Oleh: Muhammad Hafizhuddin Al Ghifary (Alumnus Universitas Al Azhar Indonesia dan Mahasiswa National Taipei University).

PEDULIRAKYAT.CO.ID — Tahun 2018 kita dikejutkan dengan sebuah hasil penelitian yang dilakukan oleh The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang bernama Programme for International Student Assesment (PISA). PISA ini adalah sebuah penelitian yang dilakukan secara tiga tahun sekali sejak tahun 2000 untuk mengukur dan meninjau sejauh mana kadar kemampuan para peserta belajar di pendidikan formal di tingkat menengah.

Variabel penelitian yang dikaji ada tiga mata pelajaran utama, yaitu matematika, literasi, dan sains. Hasil yang keluar pada tahun tersebut mengukur kemampuan sejumlah 600.000 anak berusia 15 tahun dari 79 negara.

Secara umum, hasil yang keluar dari penelitian tersebut untuk Indonesia cukup membanggakan karena kita mampu menempati posisi sepuluh besar, dari bawah. Bila dibandingkan satu negara tetangga yang dari luas pulau serta sumber daya alamnya tidak berlimpah seperti Indonesia, kita sangat jauh tertinggal. Kita ambil contoh Singapura. Ia mampu bertahan di lima besar bertahun-tahun dengan kualitas pendidikannya yang semakin hari semakin melangkah jauh ke depan.

Di satu sisi tentu kita semua merasa kesal dan geram dengan kondisi pendidikan bangsa Indonesia yang semakin hari tidak ada kemajuan yang berarti melainkan kemunduran. Di sisi lain, kita juga perlu menelaah banyak faktor dan variabel penting yang harus dikaji terkait kualitas pendidikan di Indonesia. Apakah penelitian soal kualitas pendidikan yang dihasilkan oleh PISA tersebut sepenuhnya dapat menjadi tiang pegangan untuk karakter dan budaya bangsa Indonesia?

Kita perlu sadari bahwa kita ini sebagai manusia adalah ciptaan yang terdiri dari organisme hidup yang cukup kompleks. Dan bukan hanya itu, di dalam diri kita ini ada yang namanya nalar logika serta jiwa atau hati nurani. Semua hal tersebut satu sama lain saling berhubungan dan berkaitan. Belum lagi ada yang namanya emosi dan hasrat. Semua hal tersebut dapat memengaruhi pola perilaku dan sikap setiap individu.
Apabila diberikan nutrisi dan protein yang baik, maka hasilnya juga akan baik.

Pendidikan seharusnya tidak hanya terfokus pada kemampuan nalar logika atau kemampuan kognitif saja hingga mengabaikan kemampuan atau kecerdasan di sisi lainnya. Karena banyak pertanyaan yang sangat mendasar dalam kehidupan setiap individu yang perlu dijawab seperti satu di antaranya adalah: Apakah memang orang-orang yang di kampung itu butuh pelajaran-pelajaran ala barat? Apakah mereka akan nyaman dengan hal demikian? Jawabannya tentu bisa beragam.

Hanya saja kalau kita mau melihat kenyataan dan fakta bahwa banyak pembangunan fasilitas publik serta industri hasil dari pola pikir dan pelajaran orang-orang Barat justru lebih dominan memberikan dampak yang buruk terhadap ekosistem lingkungan dan alam Nusantara. Seperti pembakaran hutan. Lahan sawah yang dijadikan pabrik. Gunung-gunung yang mulai gundul dan hilang karena dikeruk. Dan masih banyak yang tidak terhitung dan terpecahkan solusinya.

Pengusaha-pengusaha yang rata-rata berpendidikan tinggi serta pejabat-pejabat publik atau Aparatur Negara Sipil yang menjalankan amanat undang-undang negara, mereka sebagian besar justru banyak melakukan praktik yang tidak semestinya dilakukan. Seperti nanti sang pengusaha menyuap seorang pejabat demi memuluskan usahanya untuk membangun pabrik di sebuah lahan serta menyewa aparat keamanan hingga preman untuk melindungi dirinya serta perusahaannya agar tidak diamuk rakyat jelata.

Dari berbagai masalah dan fakta yang disebutkan di atas, sampai sini kita bisa melihat dan meninjau ulang bahwa nyatanya kita belum siap untuk hanya cerdas dari nalar logika saja namun tidak dibarengi dengan bekal pendidikan karakter dan kejiwaan. Karena apabila seseorang hanya dibekali dengan nalar logika atau kecerdasan intelektual saja maka kemungkinan besar ia akan mudah mempermainkan orang yang tidak punya kecerdasan seperti dia. Seperti contoh banyak maling uang negara yang dilakukan oleh para pejabat negara yang memiliki gelar sarjana hingga tingkat doktor meskipun kita tidak bisa pukul rata dan nyatakan bahwa pendidikan tinggi ikut menyumbang pertumbuhan pelaku korupsi.

Penting sekali bagi kita untuk membuat kurikulum pendidikan yang tidak hanya mampu menghasilkan pola pikir untuk gemar bekerja keras demi bertahan hidup atau bekerja mengumpulkan harta sebanyak mungkin hanya untuk dirinya dan keluarganya sendiri. Namun juga penting untuk membuat kurikulum pendidikan yang dapat menghasilkan seorang manusia dengan sistem kehidupan yang kompleks ini menjadi orang yang matang secara emosional, cerdas dalam berpikir dan kaya dengan keimanan.

Manusia yang tidak hanya mementingkan dirinya sendiri tapi juga orang-orang di sekitarnya. Orang yang tidak hanya fasih dalam menyampaikan retorika namun juga memiliki rasa takut terhadap Dzat Yang Maha Esa, kuat secara fisik dan kejiwaan, memiliki nilai kejujuran yang paten dan matang segala-galanya, adalah seorang manusia ideal yang kita butuhkan.

Stay connect With Us :