Oleh: Nurita, M.Pd (Guru Sekolah Dasar Al-Iman)
PEDULIRAKYAT.CO.ID — Hari ini ada dua materi yang saya dapat dari kegiatan yang dilaksanakan oleh Sekolah Guru Indonesia (SGI). Materinya sangat bagus Studium General Nasional dengan tema ”Islamic Worldview for Teacher” disampaikan oleh M, Syafi’ie dan Dr. H. Adian Husaini. Kedua materi ini saling berkaitan mengingatkan kembali kepada tugas utama guru sebagai pendidik untuk merubah paradigma baru dalam mempersiapkan masa depan. Menurut M. Syafe’ie dalam bukunya “Guru Sang Arsitek Peradaban” Guru adalah penentu potret pemuda di garda terdepan. Profil pemuda di masa depan tergantung polesan dan intervensi yang diberikan guru, karena sejatinya guru adalah pelukis peradaban”.
Guru jangan terpenjara dalam ruang tertutup dan dengan pola pikir yang sempit, tapi luaskan pola pikir guru dengan pola pendidikan yang mengarah kepada Pendidikan 10-15 yang akan datang. Guru selayaknya bermimpi dan berimajinasi untuk anak didiknya, anak didik yang kita ajarkan saat ini di bangku SD, SMP, SMA atau Perguruan tinggi akan menjadi pemimpin diberbagai daerah, negara bahkan dunia dan mereka akan berdakwah dan belajar. Oleh karena itu selayaknya seorang guru harus meluaskan paradigma dengan menyiapkan murid-murid sebagai pejuang intelektual sesuai zamannya.
Guru harus pandai merancang visi dan misi dengan baik, melihat peluang besar di masa depan. Rancangan ini memiliki tujuan yang besar, harus bernilai tinggi dan mulia melintasi dunia dan akhirat. Mengapa demikian? Karena ini adalah amal jariyah yang tak pernah terputus bagi guru dalam menjalankan amanah dengan baik. Keberhasilan guru di dunia menghantarkan amalan yang tak pernah terputus untuk di akhirat, meskipun guru sudah tidak ada lagi.
Model Pendidikan yang Rasululloh ajarkan di Dar Al-Arqom adalah Murid, guru dan kurikulum yang saling berkaitan. Dengan tingkat keilmuan Rasululloh sebagai guru yang mengajarkan dan mendidik para sahabatnya. Rasululloh adalah guru terbaik sepanjang jaman, sosok manusia yang menjadi tauladan. Jika gurunya adalah seorang manusia terbaik di dunia, maka para sahabat sebagai muridnya menjadi manusia hebat yang luar biasa hingga mampu menaklukkan dunia. Oleh karena itu semangat guru untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas dalam diri, sehingga menghasilkan anak didik yang berkualitas.
Kompetensi utama guru yang harus dimiliki dan diteladani adalah ibadah dan ahlaknya. Sosok guru harus bisa menjadi teladan bagi murid-muridnya, karena dia akan melihat, meniru, melakukan apa yang guru lakukan. Hal kedua yang juga penting, adalah keluasan ilmu dan wawasannya. Guru selayaknya lebih cerdas dan lebih tahu lebih dahulu dari pada muridnya. Murid akan bertanya, mengemukakan pendapat dan bereksplorasi dari sesuatu yang baru ia lakukan, dan yang paling terpenting adalah bagaimana murid mencintai ilmu. Kecintaan pada ilmu ini yang harus ditumbuhkan karena dengan ini ia mampu untuk mencari tahu apa yang belum murid tahu. Oleh karena itu guru bukan hanya mentrasfer pengetahuan, tetapi bagaimana guru mampu menghantarkan keilmuan yang mendekatkan diri kepada Allah dan menjadi hamba yang taat.
Interaksi antara guru dan murid adalah ikatan hati dengan hati. Keikhlsan guru dalam memberikan ilmu agar muridnya diberikan kepahaman dalam belajar. Do’a yang dipanjatkan mengetuk hati murid untuk mentaati dan meghormati gurunya. Besar peranan hati seorang guru untuk membawa hati murid mencintai dan mencari akan ilmu, seorang guru yang di ridhoi maka akan mendapatkan hikmah yang merubah paradigma. Guru paradigma adalah Rasululloh sebagai contoh teladan terbaik bukan hanya perkataan tapi akhlak keseharian Rasululloh menjadi panutan. Menjadi orang baik bukan di ukur dari kata-katanya, tidak pula dari pintar pidato, ceramah atau pengetahuan lainnya, tetapi dari perilaku dapat mencerminkan akhlak dan adab seseorang dengan keilmuanya yang tinggi tapi tidak memiliki adab maka sia-sia “beradablah kamu maka berilmulah kamu”. Adab itulah yang menghantarkan murid menjadi manusia yang berilmu. Pejuangan guru tidak akan habis pada intelektual saja tapi adab lebih dahulu dari pada intelektual.
