Oleh: Nur Ratna Sari (Mahasiswa STAI DDI SIDRAP Priodi Pendidikan Agama Islam)

1. AG. KH. Abdul Rahman Ambo Dalle

• Asal-usul

Ambo Dalle dilahirkan dari keluarga bangsawan di Kabupaten Wajo pada sekitar tahun 1900. Ayahnya bernama Andi Ngati Daeng Patobo dan ibunya adalah Andi Candara Dewi. Nama Ambo Dalle yang diberikan oleh kedua orang tuanya memiliki makna “bapak yang punya banyak rezeki”. Oleh masyarakat Bugis, ia dipanggil Gurutta Ambo Dalle. Secara harfiah, Gurutta berarti mahaguru, yang merupakan gelar kehormatan bagi kaum ulama di Sulawesi Selatan.

Sedangkan nama Abdurrahman Ambo Dalle diberikan oleh seorang ulama bernama K.H. Muhammad Ishak, karena ia sudah dapat menghapal Alquran di usia tujuh tahun. Terlahir sebagai anak tunggal, sejak kecil ia dilatih untuk mandiri dan disiplin, terutama dalam hal agamanya.

• Pendidikan

Sewaktu kecil, Ambo Dalle bersekolah di Volk School atau Sekolah Rakyat pada pagi hari. Kemudian di sore harinya, ia pergi belajar mengaji. Ambo Dalle memelajari ilmu agama dengan metode sorogan, yaitu sistem duduk bersila, di mana guru menjelaskan dan para murid mendengarkan. Selain memelajari ilmu Alquran seperti tajwid, hadis, tafsir, nahwu, sharaf, dan fikih, ia juga mengikuti kursus bahasa Belanda.

• Menjadi pimpinan madrasah

Sejak menjabat sebagai asisten, Ambo Dalle mulai menjajaki karier mengajar dan terus menekuni dunia pendidikan Islam. Pada 1935, ia pergi ke Tanah Suci Mekah dalam rangka menunaikan ibadah haji dan menetap di sana selama beberapa bulan untuk mendalami ilmu agamanya. Sejak saat itu, Ambo Dalle semakin intens bergerak di bidang keagamaan. Sementara itu, Muhammad As’ad meningkatkan sistem sorogan menjadi madrasah. Maka dibukalah pendidikan awaliyah (TK), ibtidaiyah (SD), dan tsanawiyah (SMP), yang diberi nama Madrasah Arabiyah Islamiyah atau yang disingkat menjadi MAI Sengkang, pada 1938.

Salah satu tokoh yang tertarik pada pendidikan MAI Sengkang adalah HM Yusuf Andi Dagong, Kepala Swapraja Soppeng Riaja. Oleh sebab itu, Dagong pun memutuskan membuka MAI Mangkoso yang kepemimpinannya diserahkan kepada Ambo Dalle. Di bawah pimpinannya, pertumbuhan dan perkembangan MAI Mangkoso sangat pesat, hingga akhirnya dibuka cabang di berbagai daerah. Ambo Dalle juga berusaha membenahi sistem pendidikan, karena baginya selain bertempur melawan penjajah menggunakan senjata, salah satu penyebab Indonesia masih terikat dengan kolonialisme adalah kebodohan.

• Wafat di Makassar di makamkan di Mangkoso

Karena usianya yang kian sepuh, Gurutta beberapa kali jatuh sakit. Suatu hari, tanggal 8 November 1996, karena sakitnya dianggap parah, Gurutta Ambo Dalle dirawat secara khusus di ruang Intensif Care Unit (ICU) Rumah Sakit Akademis Ujung Pandang.

Para dokter ahli yang memeriksa dan merawat mengatakan bahwa ulama besar itu dalam keadaan yang “sehat-sehat” saja karena tidak menemukan penyakit yang serius. Kesimpulan para ahli medis itu sekaligus mengisyaratkan bahwa Gurutta mengidap “penyakit tua”. Usianya memang telah uzur. Tuhan memberinya keistimewaan untuk melalui masa akhir hayat dengan tenang.

