. sebagai kelompok middle class yang punya tanggung jawab moral dan tanggung jawab sosial untuk memperjuangkan apa yang menjadi kepentingan masyarakat.
​
​IMM secara konsepsi jelas keberpihakannya terhadap masyarakat sebagaimana termaktub dalam enam penegasan IMM, poin keenam bahwa amal IMM adalah Lillahi Taala dan senantiasa diabdikan untuk kepentingan rakyat, hal tersebut juga dipertegas dalam poin Nilai Dasar Ikatan yaitu:
​(a) IMM adalah gerakan mahasiswa yang bergerak pada tiga bidang ; keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan,
​(b) Segala bentuk gerakan IMM tetap berlandaskan pada agama islam yang hanif dan berkarakter rahmat bagi sekalian alam,
​(c) Segala bentuk ketidakadilan, kesewenang-wenangan dan kemungkaran adalah lawan besar gerakan IMM, perlawanan terhadapnya adalah kewajibn setiap kader IMM,
​(d) Sebagai gerakan mahasiswa yang berdasarkan islam dan berangkat dari individu-individu mukmin, maka kesadaran melakukan syariat islam adalah suatu kewajiban sekaligus mempunyai tanggung jawab untuk mendakwakan kebenaran ditengah masyarakat,
​(e) Kader IMM merupakan inti masyrakat utama, yang selalu menyebarkan cita-cita kemerdekaan, kemuliaan dan kemaslahatan masyarakat sesuai dengan semangat pembebasan dan pencerahan yang dilakukan nabiyullah Muhammad SAW.
​
​Rumusan ideology gerakan IMM yang tertuang dalam NDI tersebut tentunya secara konsepsi sudah dapat dikatakan paripurna, jika seorang kader mampu memanifestasikan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab kemahasiswaannya, tetapi tidak bisa dinafikkan, bahwa kader IMM hari ini juga mengalami krisis dalam berbagai aspek.
​
​Mengapa hal ini terjadi, apakah kader IMM tidak lagi mengamalkan NDI yang menjadi ruh gerakan IMM? Jika hal ini dipertanyakan, mayoritas kader memahami tentang orientasi gerakan IMM khususnya trilogy gerakan IMM pada poin pertama NDI. Lalu apa yang keliru, mengapa IMM belum mampu tampil memberikan konstribusi maksimal terhadap kebangsaan dan kemanusiaan.

​Trilogy Gerakan IMM
​
​Pertama, gerakan keagamaan yang nilainya adalah kualifikasi spiritual sebagai organisasi otonom muhammadiyah tentu memiliki landasan gerak yang sama dengan muhammadiyah yakni islam sehingga kepribadian IMM adalah kepribadian yang dicontohkan lewat moralitas profetis berdasar pada landasan normative teologis.
​
​Kedua, gerakan kemahasiswaan dimana varaibelnya adalah kualitas intelektual, IMM harus mampu menjaga nafas intelektualitas dalam tubuh setiap kadernya, Haedar Nashir bahwa IMM adalah gudangnya intelektualisme dan pengembangan wacana, dan itulah yang menjadi teks dalam tujuan IMM yaitu mengusahakan akedemisi Islam yang berakhlak mulia.
​
​Ketiga, gerakan kemasyarakatan adalah pengejewantahan aktivitas kemanuasian atau humanitas, artinya adalah kader yang mampu untuk bersosialisasi ditengah kehidupan masyarakat dan senantiasa terlibat dalam agenda-agenda social kemanusiaan dengan cara yang penuh kebijaksanaan.
​
​Ketiga kompetensi tersebut, mayoritas kader IMM masih menjalankan trilogy gerakan secara parsial, membuat dikotomi tentang kader spiritual, kader intelektual maupun kader humanis. Paradigma inilah yang harus dipikirkan kembali (rethinking) untuk dipahamkan kepada seluruh kader IMM bahwa trilogy gerakan harus dimaknai secara komprehensif, yaitu satu kasatuan yang mengkristal dalam diri setiap kader Ikatan, dengan pemahaman inilah maka kader IMM dapat menjalankan secara maksimal penegasan keempat tentang amal ilmiah dan ilmu amaliah.
​
​Artinya dalam pengejewantahan konsepsi IMM tidak cukup mencipta kader yang mumpuni secara intelektual dan punya nilai spiritual yang mengakar akan tetapi konsekwensi dari kecerdasan dan keimanan tersebut adalah hadirnya kader IMM dalam menjawab berbagai pesoalan sosial kemanusiaan, dinamika kebangassan dan realitas keummatan.
​
​Ending daripada trilogy gerakan IMM adalah menjadikan segala bentuk ketidakadialan, kesewenang-wenangan dan kemungkaran sebagai lawan yang tidak memberikan ruang kompromi didalamnya inilah wujud daripada gerakan humanitas itu sendiri. Hal inilah yang secara historis menjadikan hadirnya IMM ditengah kehidupan kemahasiswaan berbangsa dan bernegara sebagai sebuah keniscayaan.
​
​Dari tinjauan tersebut maka IMM semestinya sudah bisa menetukan aksi nyata Ikatan yang harus dijalankan. Dalam bahasa salah satu pendiri IMM, Amien Rais dikenal dengan istilah gerakan tauhid sosial. Begitupun dalam surah Ali Imran : 110 yang dapat dijadikan sebagai ladasan teologis “kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah”.
​
​Respon atas realitas kemanusiaan bagi IMM harus mengacu pada ayat tersebut. Keberpihakan gerakan IMM adalah keberpihakan terhadap kaum mustada’fin, itulah wujud nyata aksi ikatan yang harus di manfestasikan oleh seluruh pimpinan dan kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.
​
​“Islam menemukan senjatanya pada kaum tertindas sedangkan kaum tertindas menemukan inspirasinya dalam berbagai ayat al-Quran ditunjang oleh ucapan dan tindakan Muhammad, sebagai sosok utusan Tuhan, Muhammad mengambil peran sebagai pemimpin kaum tertindas dan memilih mengambil gaya hidup seperti mereka”
​-Franz Magnis Suseno-

Stay connect With Us :