Oleh: Akrim Lahasbi (Aktivis IMM Kota Tangerang dan Pegiat Literasi Media)

PEDULIRAKYAT.CO — Data terbaru angka positif corona di Indonesia per 1 Juli 2020, yang dilansir dari Kompas.com berjumlah 57.770 orang, pasien sembuh 25.595 orang dan jumlah yang meninggal mencapai 2.934 orang.

Semakin hari semakin meningkat jumlah pasien yang terinfeksi virus corona. Bahkan dari data yang disampaikan jumlah tersebut akan semakin meningkat seiring tidak diindahkan protokol kesehatan dan himbauan otoritas pemerintah dan kesehatan perihal Physical Distancing oleh setiap elemen masyarakat .

Ketidakdisiplinan masyarakat menjadi faktor utama yang menyebabkan kenaikan jumlah pasien yang tersuspect covid-19. Sehingga dalam hal yang berkaitan ketidakdisiplinan ini, mengharuskan pemerintah memberikan aturan yang membuat masyarakat pun merasakan dampak dari setiap apa yang
mereka yang lakukan tersebut.

Klaster baru penyebaran

Dalam kondisi seperti ini, kita selalu merasakan kewaspadaan yang lebih dari setiap aktivitas yang kita lakukan untuk mengantisipasi penyebaran. Baik itu dari interaksi secara langsung maupun melalui sentuhan terhadap benda-benda sebelumnya. Kewaspadaan ini berjalan seiring semakin meningkatnya jumlah pasien yang terinfeksi karena aktivitas yang tidak memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi serta tidak menghiraukan protokol
kesehatan.

Selalu ada klaster baru yang menjadi tempat penyebaran yang masif. Sebut saja seperti pasar tradisional, pusat perbelanjaan, bandara, stasiun dan tempat keramaian lainnya.

Bahwa, bisa dikatakan sangat riskan ketika dalam penerapan new normal pada kondisi yang masih terlihat buruk, dengan dalih menyelamatkan ekonomi. Tapi perlu kita lihat dan amati bersama hal demikian akan memunculkan klaster-klaster baru yang menjadi objek penyebaran virus corona. Karena pada kondisi ini, penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar pun masih belum memiliki dampak yang signifikan.

Dari klaster yang menjadi penyebaran yang masif disebutkan diatas, menjadi poin utamanya adalah pengawasan dalam setiap aktivitas masyarakat ataupun lainnya harus sangat terkoordinasi. Mengingat pasar dan pusat perbelanjaan menjadi indikator penting dalam setiap sisi kehidupan masyarakat, dan itu perlu pengawasan yang baik dan tertata untuk menekan penyebaran virus ini.

Pasar dan pusat perbelanjaan menjadi objek masyarakat, bahkan banyak kasus yang terjadi ketika setelah adanya transksi dan interaksi dalam pasar ataupun pusat perbelanjaan itu sendiri. Hal ini disebabkan karena kurangnya kewaspadaan masyarakat dan menganggap remeh persoalan yang kita sama-sama hadapi sekarang ini.

Selain itu, ada juga bandara atau tempat transit transportasi lainnya. Merujuk pada kasus yang terjadi di bandara Soekarno-Hatta beberapa saat lalu, dengan terjadi kerumunan oleh penumpang maskapai. Dilihat saat itu menjadi hal yang sangat buruk, ketidakpatuhan terhadap Pembatasan Sosial seperti ini menjadi biang kerok penyebaran. Ditambah dengan longgarnya pengawasan pemerintah menjadikan aturan yang dibuat seolah tidak memiliki kekuatan.

Antisipasi Lengah dalam New Normal

Mengapa demikian? Masyarakat perlu memiliki kesadaran kritis dengan hal yang sedang terjadi. Baik buruknya suatu kondisi tergantung sejauh mana kesadaran itu dipakai pada porsi yang sebenarnya. Tetapi tidak hanya masyarakat, melainkan ketegasan dan kecepatan pemerintah dalam membuat kebijakan pun semestinya harus memiliki dampak yang kuat terhadap kondisi saat ini.

Menghadapi new normal tidak serta merta dilakukan, akan tetapi harus kembali mempertimbangkan setiap dampak yang terjadi. Sampai disini, sudah sejauh mana solusi pemerintah dibalik pemberlakuan new normal? Jangan sampai masyarakat pula menjadi korban dari setiap kebijakan yang dibuat.

Pemerintah pun jangan terlalu terburu-buru dalam penerapan new normal, perlu pengkajian yang lebih dalam perihal dampak, solusi serta metode antisipasi. Halnya dengan peraturan sebelumnya yaitu Pembatasan Sosial Berskala Besar yang sampai saat ini masih saja belum menjadi indikator berkurangnya penyebaran covid-19.

Maka dari itu, siapkan secara matang aspek yang diperlukan dalam menghadapi new normal, sehingga tidak terjadi counter attack yang cepat dari penyebaran covid-19 atau biasa disebut dengan istilah Gelombang Kedua.

Oleh karena itu, dalam target pemerintah untuk mengembalikan kekuatan ekonomi perlu adanya sistem kekuatan dan ketegasan dari setiap protokol kesehatan. Sebab, kita amati sendiri, masyarakat yang masih ngeyel akan menjadi faktor kegagalan dari kebijakan maupun protokol kesehatan yang dibuat. Dalam kondisi seperti ini bukan lagi membuat kurva positif covid-19 menurun tetapi akan semakin meningkat dengan minimnya kesadaran masyarakat.

