Oleh: Nurul Muhlisa (Mahasiswa Fakultas Kehutanan Unhas Angkatan 2019 Juga Sekretaris Umum IMM PK Peternakan Kelautan dan Perikanan Unhas Periode 2022-2023).
PEDULIRAKYAT.CO.ID — Organisasi dan kader miliki hubungan layaknya seorang ibu kandung dan anak kandung yang memiliki ikatan bathiniah yang kuat dan sah dalam sebuah tanah air manusia sebagai makhluk yang berpikir (Homo sapiens). Organisasi merupakan ibu dari benih-benih kader yang hendak lahir dan bertumbuh. Organisasi merupakan ibu yang melahir serta menyusui anaknya, dan terus membina perkembangan anaknya menjadi ranting-ranting kader yang berkualitas, serta mendewasakan anaknya menjadi kader yang otonom dan mandiri.
Sebagai ibu yang mendewasakan kader, Organisasi tidak akan pernah mengikat atau membelenggu kader di dalam pagarnya. Organisasi terus mendorong kemandirian kader-kadernya sehingga kader-kadernya mampu mengembangkan pemikiran serta metode-metode yang khas dalam percaturan keilmuan secara global. Kira-kira seperti itulah filosofi hubungan antara organisasi dan kader menurutku.
Dengan demikian, maka penting dalam sebuah organisasi itu proses kaderisasi. Jika dikaitkan kembali dengan Organisasi sebagai sosok ibu, maka kader adalah buah hati dari suatu organisasi tanpa adanya kaderisasi rasanya sulit dibayangkan suatu organisasi mampu bergerak maju dan dinamis. Hal ini karena kaderisasilah yang menciptakan embrio-embrio baru yang nantinya akan memegang tongkat estafet perjuangan organisasi.
Oleh karena itu, Kaderisasi merupakan suatu kebutuhan internal yang dilakukan demi kelangsungan dan kelancaran organisasi. Tolak ukur yang menjadi sukses atau tidaknya sebuah organisasi dapat diukur dari kesuksesan dalam proses kaderisasi internal yang dikembangkannya. Karena wujud dari keberlanjutan organisasi adalah munculnya kader-kader yang memiliki kapabilitas dan komitmen terhadap dinamika organisasi untuk masa depan.
Kita sebagai kader yang sudah memilih untuk berorganisasi dan organisasi tersebut menjadi fokus perjuangan kita, maka fokuslah! Militanlah! Besarkan nama dan kiprah organisasi itu, dan jangan hanya memikirkan kepentingan pribadi saja. Karena seiring dengan besarnya nama organisasi, maka nama kitapun akan ikut besar dengan sendirinya. Dan perjuangan itu tentu menuntut loyalitas dan komitmen.
Seperti adagium yang dikeluarkan oleh seorang tokoh inspiratif Kiai Ahmad Dahlan yang juga menjadi inspirasi penulis dalam berorganisasi, beliau mengatakan ;
“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah”.
Itu artinya setiap kader harus punya etos kehidupan dalam berorganisasi sehingga dia tidak hanya menjadi tangan di bawah, tetapi harus menjadi tangan di atas. Kemudian persoalan militansi dalam berorganisasi harus berdasar pada kemurnian hati, dimana letak militansi itu ? letaknya ada di jiwa, di hati. Yang kemudian mempengaruhi pikiran kita.
Seperti filosofi di atas, bahwasanya organisasi merupakan ibu dan kader adalah anaknya, maka tidak sepantasnya anak meninggalkan ibu ketika sudah subur untuk bertumbuh, berkembang, bahkan berbuah. Jikalau ketika menjadi bibit-bibit kader, ibu yang melahir, menyusui, membina, serta mendewasakan hingga anaknya menjadi kader yang berkualitas dan berkapabiltas.
Maka ketika, anak tersebut sudah dewasa menjadi suatu kewajibannya untuk memberikan buah kebermanfaatan dari bibit yang dulu selalu disirami oleh banyak harapan dari ibu nya. Begitupun seorang kader, jika seorang kader sudah tumbuh subur dalam organisasi, maka sudah seharusnya dia memberikan feedback kebermanfaatan untuk organisasi tersebut.


Tinggalkan Balasan