Oleh : Eka Yusuf (Mahasiswa Prodi Sastra Arab Fakultas Ilmu Sosial Universitas Muhammadiyah Gorontalo)

PEDULIRAKYAT.CO.ID — Berbicara mengenai rating, tentu tidak jauh-jauh dari yang namanya ‘media’, salah satunya media televisi. Televisi sendiri pada hakikatnya merupakan golongan dari komunikasi massa yang sudah banyak dimiliki oleh masyarakat. Selain dari segi harga televisi yang saat ini relatif murah, televisi juga lebih menarik karena menyuguhkan informasi dalam bentuk audio dan gambar bergerak. Berbeda tentunya dengan media cetak yang tidak memiliki fitur audio dan gambar bergerak.

Dimana, fungsi televisi secara umum sama dengan fungsi media massa lainnya, yaitu berfungsi untuk memberi informasi, mendidik, menghibur, dan membujuk. Akan tetapi, dapat kita saksikan bersama bahwa dari berbagai fungsi televisi yang disebutkan diatas. televisi sebagai media yang seharusnya memberi informasi, mendidik malah mulai terlalu condong ke fungsi hiburan.

Dimana bisa terlihat hampir seluruh program televisi yang tayang merupakan konten untuk menghibur. Padahal, penonton telivisi sangat beragam dari segi umurnya. Ada baiknya mungkin selain dapat menghibur, tayangan televisi tersebut juga ada unsur edukasinya. Dengan kata lain dibutuhkan  porsi  yang  proporsional antara edukasi dan rekreasi.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) melakukan riset indeks kualitas program televisi. Hasilnya, indeks kualitas program siaran televisi pada periode ini yaitu 3,13. Angka ini berada di atas indeks minimal KPI, yaitu 3,00.

Dari 8 kategori program penyiaran, terdapat 3 kategori program siaran yang indeksnya masih di bawah standar, yaitu variety show (2,92); infotainment (2,62); dan sinetron (2,59). Sinetron mendapatkan catatan dalam aspek perlindungan kepentingan anak dan remaja, kesesuaian dengan perkembangan psikologis anak dan remaja, serta adegan kekerasan, baik verbal maupun nonverbal.

Yang membuat miris adalah, tiga jenis tayangan yang berada di bawah standar inilah yang meraih rating tinggi di masyarakat. Sebagai contoh, sinetron Ikatan Cinta konsisten memimpin daftar rating pemirsa tertinggi dari seluruh acara TV Indonesia per 21/11/2021. Sinetron yang tembus 500 episode ini menjadi favorit pemirsa, utamanya ibu-ibu.

Tingginya rating tayangan yang tidak berkualitas menunjukkan manajemen penyiaran Indonesia berorientasi pasar. Media memproduksi tayangan hanya untuk memenuhi selera pasar, yakni demi mengejar rating. Dimana persoalan meningkatkan kecerdasan bangsa tidak lagi menjadi prioritas utama.

Padahal, selain sebagai sarana hiburan, media memiliki banyak fungsi strategis, yaitu sarana pengawasan terhadap pemerintah, sumber informasi dan pengetahuan, sosialisasi, dan sarana pendidikan. Namun, nyatanya, fungsi hiburan ini yang lebih mendominasi. Konten tidak bermutu mendominasi tayangan hiburan, seperti sinetron kejar tayang, gosip artis, dan komedi slapstick (lelucon kasar).

Pemerintah yang seharusnya menjadi pengatur, nyatanya malah berlepas tangan. Fungsi kontrol media beralih pada sebuah komisi, yakni KPI. Padahal, masyarakat cenderung meragukan peran KPI karena banyak tayangan kekerasan dan adegan tidak senonoh yang justru lolos tayang.

KPI pun seolah tidak memiliki taji (bagian). Ketika ada tayangan yang melanggar aturan, mudah sekali bersiasat sehingga lolos tayang lagi. Bahkan, tayangan pada Ramadan yang seharusnya kental muatan kesalehan, nyatanya masih didominasi tayangan yang tidak layak.

Pada titik kulminasi, sering kali masyarakat harus turun tangan mengajukan petisi penolakan sebuah tayangan yang melanggar aspek moral. Ketika terjadi kontroversi di tengah masyarakat, barulah KPI bersikap. Acapkali pernyataan KPI justru berlawanan dengan moral masyarakat, misalnya terkait “baju renang Shizuka” yang oleh salah satu komisioner KPI dipandang tidak perlu mendapat sensor.

Fenomena kejar rating pada industri media di Indonesia tidak lepas dari kapitalisme yang mendominasi kapitalisme liberal telah menciptakan masyarakat yang sibuk mengejar kesenangan. Para kapitalis lantas menangkap peluang ini dengan menyajikan tayangan yang didominasi hiburan, seperti sinetron, musik, gosip, dan sejenisnya.

Dalam kondisi lemahnya fungsi kontrol negara dan oportunisnya para kapitalis media, lantas umat harus berharap pada siapa untuk memperoleh tayangan yang mencerdaskan?

Stay connect With Us :