Maka dari itu perang melawan virus ini pun bukan hanya tugasnya para medis, pemerintah ataupun otoritas kesehatan.
Melainkan tugas semua orang, semua elemen yang ada untuk bisa memerangi virus corona ini. Lalu dengan cara seperti apa? Kita sama-sama sadari bahwa, cara yang baik untuk berperang melawan virus ini adalah mengikuti protokol kesehatan, tidak ngeyel terhadap setiap himbauan, mematuhi kebijakan, serta mengurangi aktivitas yang tidak penting diluar rumah.

Hal lebih lanjut dalam menghadapi new normal, pemerintah perlu memangkas kebijakan yang dinilai tidak tegas terhadap kejadian dan kasus yang ada, yang mana seperti kasus yang terjadi beberapa saat yang lalu. Contohnya seperti memberlakukan

Pembatasan Sosial Berskala Besar tetapi hanya berlaku pada sub koordinat tertentu. Sehingga dengan ketidaktegasan tersebut terjadi kerumuman di Bandara Soekarno-Hatta, membludaknya pengunjung di Mall pada beberapa saat lalu.
Kasus lainnya seperti melarang ritual peribadatan yang dilakukan dirumah ibadah dengan notabene dilakukan dalam jangka waktu tidak lama, tetapi masih banyak kelonggaran yang terjadi di pasar-pasar dengan kerumunan cukup banak bahkan membludaknya pengunjung di pusat perbelanjaan dalam jangka waktu yang cukup lama dan banyak lagi kasus lainnya.

Adanya hal ini, karena banyak peraturan yang tidak dijalankan masyarakat dan ketidaktegasan serta lengahnya pemerintah dalam menghadapi wabah covid-19. Oleh karenanya, dalam setiap kebijakan yang diambil perlu memiliki ketegasan yang berdampak baik, dan itu menjadi salah satu jalan untuk menekan penyebaran.

Dalam hal ini pemerintah pun jangan sampai terjadi miskomunikasi ataupun timpang tindih kebijakan yang berakibat fatal sehingga menimbulkan kegaduhan dalam menghadapi wabah ini. Pula, pemerintah harus menggalang kerjasama dengan masyarakat dan memberikan transparansi kebijakan serta melibatkan masyarakat dalam membuat kebijakan.

Langkah ini tentu menjadi modal besar pemerintah dalam menghentikan laju penyebaran covid-19 dan mengembalikan kekuatan ekonomi baik itu dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Oleh karena itu, dari setiap kebijakan yang dicanangkan, tidak harus langsung pada misi penerapan tetapi perlu diedukasi kepada masyarakat terlebih dahulu agar tidak terjadi bias dalam penerapan.

Pun bisa saja terjadi didalam new normal memiliki resiko yang lebih tinggi penyebaran covid-19 dari dan ke masyarakat itu sendiri. Dikhawatirkan pemerintah memilih membuat skema baru diluar dari skema new normal itu sendiri. Maka diingatkan kembali, perlu adanya pengkajian yang lebih dalam tentang new normal.

Lalu kita bisa apa?

Pemerintah perlu melibatkan seluruh elemen masyarakat serta kesadaran masyarakat, ketika diterapkan new normal. Hal ini dilakukan bukan berarti perang melawan virus telah usai. Tetapi mencoba menyelamatkan kondisi ekonomi dan aktivitas masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Maka dari itu hal yang menjadi harapan kita semua adalah penerapan new normal dapat memberikan efek yang dominan terhadap ekonomi negara, meningkatkan daya beli masyarakat walaupun belum mampu menjadi jalan keluar untuk menuntaskan masalah ekonomi. Tetapi sedikit tidaknya dapat bisa memberikan angin segar kehidupan dalam kondisi pandemic ini.

Antisipasi yang lebih untuk membatasi penyebaran adalah mematuhi protokol kesehatan, menjauhi kerumunan, kurangi aktivitas yang tidak penting serta lakukan pola hidup sehat. Itu salah satu bagian dari membangun kesadaran dalam berperang melawan wabah ini. Maka dari itu, kita harus belajar dari setiap kebiasaan yang tidak normatif, kita harus melepaskan kebiasaan buruk.

Menghadapi new normal, kita perlu membangun kesadaran dan kepatuhan sebagai masyarakat terhadap apa yang menjadi tuntunan bagi kita. Dari new normal ini diharapkan pula memberikan dampak yang baik bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tetapi harus menjadi catatan, dalam penerapan new nornal sangat rentan dan akan membuat angka pasien yang terinfeksi semakin meningkat berkali lipat jika masyarakat masih membandel dan pemerintah yang tidak tegas nan lengah.

Hal demikin dapat memicu gelombang kedua penyebaran covid-19 dapat melumpuhkan segala sektor kehidupan yang ada. Pun membuat para tenaga medis menjadi kewalahan jika pun bandelnya masyarakat yang tidak menghiraukan protokol kesehatan physcal distancing. Oleh karena itu, diingatkan kembali kepada pemerintah perlu mengkaji kembali wacana new normal serta menyiapkan apa yang dibutuhkan dalam new normal seperti memperbanyak tempat penampung pasien dan tenaga medis.

Karena tidak bisa dipungkiri lonjakan pasien akan semakin meningkat jika diterapkan new normal, dan kembali saya ingatkan itu sangat berbahaya, sebaiknya terus mengkampanyekan physical distancing.

Stay connect With Us :