Oleh: Nurita, M.Pd (Guru SD Islam Al Iman Bogor)
PEDULIRAKYAT.CO.ID — Pagi hari yang cerah matahari bersinar dengan indahnya menghangatkan dedaunan yang mengembun, suara semilir angin menggerakkan pohon seraya memanggil. Suasana pagi di sekolah yang ramai dan teriakan anak-anak yang memanggil temannya saat bermain menjadi suasana yang dirindukan. Kali ini berbeda, siswa belajar di rumah menggunakan platform pembelajaran dan media sosial agar pembelajaran tetap berjalan. Peristiwa ini menjadi sejarah, bukan dalam hitungan hari dan bulan tapi sampai satu tahun lebih siswa belajar dari rumah. Hal ini tak mudah siswa harus beradaptasi dengan pembiasaan baru dan pola baru yang akan mempengaruhi perubahan dalam dirinya.
Mulai saat ini pemerintah sudah membuka perlahan-lahan proses pembelajaran tatap muka tapi masih dibatasi waktunya. Berkumpul kembali guru dan siswa suatu hal yang sangat membahagiakan walau masih ada keterbatasan siswa yang hadir atau masuk secara bergantian. Guru tidak bisa digantikan dengan teknologi apapun, teknologi yang digunakan faktor penunjang kegiatan pembelajaran.
Mendidik bukan hanya dari pengetahuan semata, dengan perolehan nilai tertinggi, disini kebebasan guru untuk bereksplorasi dalam pembelajaran kreatif dan inovatif dengan merdeka belajar guru mampu untuk mengeksplorasi media pembelajaran, sentuhan kata-kata bijak dan media pembelajaran mengarahkan anak didik untuk mendapatkan makna merdeka belajar sesungguhnya.
Apa yang membedakan siswa di sekolah dan di rumah? tentu berbeda jauh, anak di rumah lebih terlindungi dan dekat dengan orang tuanya, di sekolah bersama guru. Guru adalah orang lain yang harus mereka percayai untuk menggantikan orang tua di rumah, bukan hanya 1 anak tapi beberapa anak yang ada di kelas. Rasa takut dan malu untuk mengungkapkan sesuatu sangat sulit. Disinilah perlu kerjasama orang tua agar guru lebih mengetahui anak lebih dekat.
Setiap kejadian dan permasalahan yang terjadi menanamkan siswa untuk bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan. Sebuah kisah dari seorang siswa melakukan kesalahan dengan rasa takut yang menghantui. Mengakui kesalahan yang dilakukan butuh jiwa besar dan kejujuran yang terus dipupuk keberanian untuk berkata jujur. keberanian dirinya untuk mengungkapkan kebenaran terasa sulit, saat menjelaskan terlalu berbelit-belit, tidak mau mengakui kesalahan, orang tua yang melabeli dirinya dengan hal yang negatif dan komentar teman-temanya tentang dirinya yang tidak mengenakkan. Di sini butuh kepercayaan yang penuh dan menyakinkan kepada siswa bahwa ibu guru juga menyayangi dan mencintainya.
Kepercayaan guru dan sentuhan hati seorang guru kepada siswa, dimana siswa mampu dan berani menceritakan lebih jelas permasalahan yang dihadapi dan dapat menyelesaikan persoalan dengan baik dan memposisikan gurunya adalah orang tua di sekolah sehingga siswa percaya dan menceritakan dengan jujur permasalahan yang sebenarnya.
Setiap siswa punya cerita dan sejarah masing-masing di setiap tingkatan kelas yang mereka lalui. Sebelumnya siswa memiliki pengalaman yang buruk sehingga orang lain sudah melihatnya negatif, maka guru menjadi orang pertama yang mempercayainya. Saat ia ingin berubah dan ingin memperbaiki dirinya untuk lebih baik dan mau mengakui kebenaran itu suatu hal yang luar biasa, guru mampu menghadirkan hati dan cintanya kepada muridnya yang ingin belajar menjadi pribadi yang lebih baik.
Ruang lingkup mengajar guru bukan batasan tembok yang disekat-sekat menjadi ruang kelas, hakekatnya ruang guru berada di akal, pikiran dan hati. Di dalam hati ini ada cinta yang bersemayam untuk satu sama lain saling memberi dan saling menyayangi. Mendidik hati itu lebih sulit dibandingkan dengan mencari informasi dan mendapatkan pengetahuan. Jika hati ini tidak koneksi diantara keduanya antara guru dan murid maka pesan dan makna belajar tidak akan sampai. Mendidik dengan hati butuh kelembutan dengan menggunakan kata-kata yang menyenangkan yang membuat kebahagiaan, jika kebahagiaan sudah dirasakan maka mudah untuk mengarahkan, membimbing, memberikan informasi dan lain sebagainya sehingga menghasilkan anak didik yang cerdas.
Guru yang mencintai anak muridnya tentunya tidak akan melakukan aktivitas yang akan merusak fungsi akal dan hatinya. Dengan kemampuan akalnya diharapkan ia tidak akan dirusak dengan ide-ide yang membuatnya kehilangan berpikir untuk melihat indahnya wawasan pengetahuan. Begitu juga dengan hati tentu tidak dirusaknya dengan perasangka-perasangka negatif yang membuat hatinya sempit hingga tumpul sampai hilang kepekaan. Tetapi bagaimana dengan mengoptimalkan fungsi hati dengan tajam dan jernih ia mampu melihat kebenaran dari hatinya sendiri dengan matanya melihat kenyataan?
