Hukum

Hukum, Ego dan Akal Budi

2
Dr. Fokky Fuad Wasitaatmadja (Dosen Program Magister Hukum Universitas Al Azhar Indonesia) 

Oleh: Dr. Fokky Fuad Wasitaatmadja (Dosen Program Magister Hukum Universitas Al Azhar Indonesia)

Hukum dalam Kerja Akal yang Relatif

Advertisement

PEDULRAKYAT.CO.ID — Manusia dalam proses mengendalikan dirinya, hakikatnya bukanlah budak, melainkan menjadi makhluk yang memiliki kebebasan kreatif. Kebebasan kreatif ini menuntun manusia untuk bertindak dan berbuat yang terbaik yang dapat ia berikan kepada sesama. Dengan kebebasan untuk berbuat yang terbaik terhadap sesamanya, maka hakikat manusia dituntut selalu berbuat demi dan atas nama kebenaran dan kebaikan manusia.

Hukum menjadi sebuah sarana untuk mengikat, sekaligus membebaskan manusia. Ia berupaya mengikat ego dalam jiwa manusia. Hukum mengendalikan ego manusia agar manusia selalu berjalan dalam Cahaya Allah, bukan melangkah dalam kegelapan. Pada saat yang bersamaan hukum juga harus mampu membebaskan manusia dari ketertundukan dan keterikatan atas perbudakan. Manusia bukan budak dalam bentuk apapun, budak materialisme, budak kekuasaan, hingga budak kapitalisme. Manusia sejatinya hanyalah budak Tuhan.

Manusia terus dituntut untuk memperbarui dirinya, ia secara optimum mendayagunakan segenap kemampuannya untuk melakukan segala hal yang terbaik. Rasionalitas akal digunakan untuk mencari ragam jawaban baru atas banyaknya pertanyaan yang muncul dihadapannya. Pancaindera menjadi sebuah metode empiris untuk mengenal dan memahami gerak objek ciptaan Allah. Disinilah kedua kekuatan ini menyatu menjalin sebuah upaya kreatif menemukan ragam jawaban atas beragam pertanyaan.

Rasionalisasi terhadap segenap gerak objek menjadikan hukum juga harus mampu mengikuti gerak rasionalitas akal. Hukum dikembangkan dan diciptakan dalam bentuk yang rasional, ia menghadirkan segenap system kerja hingga pembuktian yang rasional. Hukum bekerja sesuai pandangan empirisme pancaindera dan rasionalitas akal manusia. Disnilah hukum berubah dari pemahaman sebelumnya sebagai sarana kegaiban menjadi sebuah sarana pendukung sistem kerja rasionalitas manusia.

Akal walaupun berada dalam keterbatasan ruang dan waktu tetap terus mempertajam dirinya, membentuk konsep-konsep baru, menemukan kebenaran baru. Ia bekerja sesuai hukum-hukum akal, bahwa ia harus mampu membelah dan mencairkan pertanyaan-pertanyaan epistemologis manusia modern. Kini ia bekerja nyaris tanpa henti untuk memberikan jawaban yang memuaskan nalar manusia. Penderitaan, kekejaman perang, penyakit, kemiskinan hingga ketidakadilan menjadi objek yang terus dicari jalan pemecahan melalui rasionalitas akal manusia.

Jawaban yang ada selama ini tidak pernah mampu memuaskan nalar rasionalitas akal manusia, dan hukum akal menuntut kerja manusia tetap terus mencari jawaban baru. Keraguan menjadi sebuah alat bagi akal untuk terus menguji segala hal. Keraguan dalam ketidakpastian yang terjadi menjadi pintu masuk bagi akal untuk terus bergerak menemukan segala yang baru. Kini kita mencoba kembali menanyakan sejauhmanakah kita mendayagunakan komponen akal sehat kita untuk menemukan kebahagiaan dari datangnya beragam penderitaan bagi umat manusia?

Hukum sejatinya bergerak untuk menghadirkan kebahagiaan melalui hadirnya nilai kemanusiaan dan menghindarkan penderitaan, bukan menciptakan tatanan dunia yang tidak adil.  Bagaimanakah hukum mampu menahan ego manusia untuk saling menindas dan menciptakan peperangan dan penderitaan? Ataukah hukum justeru memberikan sarana bagi terciptanya kepentingan ego manusia? Hukum memberikan ruang yang cukup luas bagi terciptanya dekonstruksi atas nilai-nilai kemanusiaan? Lalu dimanakah akal budi manusia kini berada?