Rupanya, sakit Gurutta itulah sakit yang terakhir. Setelah beberapa hari menjalani perawatan, pada hari Jum’at tanggal 29 November 1996, saat kaum muslimin sedang melaksanakan Salat Jumat, Anregurutta Abdurrahman Ambo Dalle menghembuskan nafas terakhir,

Esoknya, hari Sabtu tanggal 30 November 1996, sesuai wasiatnya semasa hidup, Gurutta dimakamkan di halaman depan Masjid Mangkoso, berdampingan dengan Gurutta HM Amberi Said dan Petta Soppeng. Sebelumnya, jenazah disemayamkan di rumah Gurutta di Ujung Baru Parepare.

2. KH Muhammad Abduh Pabbaja

Syeikh Muhammad As’ad biasa juga disebut Kiai Haji Muhammad As’ad, tetapi di Sengkang-Wajo orang menyapanya Anre Gurutta Puang Haji Sade’.1 Lahir di Mekah, Arab Saudi pada tahun 1907 Masehi dan meninggal dunia pada hari Senin, 12 Rabiul Akhir 1372 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 29 Desember 1952 Masehi di Kota Sengkang, Ibukota Kabupaten Wajo propinsi Sulawesi Selatan. Ayahnya adalah seorang ulama bernama Kiai Haji Abdul Rasyid, sedang ibunya bernama Sitti Shalehah, juga putri seorang ulama bernama Guru Terru.2 Dengan demikian, Syeikh Muhammad As’ad dari segi geneologisnya tampaknya ia memang berdarah ulama.

Syeikh Muhammad As’ad adalah anak kedelapan dari sembilan bersaudara. Nama-nama mereka bersaudara dapat disebutkan, yaitu: Sitti Syamsiyah, Sitti Aisyah, Muhammad Said, Sitti Abbasiyah, Sitti Zen I, Muhammad As’ad I, Sitti Zen II, Muhammad As’ad II, dan Muhammad Sa’ad. Kelihatannya Muhammad As’ad II yang disebut kedua terakhir yang menjadi objek pembicaraan di sini, sebab saudaranya yang bernama Muhammad As’ad I meninggal dunia sewaktu masih kecil, sebagaimana halnya Sitti Zen I.

Sekitar 1928, Gurutta kembali ke tanah leluhurnya, lantaran banyaknya permintaan dari jemaah haji asal Wajo yang memintanya ke Wajo,” kata Wakil Ketua Umum PP As’adiyah, KH Muhyiddin Tahir.

Usianya 21 tahun saat menginjakkan kaki di tanah leluhurnya. Pada saat itu, di kediamannya di sebelah barat Masjid Jami (cikal bakal Ponpes As’adiyah), Muhammad As’ad mengadakan halaqah rutin.

Dua tahun berselang, yakni Mei 1930 halaqah dipindah di Masjid Jami’ dan KH Muhammad As’ad resmi membuat sebuah lembaga pendidikan bernama Madrasah Arabiyah Islamiyah (MIA).

Murid-murid awalnya, yakni Muhammad Daud Ismail, Muhammad Yunus Martan, serta Abdurrahman Ambo Dalle, adalah ulama-ulama kesohor di Sulawesi Selatan. Dua nama awal kelak melanjutkan estafet kepemimpinan di pesantren, sementara nama terakhir adalah pendiri Ponpes DDI Magkoso di Kabupaten Barru.

KH Muhammad As’ad, atau yang lebih dikenal Gurutta Puang Haji Sade, wafat lada Senin 12 Rabiul Akhir 1372 H atau 29 Desember 1952.

3. Anregurutta Haji (AGH) Daud Ismail

• Kelahiran

Anregurutta Haji (AGH) Daud Ismail atau yang kerap disapa dengan panggilan Gurutta lahir pada tahun 1907 M di Cenrana Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Beliau merupakan putra dari dari pasangan H. Ismail dan Hj. Pompola.

