Oleh: Affan Dharmawan (Ketua Umum PK IMM FAI UHAMKA 2020/2021)

 Prolog

“Bantinglah otak untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya guna mencari rahasia besar yang terkandung di dalam benda besar bernama dunia ini, tetapi pasanglah pelita dalam hati sanubari, yaitu pelita kehidupan jiwa ”. ( Al- Ghazali )

Sebagaimana yang termaktub dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyatakan bahwa Pendidikan berasal dari kata dasar didik (mendidik), yakni memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian yaitu sebuah proses pembaharuan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan dan mematangkan pemikiran manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, serta cara mendidik. Pendidikan yang diartikan oleh Ki Hajar Dewantara adalah sebagai kekuatan upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Pendidikan memberikan dampak yang luar biasa bagi manusia, dapat menciptakan manusia yang berkualitas dalam hal kecerdasan pemikiran, kecerdasan emosional, dan kecerdasan sosial. Maka, pendidikan menjadi aspek yang harus benar-benar diperhatikan dalam kehidupan manusia. Terciptanya tatanan kehidupan yang mencerahkan dan berkemajuan salah satu faktor pendukungnya adalah berasal dari pendidikan. Sudah barang tentu pendidikan saat menjadi hal yang sangat dibutuhkan dan dikejar setinggi-tingginya oleh setiap insan manusia.

“Kader IMM Pejuang Pendidikan Berkemajuan”

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merupakan Organisasi Akademisi Islam yang notabene nya sebagai organisasi otonom dari Muhammadiyah terlahir pada tanggal 14 Maret 1964. Dengan melalui sebuah perjalanan yang panjang, sampai saat ini IMM masih terus bergerak dan senantiasa mendakwahkan amar ma`ruf nahi munkar di tengah Masyarakat dengan tanpa henti dan tanpa lelah.

IMM dihadapi oleh zaman yang menuntut setiap aktivisnya berpikir cerdas dan bekerja keras. Dengan gelar mahasiswanya, kader IMM tidak bisa tidak, dituntut mampu keluar dari kungkungan dunia kemahasiswaan yang biasa, serba normatif tanpa kreatifitas. Tak cukup di kelas, setiap kader IMM didorong untuk menyeimbangkan kualitasnya  dengan menghidupkan aktivitas di luar kelas.

Anggun dalam moral, unggul dalam intelektual, slogan yang gaung di gerakan kemahasiswaan pembaharu ini pun akhirnya justru menjadi cambuk bagi setiap aktivis IMM saat bersyiar di tengah masyarakat. Dalam hal ini, ternyata tanpa disadari, aktivis IMM seakan menjadi sorotan masyarakat di manapun ia berada. Nilai-nilai Tri Kompetensi Ikatan, religiusitas, intelektualitas, dan Humanitas. tampaknya harus benar-benar tercermin di dalam diri aktivis-aktivis IMM. Yakni, anggota IMM diharapkan mampu menampilkan sosok aktivis mahasiswa yang religius, intelek, dan humanis. Hal itu akan menjadi nilai dakwah dan daya tarik bagi masyarakat.

Kader-kader IMM yang terdiri dari sekelompok akademisi tentu sangat melekat dalam dirinya akan intelektualisme yang harus terus direfleksikan dan diaktualisasikan melalui pergerakan-pergerakan yang dapat dirasakan keberadaannya. Seorang intelektualis hendaknya dapat memberikan curahan ilmu pengetahuan yang dimilikinya untuk membawa orang-orang disekelilingnya terbebas dari belenggu kebodohan. Kebodohan harus menjadi salah satu musuh yang hendak dibasmi oleh para kader IMM dengan memasifkan gerakan intelektual melalui diskusi, pengajaran, ataupun berdakwah. Hal ini sejalan juga dengan penggalan semboyan IMM yaitu “Unggul dalam Intelektual”. Semboyan tersebut menandakan bahwa kader-kader IMM harus siap untuk mengamalkan segala ilmu dan keterampilan yang dimilikinya sebagai wujud pengabdian diri membawa kebermanfaatan bagi manusia lainnya.

Tidak dapat dihindari, problematika pendidikan saat ini terus menerus bergejolak didunia ini. Yang menjadi sorotan saat ini adalah akses pendidikan baik dari fasilitas ataupun SDM tenaga kependidikan adalah hal yang penting untuk segera dientaskan. Berada di tengah pergejolakan tersebut, kader IMM hendaknya dapat hadir dengan memberikan solusi-solusi pencerahan sehingga hadirnya IMM dapat memberi kesan yang indah bagi masyarakat sekitar. Untuk mengentaskan fasilitas pendidikan yang kurang, perjuangan IMM bisa diwujudkan dengan spirit teologi “Al-Ma`un” yakni melakukan pemberdayaan masyarakat dan bergotong royong mengajak mengumpulkan dana untuk membangun fasilitas pendidikan. Secara sederhana, kader IMM juga dapat memanfaatkan lahan kosong disekitar lingkungan yang ada dengan mengupgradenya menjadi sebuah pojok bacaan ataupun perpustakaan kecil-kecilan atau sebagainya. Hal demikian mampu menjadikan wadah pendidikan bagi orang-orang sekitar dan dirasakan manfaatnya hingga bertahun-tahun kedepan. Dengan tenaga dan spirit yang masih menggelora dalam setiap kader IMM, harus dimanifestasikan secara baik dengan menjadi agen-agen relawan pendidikan melalui lembaga pendidikan sekitar ataupun terjun berdakwah menjadi pencerah Agama bagi warga sekitar. Menjadi sebuah kebanggaan besar juga apabila ada kader-kader IMM yang hadir menjadi guru-guru bagi masyarakat dengan memberikan pencerahan keilmuan sehingga bisa menjadi amal kebaikan yang terus mengalir bagi pribadi kader ataupun ikatan.

Menginjak di usia ke 57 tahun IMM saat ini, dari sepenggal tema yang ada “Membumikan Gagasan” memberikan cerminan bahwa IMM sadar akan pentingnya pendidikan. Pendidikan yang akan melahirkan kader-kader yang kritis dan intelektualis. Mari kita refleksikan bersama bahwa kesadaran belajar dengan meningkatkan literasi adalah hal yang terus tertanam dan dirawat dalam diri setiap kader. Dengan perbekalan keilmuan yang dimiliki kader IMM akan memberikan dampak besar dalam memajukan pendidikan di dunia ini. Sumbangsih kader IMM dalam mengembangkan pendidikan harus diimplementasikan dengan baik dan tepat sasaran. Buku-buku yang dituliskan oleh para kader berintelektual harus dirawat dengan baik dan terus ditambah keberadaannya bahkan diperluas pembasahannya dengan mencangkup berbagai disiplin ilmu yang sangat kaya. Kader-kader imm harus siap menjadi pencerah ditengah masyarakat, melepaskan belenggu kebodohan yang ada, dan membawa kemajuan masyarakat di lingkungannya.

Stay connect With Us :