Manusia selaku subjek hukum yang berkehendak, ia memiliki komponen akal budi untuk menentukan kebenaran yang ia kehendaki. Selaku subjek hukum seyogyanya ia melihat ke dalam dirinya, memperluas pemahaman atas dirinya dan lingkungannya, dan dengan apa manusia mampu memperbaiki diri dan lingkungannya? Apa yang baru dan dianggap sebagai hal yang baik seyogyanya akan digunakan untuk memperbaiki dirinya, dan lingkungan hidupnya.

Akal budi subjek hukum seyogyanya berupaya untuk terus mencari sesuatu yang baru, ia bergerak secara dinamis dalam keterbatasan ruang dan waktu untuk selalu memperbaiki kehidupan manusia. Ia bukan sekedar nalar logika melainkan sebuah proses kerja akal yang digerakkan oleh nilai kebaikan dan keluhuran. Hukum sejatinya menjadi sarana bagi subjek hukum untuk mencipta ragam nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan, dan bukan mencipta penderitaan bagi manusia melalui diksi yang ia hadirkan.

Rasionalitas dan Akal Budi

Manusia mencoba untuk memahami apa yang terjadi di sekelilingnya, rupanya begitu banyak rahasia alam yang tak terjawab oleh system kerja akal. Begitu banyak pertanyaan yang diajukan, tetapi begitu sedikit jawaban yang dapat dihadirkan untuk memuaskan manusia. Hukum yang hadir dengan merasionalisasi dirinya berupaya pula untuk menghadirkan apa yang dikehendaki oleh manusia: keadilan, kepastian hukum, juga kegunaan. Keadilan merupakan cahaya Tuhan, ia dikejar, dan diburu oleh jutaan manusia. Keadilan menjadi dambaan, tetapi kita perlu mempertanyakan keadilan dalam rasionalitas akal manusia.

Keadilan hukum yang hendak dihadirkan hakikatnya bukanlah objek materi, ia bekerja dalam rasa manusia. Keadilan bukan sosok materi layaknya hukum yang dengan mudah dapat dirasionalisasikan dengan beragam peraturan hukum hingga putusan pengadilan. Empirisme panca indera juga tidak mampu menatap sosok keadilan yang hadir, karena ia bukanlah objek fisik, melainkan nilai imateri yang bersemayam dalam rasa nurani manusia. Maka kini kita perlu melihat ke dalam diri kita, akankah kita mengabaikan apa yang ada dalam nurani sebagai bentuk kerja akal budi?

Keadilan tidak dapat disandarkan semata pada kerja rasionalitas akal, karena rasionalitas akal begitu sulit menampung nurani keadilan. Rasionalitas begitu kecil untuk dapat menampung besarnya gagasan etik keadilan. Maka akal perlu ditopang oleh budi, akal yang berupaya terus untuk menampung nilai kebaikan dan keagungan yang ada dalam gagasan keadilan. Disinilah kecerdasan manusia tidak saja berbicara tentang aras logika, melainkan pula mampu menghadirkan apa yang mengandung nilai kebaikan untuk kemanusiaan.

Epistemologi Ilmu Hukum yang cenderung mengutamakan nalar logika selayaknya perlu mendapatkan penguatan lebih dalam dengan menghadirkan gerak akal budi. Bahwa akal budi tidak saja berbicara tentang apa yang benar tetapi juga apa yang baik, mengingat kebenaran selalu memiliki banyak sisi yang berbeda sesuai dengan sudut pandangnya. Ilmu Hukum harus mampu menyentuh nurani dan masuk ke dalam gagasan rasa dan nurani manusia. Bahwa bukan sekedar menghadirkan sistem kecerdasan nalar rasional, melainkan juga sisi ruhaniyah terdalam. Bahwa kita harus menyadari adanya sisi manusia yang tidak dapat ditampung oleh rasionalitas akal, bahwa manusia adalah tubuh berjiwa yang mampu merasa, yang dengan rasa itu ia mampu menerima cahaya keadilan Tuhan.(*)

2 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here