• Wafat

Anregurutta Daud Ismail menghadap ke hadirat Allah SWT dalam usia 99 tahun pada Senin 21 Agustus 2006 sekitar pukul 20.00 WITA, setelah sempat dirawat selama tiga pekan, di Rumah Sakit Hikmah, Makassar. Anregurutta Daud Ismail masih menjabat sebagai Kadhi di Kabupaten Soppeng. Selain itu amanah yang masih disandangnya adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Soppeng tahun 1993-2005.

• Gelar anregurutta

Dalam tradisi masyarakat Bugis, gelar Anregurutta dapat diibaratkan sebagai professor di dunia kademik. Jika orang luar Sulawesi Selatan mendengar seseorang warga yang menyebutkan Anregurutta kepada seorang tokoh, tentu sang tokoh tersebut termasuk kategori ulama yang disegani. Anregurutta menempati status sosialnya yang tinggi dan kedudukan terhormat di mata masyarakat Bugis.

Pemberian gelar Anregurutta bukanlah pemberian gelar akedemik, melainkan pengakuan yang timbul dari masyarakat, atas ketinggian ilmu, pengabdian dan jasanya dalam dakwah keislaman. Tidak semua yang mengajar agama dipanggil sebagai Anregurutta, tergantung dari tingkat keilmuannya. Selain itu, masyarakat Bugis juga meyakini adanya kelebihan Anregurutta berupa karomah, dalam bahasa Bugis disebut makarama.

• Pendidikan

Daud Ismail mengawali pendidikannya dari kolong rumah. Di sana Gurutta mulai belajar mengaji Al-Qur’an pada orang tua kandungnya.

Selain itu, Gurutta kecil, lebih banyak belajar sendiri untuk mengenal aksara Lontara dan Latin. Kendati demikian, beliau juga pernah menimba ilmu pada banyak guru, baik di Soppeng (Kabupaten Soppeng) maupun di Soppeng Riaja (Kabupaten Barru), Sulawesi Selatan.

Antara tahun 1925 – 1929 Daud Ismail juga belajar kitab qawaid di Lapasu Soppeng Riaja, sekitar 10 KM dari Mangkoso, 40 KM dari Kota Pare Pare. Di sana Daud Ismail belajar pada seorang ulama yang bernama Haji Daeng. Pada masa itu pula Daud Ismail belajar kepada Qadhi Soppeng Riaja, H, Kitab.

Setelah Anregurutta H. Muhammad As’ad kembali dari Tanah Suci dan mendirikan Pesantren Bugis di Sengkang pada tahun 1927 yang bernama Al-Madrasatul Arabiyah Al-Islamiyah (MAI), maka pada tahun 1930 Daud Ismail kembali ke Sengkang untuk belajar kepada Anregurutta H. M. As’ad dan termasuk santri angkatan II, setelah Anregurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle.

4. Prof. Dr. KH. Ali Yafie

• Lahir

Prof. Dr. KH. Ali Yafie dilahirkan di Donggala, Sulawesi Tengah pada 1 September 1926 atau 23 Safar 1345. Pada bulan ketika Ali Yafie dilahirkan itu, muktamar NU pertama diselenggarakan. Beliau adalah anak ketiga dari lima bersaudara (empat saudaranya yang sudah meninggal: As’ad, Muzainah, Manarussana, dan Amira). Ayahnya bernama Syekh Muhammad al-Yafie dan ibunya bernama Imacayya, putri raja dari salah satu kerajaan di Tanete di pesisir barat Sulawesi Selatan. Seturut penuturan Helmi Aly, putra Ali Yafie, Imacayya meninggal saat Ali Yafie berumur 10 tahun. Ayahnya menikah lagi dengan Tanawali. Pasangan ini diberi empat keturunan: Muhsanah, Husain, Khadijah, dan yang masih hidup bungsunya, Idris. Muhammad Al-Yafie meninggal pada awal 1950-an.

• Riwayat Keluarga

Sejak usia 19 tahun, Prof. Dr. KH. Ali Yafie melepas masa lajangnya dengan menikahi Hj. Aisyah, masih berusia 16 tahun. Kendati menikah muda, mereka mengarungi bahtera mahligai rumah tangga dengan bahagia. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai empat anak, Helmi Ali, Saifuddin Ali, Azmi Ali, dan Badrudtamam Ali.