Pengendalian fungsi akal dan hati yang harus disentuh dengan kelembutan, semakin bahagia anak menerima maka akan meningkatkan kecerdasan pada dirinya. Untuk sesuatu yang bermanfaat dan bertanggung jawab guru akan selalu mengingatkan anak didiknya karena sentuhan hati dan nutrisi otak dengan kelembutan. kemampuan guru dalam mengolah emosi dan terjadi perubahan pada siswa sekecil apapun menjadi kebahagiaan seorang guru. Guru berdiri sempurna di depan murid-muridnya sebagai contoh kebaikan. Al-Qur’an menegaskan “ katakanlah:” setiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya ( pembawaannya) masing-masing.” Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. ( Qs. Al-Isra’ 17: 84 ).
Berbicara tentang cinta erat kaitanya dengan emosi bukan intelektual. Perasaan lebih berperan dalam cinta daripada proses intelektual. Karena berkaitan dengan emosi, setiap orang dapat memberikan konsep tentang cinta sesuai dengan keadaan emosinya. Inilah alasan mengapa terdapat banyak rumusan tentang cinta dan tidak mudah menentukan rumusan mana yang tepat. Makin sulit lagi tampaknya karena selama ini pengetahuan tentang cinta tidak jelas masuk disiplin ilmu apa.
Berikut ini definisi cinta menurut para ahli: Menurut Rabi’ah Al-‘Adawiyah, cinta adalah ungkapan kerinduan dan gambaran perasaan yang terdalam. Siapa yang merasakannya, niscaya akan mengenalinya. Namun, siapa yang mencoba untuk menyiasatinya, pasti akan gagal. Menurut Hamka, cinta adalah perasaan yang mesti ada pada setiap manusia. Ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih, dan suci. hanya tanahnyalah yang berlainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah oleh karena embun itu kedurjanaan. Tetapi jika ia jatuh ke tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia, budi pekerti yang tinggi, dan lain-lain yang terpuji.
Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa cinta adalah ungkapan perasaan yang dimiliki setiap manusia yang melibatkan komitmen, rasa persatuan, budi pekerti, untuk mengembangkan, menjaga dan memelihara apa yang dimiliki oleh diri sendiri dan orang lain.
Hakikat cinta seorang pendidik dan murid menghantarkan kecintaan kepada Allah SWT itu yang paling utama, dan ini merupakan derajat yang paling tinggi.” Dan orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah SWT (Al-Baqarah: 165). “Allah SWT menyukai mereka dan mereka menyukai-Nya”(Al-Maidah: 54) dan dan Rasulullah SAW, bersabda dalam haditsnya: tatkala beriman seseorang hamba diantara kamu sebelum Allah SWT dan Rasul-Nya lebih dicintai olehnya dari pada keluarganya, harta bendanya dan seluruh isinya.
Cinta adalah fondasi pertama yang harus dibangun oleh seorang guru kepada murid-muridnya, dengan kesucian hati keduanya menghantarkan cinta kepada yang maha pencipta yang begitu sempurna dan indah segala ciptaan-Nya. Jika hal ini mampu menghadirkan ketulusan cinta, seperti yang disampaikan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq “ Barang siapa yang merasakan ketulusan cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan menyibukkannya dari mencari dunia dan membuatnya gelisah terhadap manusia.
Cinta butuh pengorbanan untuk saling memberikan yang terbaik satu sama lain, apa yang paling dicintai oleh dirinya maka itu yang terbaik yang diberikan untuk saudaranya. Kecenderungan hati berada dekat merasakan ketenangan dan kedamaian dalam hati, namun bila sebaliknya yang terjadi maka timbul kebencian dalam hati karena cinta yang tergores luka dengan kata-kata menyakitkan dan perilaku yang tidak menyenangkan.
Sentuhan hati melahirkan kecintaan dan kebahagiaan. Keistimewaan manusia itu adalah mempunyai kemampuan untuk menghiasi dirinya dengan sifat-sifat terpuji, sehingga dikatakan dalam sebuah hadits: “hiasilah akhlak kalian dengan akhlak Allah SWT.” Di dalam hati manusia terdapat sesuatu hakikat yang tidak dapat menerima selain Allah SWT semata, dalam kalbu/ hati manusia terdapat suatu naluri yang disebut dengan istilah cahaya ilahi, karena ada firman Allah SWT menyebutkan ”lalu apakah orang yang dibukakan hatinya oleh Allah SWT untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)? ( Az-Zumar: 22).
Hati inilah yang dapat menenangkan keindahan dengan sedikit sentuhan hati mampu menghantarkan cinta antara guru dan murid yang memiliki hati yang suci dan bersih mencari “NUR” atau cahaya ilmu yang menerangi jalan lurus, dengan hidayah dan petunjuk bimbingan dari Allah SWT. Semakin guru mengenal dirinya dan amanah yang harus guru lakukan maka, guru akan berusaha untuk menyatukan hatinya dengan hati muridnya hingga satu sama lain saling berkaitan dan menjalin kebermaknaan dalam setiap pembelajaran yang berlangsung. Cahaya akan masuk dalam relung hati dengan ketaatan dan ketaqwaan sebagai manusia yang beriman.


Tinggalkan Balasan