Sekolah adalah tempat mendapatkan ilmu, batasan mencari ilmu bukan hanya di sekolah saja, tapi bisa didapat dari manapun, Pendidikan itu ada dilingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah, yang dikatakan oleh Dr. Adian Husaini tentang makna “sekolah” dengan “pendidikan”. Sebab, yang diwajibkan untuk dicari oleh Nabi Muhammad saw adalah “ILMU”, bukan “sekolah”, pesantren, atau universitas. Sekolah bisa menjadi tempat pendidikan, menjadi tempat mencari ilmu yang bermanfaat. Tetapi, bisa juga sekolah tidak menjadi tempat pendidikan yang baik, ketika sekolah itu mengajarkan ilmu yang salah dan tidak bermanfaat.
Dalam bidang pendidikan, tantangan berat dari worldview Islam adalah tentang makna kata “pendidikan” itu sendiri, yang sekedar dipahami sebagai “tempat untuk meraih ilmu dan keterampilan agar masuk universitas ternama untuk bisa meraih pekerjaan yang layak dan hidup nyaman.” Pendidikan bukan dipahami sebagai proses thalabul ilmi yang benar, agar meraih ilmu yang bermanfaat, sehingga menjadi orang baik, yaitu orang yang beradab (man of adab/insan adabi), diperintahkan oleh Rasulullah saw adalah mencari ilmu yang bermanfaat? Yakni ilmu yang semakin mendekatkan manusia kepada Allah SWT. Nabi mengajari kita doa: “Allaahumma innaa nas-aluka ‘ilman nafi’an…”
Pendidikan bukan hanya untuk melahirkan karyawan yang bisa bekerja yang memiliki keterampilan saja tanpa melihat adab dan akhlak sebagai karyawan yang baik dan bermutu. Salah satu tujuan pendidikan adalah membentuk orang baik apapun profesinya. Salah satu kriteria orang baik adalah memiliki ilmu dan ketrampilan (profesionalitas) untuk bisa mandiri dan berdiri sendiri. Worldview yang benar dibangun dari pemahaman yang benar terhadap hal penting dalam Islam, termasuk dalam bidang pendidikan. Inilah tantangan terbesar yang dihadapi oleh umat Islam, yaitu kerusakan makna penting dalam Islam.
Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas menyatakan, bahwa tantangan terbesar yang dihadapi umat Islam di zaman ini adalah tantangan ilmu (the challenge of knowledge). Dengan worldview yang benar tentang pendidikan, maka anak-anak muslim akan memahami dan mau menempuh jalan untuk menjadi manusia yang baik. Yakni, manusia yang beradab kepada Allah, Rasulullah saw, para sahabat Nabi, para ulama, orang tua, guru, sesama muslim, lingkungannya, dan juga beradab kepada dirinya sendiri.
Murid yang ingin mendapatkan ilmu kuncinya hanya dua yakni ikhlas dalam mencari ilmu dan beradab terhadap ilmu, tanamkan adab sebelum ilmu. Tugas orang tua dijelaskan dalam surat At-Tahrim ayat 6” wahai orang-orang yang beriman! peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka …” sebaik- baik manusia adalah yang palin baik ahlaknya dan bermanfaat bagi banyak orang.
Marilah sama-sama kita menyamakan Islamic worldview tentang Pendidikan dimana guru sebagai penunjuk arah dan perubah peradaban dari hakekat pendidikan itu sendiri. Guru adalah pejuang adab dan intelektual yang ilmunya tidak bisa dihargai oleh harta, maka berbanggalah menjadi seorang guru yang menjalankan misi kenabian untuk derajat posisi yang mulia. Memaknai profesi guru untuk merubah paradigma Pendidikan yang lebih baik. Tingkatkan kualitas diri dengan keteladanan, keilmuan dan wawasan yang tinggi. Membentuk keihlasan dan keridhan seorang guru dalam mentrasfer ilmu menghasilkan anak didik yang berkualitas, berkarakter, beradab dan berintelektual.


Tinggalkan Balasan