• Mengembara Menuntut Ilmu

Prof. Dr. KH. Ali Yafie berasal dari keluarga yang taat menjalankan ajaran agama Islam. Sejak kecil beliau sudah berkecimpung di dunia pesantren. Ayahnya KH. Mohammad Yafie, seorang pendidik, sudah mendidiknya soal keagamaan dengan memasukkannya ke pesantren.

Sang ayah mendorongnya menuntut berbagai ilmu pengetahauan, terutama ilmu pengetahuan agama sebanyak-banyaknya dari para ulama, termasuk ulama besar Syekh Muhammad Firdaus, yang berasal dari Hijaz, Makkah, Saudi Arabia.

Didikan orang tuanya untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya tertanam terus sejak kecil hingga kemudian diteruskan dalam mendidik putra-putranya dan santri-santrinya di Pondok Pesantren Darul Dakwah Al-Irsyad.

• Guru-Guru Beliau

Prof. Dr. KH. Ali Yafie belajar ke beberapa kiai yang terkenal. Guru-guru beliau diantaranya:

a. Syekh Ali Mathar (Rappang)

b. Syekh Haji Ibrahim (Sidraf)

c. Syekh Mahmud Abdul Jawad (Bone)

d. Syekh As’ad Singkang

e. Syekh Ahmad Bone (Ujung Pandang)

f. Syekh Abdurrahman Firdaus (Jampue Pinrang)

g. Syekh Muhammad Firdaus

5. AGH. Abd. Muin Yusuf

AGH. Abd. Muin Yusuf yang populer disapa Kali Sidenreng, lahir di Rappang, 21 Mei 1920 dari pasangan Muhammad Yusuf asal Pammana Wajo dan Ibunya bernama Hatijah asal Rappang. Gurutta Kali Sidenreng adalah anak ketiga dari 10 bersaudara, dan memiliki 9 orang anak.

Ketika memasuki usia 7 tahun Gurutta mulai belajar mengaji kepada salah seorang guru mengaji kampung (Kyai Kampung), bernama H. Patang. Kemudian masuk lagi sekolah umum di Insladsche School (sekolah pagi). Ketika sore, ia belajar agama di sekolah Ainur Rafieq.

Lahir dari keluarga agamawan, bangsawan dan pedagang membuatnya terus dimotovasi untuk belajar ilmu agama oleh keluarga dekatnya. Sebab secara finansial, kedua orang tua Gurutta cukup mapan. Karenanya, ia terus didorong untuk memperdalam ilmu agama.

Salah seorang yang berperan penting memotivasi Gurutta adalah, Puang Ngakka, sang nenek dari jalur ibu. Puang Ngakka sejak lama melihat tanda-tanda bila kemanakannya akan menjadi “panrita”. Karena itu, Puang Ngakka rela menjual tanahnya untuk membiayai pendidikan Gurutta di Makkah kelak.

Begitupula dengan sang paman, yang juga seorang ulama termashur, yakni Syeikh Ali Mathar (kakek, Prof. Dr. Quraish Syihab). Syeikh Ali Mathar melihat pula tanda-tanda bila kemanakannya kelak akan menjadi ulama besar. Keyakinan sang paman kian bertambah saat ia kedatangan kolega dari Madinah yang bernama Syeikh Abdul Jawad. Kepada Syekh Ali Mathar, Syeikh Abdul Jawad berpesan agar kemanakannya (Gurutta) dijaga dengan baik lantaran ia melihat adanya tanda-tanda pada diri Gurutta kelak akan menjadi seorang ulama besar di kemudian hari.

Pulang berhaji dan menuntut ilmu di Makkah, Gurutta kemudian belajar secara informal kepada seorang ulama tasawuf, Syeikh Ahmad Jamaluddin yang lebih dikenal sebagai Syeikh Jamal Padaelo. Dari sinilah Gurutta semakin mendalami ilmu ma’rifat. Gurutta kemudian kelak yang menggantikan Syeikh Jamal Padaelo menjadi Kadhi di Wilayah Sidenreng Rappang. Dan kelak pula, Gurutta mempersunting puteri Syeikh Jamal Padaelo yakni, Hj. Baderiah Binti Syeikh Ahmad Jamaluddin.

Ditahun 1934, Gurutta melanjutkan pengembaraan ilmunya di Sengkang pada dibawah bimbingan Almukarram AGH. Muhammad As’ad al Bugis. Disana, Gurutta berjumpa dengan sejumlah santri yang kelak menjadi ulama besar pula, sebutlah diantaranya; AGH. Abd. Rahman Ambo Dalle, AGH. Junaid Sulaiman, AGH. Daud Ismail, AGH. Abduh Pabbajah, AGH. M. Yunus Maratang, dll.

Perjalanan dinamika intelektual Gurutta yang cukup panjang itu membuatnya dikenal sebagai “Kali Sidenreng” (Qadi). Sebab keluasan dan kedalaman ilmu agamanya sungguh tak diragukan. Ia adalah pakar fiqhi dan tafsir sehingga diberi gelar “Kali” (Qadhi – Arab). Tak salah bila ia termasuk salah satu anggota Tim Penyusunan Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang kini dipakai Hukum Acara di seluruh Pengadilan Agama se-Indonesia itu.

Pada awal 1974 Gurutta membangun PPUW di kampung (sekarang kelurahan) Benteng, kecamatan Baranti, kabupaten Sidrap. Pondok itu ia bangun bersama warga sekitar.

6. Kiai Haji Muhammad As’ad

Syeikh Muhammad As’ad biasa juga disebut Kiai Haji Muhammad As’ad, tetapi di Sengkang-Wajo orang menyapanya Anre Gurutta Puang Haji Sade’. Lahir di Mekah, Arab Saudi pada tahun 1907 Masehi dan meninggal dunia pada hari Senin, 12 Rabiul Akhir 1372 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 29 Desember 1952 Masehi di Kota Sengkang, Ibukota Kabupaten Wajo propinsi Sulawesi Selatan. Ayahnya adalah seorang ulama bernama Kiai Haji Abdul Rasyid, sedang ibunya bernama Sitti Shalehah, juga putri seorang ulama bernama Guru Terru. Dengan demikian, Syeikh Muhammad As’ad dari segi geneologisnya tampaknya ia memang berdarah ulama.

Syeikh Muhammad As’ad adalah anak kedelapan dari sembilan bersaudara. Nama-nama mereka bersaudara dapat disebutkan, yaitu: Sitti Syamsiyah, Sitti Aisyah, Muhammad Said, Sitti Abbasiyah, Sitti Zen I, Muhammad As’ad I, Sitti Zen II, Muhammad As’ad II, dan Muhammad Sa’ad. Kelihatannya Muhammad As’ad II yang disebut kedua terakhir yang menjadi objek pembicaraan di sini, sebab saudaranya yang bernama Muhammad As’ad I meninggal dunia sewaktu masih kecil, sebagaimana halnya Sitti Zen I.

Selain belajar pada Madrasah al-Falah, ia juga aktif mengikuti pengajian-pengajian dari ulama-ulama besar yang memberikan pelajaran di Masjidil Haram. Ia termasuk orang yang cerdas dan memiliki otak yang tajam. Bukti ketajaman otaknya ditunjukkan oleh kemampuannya menghafal al-Qur’an sejak masih berusia 14 tahun di bawah bimbingan ayahnya sendiri. Selain itu, beberapa orang gurunya, yaitu: Syeikh Umar Hamdani, Syeikh Said al-Yamani, Syeikh Hasyim Nadhirin, Syeikh Jamal al-Malikiy, Syeikh Hasan Yamani, Syeikh Hasan Abdul Jabbar, Syeikh Ambo Wellang al-Bugisiy, dan pada salah seorang ulama besar di Madinah yang bernama Sayid Ahmad Syarif al-Sanusi.

Sebagai seorang ulama yang bergerak di bidang pendidikan Islam, Syeikh Muhammad As’ad mempunyai sejumlah murid yang kemudian juga menjadi ulama kenamaan dalam abad ke-20 M, di Sulawesi Selatan. Di antara murid-muridnya yang sangat terkenal, yaitu: K.H. Abd. Rahman Ambo Dalle, K.H. Daud Ismail, K.H. M. Yunus Maratan, dan sejumlah ulama lainnya. Muridnya yang disebut pertama adalah pendiri Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI) pada tahun 1947 M, sedang kedua orang muridnya yang disebut terakhir turut membina dan mengembangkan Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) yang telah didirikan pada tahun 1929 M.

7. KH Junaid Sulaeman

Anregurutta Junaid Sulaeman atau KH Junaid Sulaeman (dikenal sebagai Pung Aji Junaide atau Gurutta Junaide), lahir dengan nama Muhammad Junaid di Watampone, Bone 1921 – meninggal di Makassar 1996) adalah seorang ulama besar, penyair arab; aktifis pendidikan dan sosial. Ia pernah menjadi ketua MUI daerah Bone dan ketua MUI Sulawesi Selatan. Ia juga pernah menjadi anggota DPR/MPR RI. Tidak kurang dari tiga dekade, Gurutta menjadi Imam Masjid Raya Watampone.

Gurutta mendirikan Yayasan Syiar Islam (YASLAM), Panti Asuhan Zubaidi, dan Pesantren Ma’had Hadits Biru.

Gurutta menulis catatan harian terpanjang (37 volume) dalam bahasa Arab dan ditulis dalam jangka waktu terlama, empat puluh tahun (1956-96). Magnum opus itu berisi puisi Arab klasik (rajaz), wirid, catatan aktivitas dan perjalanan, foto, dan guntingan berita berbahasa Indonesia maupun berita berbahasa Arab. Terdapat sedikit catatan dalam aksara Bugis dan Indonesia.

Profesor Najmuddin AS menaksir puisi Gurutta mencapai enam puluh ribu (60.000) bait.

Gurutta terjatuh pada rakaat kedua Subuh di Masjid Raya Watampone, dilarikan ke RS Faisal Makassar, dan wafat pada 1996. Gurutta dimakamkan di Watampone. Namanya kemudian diabadikan untuk Ma’had Hadits; menjadi Pesantren Al-Junaidiyah.

• Pendidikan dan Karir Mengajar

Menerima pendidikan di rumah dan di Ma’had Nurul ‘Ilmi Watampone yang disupervisi ayahnya Anregurutta Sulaeman, kadi Kerajaan Bone. Menghafal Alfiyyah Ibni Malik dan menghafal kitab suci Al-Qur’an. Pada usia 15 tahun dikirim ke tanah suci Makkah Al-Mukarramah untuk melanjutkan pendidikannya di Al-Madrasah Al-Shaulatiyah. Di antara gurunya ialah Syeikh Hasan Al-Massyath.

Selanjutnya diangkat sebagai pengajar di Shaulatiyah dan pengajar penghafalan Al-Qur’an (tahfidz) di Masjidil Haram. Di antara muridnya ialah Ahmad Zaky Yamani, menteri perminyakan Arab Saudi masa Raja Faisal. Setelah bermukim selama 13 tahun di tanah suci, ia dipanggil ayahnya kembali. Ia pun mengajar pada Madrasah Amiriyah Watampone Bone, IAIN Filial Watampone, dan Masjid Raya Watampone Bone.

• Karya

a. Al-Tidzkār (al-Shagīr), puisi kenangan di Madrasah Shaulatiyah;

b. Terjemah makna Al-Qur’an dalam bahasa Bugis;

c. Kumpulan khutbah, catatan halaqah, dan pidato;

d. Al-Hizbul A’zham, zikir dan doa disertai terjemahan Bugis;

e. Al-Tidzkār (al-Kabīr), catatan harian sepanjang 37 jilid. 20 jilid tersedia, selebihnya belum ditemukan.

Stay connect With Us :