Oleh: Furqan Jurdi (Penulis adalah Ketua Presidium Nasional Pemuda Madani)

PEDULIRAKYAT.CO.ID — Ulama, Da’i dan penyeru Islam tidak akan pernah mengkompromikan kebatilan (bathil) dengan kebenaran (Haq). Mereka tidak akan ragu mempersembahkan nyawanya demi kebenaran dan keadilan itu.

Salah satu ulama dan da’i penyeru itu adalah Alhabib (saya tidak akan menyebut nama lengkapnya takut dibanned fb), Suaranya menggetarkan singgasana para penguasa durjana.

Penyeru itu kini telah menerima cobaan berat yang yang tak dapat diterima akal sehat. Beliau di Vonis 4 Tahun penjara karena tuduhan pemalsuan SWAB tes Covid-19.

Putusan itu tentu diluar akal sehat manusia, karena hanya Habib yang didakwah dari sekian banyak pelaku dan “provokator” kerumunan.

Di Nusa Tenggara Timur, di Jawa Timur dan di pernikahan artis semua kasus itu tak pernah di tersangka kan apalagi di dakwah di sidang pengadilan yang “mulia” itu. Kalau kita jelaskan semua tentu tak akan cukup satu tulisan singkat ini menceritakan pelanggaran Protokol kesehatan saat covid-19 namun tak pernah dipidana. Hanya Habib yang dipidana.

Tapi itulah wajah kezaliman yang selalu muram pada kebenaran. Keadilan hanyalah menjadi pembicaraan pembuka bagi tukang penerima suap dan para si zalim itu.

Saya tidak akan menuduh siapapun dalam hal ini, tapi saya geram pada ketidakadilan yang sedang ditayangkan tanpa sensor. Entah siapa dalang kezaliman, semuanya saya kembalikan kepada Allah yang Maha Tahu dan Maha Adil.

Semua orang hanya mengomel, melihat kondisi itu, termasuk saya. Apa yang bisa diperbuat setelah kezaliman sudah membusuk di hati semua pemegang otoritas? Kepada siapa lagi kita mencari keadilan?

Banyak orang percaya keadilan akan mencari jalannya sendiri. Tapi siapa yang akan mengikuti jalan keadilan itu?

Tapi bersabarlah wahai pejuang, jiwa mu melebihi seribu jiwa pecundang. Kalau ditukar tambah jiwa seribu pecundang itu tak akan mampu membayar satu jiwa mu.

Ketika hakim membaca putusannya saya tak tertegun memandang “terdakwah” itu yang tetap mengangkat kepalanya dengan kuat. Duduk dengan wibawa tanpa kepecundangan.

Teringatlah saya pada kisah penyeru, Imam Hanafi, Buya Hamka, Al-Banna, M. Natsir, dan banyak lagi yang pernah merasakan kezaliman dari penguasa zalim.

Di Mesir ada Sayyid Qutb. Namanya abadi dalam sejarah perjuangan manusia merdeka. Kesaksian opsir penjara yang insaf meninggalkan catatan buram penguasa Gemal Abdul Naser di Mesir.

Para opsir itu menyaksikan orang yang tidak pernah meninggalkan sholat, zikir, dan ibadahnya melebihi ibadah manusia lainnya dituduh menjadi pengkhianat negara.

Kejadian itu ditulis dengan apik oleh saksi mata, seorang opsir penjara itu. Sebelun eksekusi dilakukan, seorang ulama datang membimbing para terpidana mati itu membaca talqin dan mengingat Allah.

Sheikh itu berkata, “Wahai Sayyid, ucapkanlah Laa ilaha illa Allah…”. Sayyid Qutb hanya tersenyum lalu berkata, “Sampai juga engkau wahai Sheikh, menyempurnakan seluruh sandiwara ini? Ketahuilah, kami mati dan mengorbankan diri demi membela dan meninggikan kalimat Laa ilaha illa Allah, sementara engkau mencari makan dengan Laa ilaha illa Allah”.

Ketika tali gantungan sudah diikat dileher para penyeru itu, sambil menunggu perintah, dengan tergesa-gesa seorang perwira tinggi militer datang menemui Sayyid.

Perwira tinggi itu mendekati Sayyid dan memerintahkan melepaskan tali gantungan dan tutup matanya di buka. Perwira itu kemudian menyampaikan kata-kata dengan bibir bergetar, “Saudaraku Sayyid, aku datang bersegera menghadap Anda, dengan membawa kabar gembira dan pengampunan dari Presiden kita yang sangat pengasih. Anda hanya perlu menulis satu kalimat saja sehingga Anda dan seluruh teman-teman Anda akan diampuni”.

Perwira itu tidak membuang-buang waktu, ia segera mengeluarkan sebuah notes kecil dari saku bajunya dan sebuah pulpen, lalu berkata, “Tulislah Saudaraku, satu kalimat saja… Aku bersalah dan aku minta maaf…”

Hal serupa pernah terjadi ketika Ustadz Sayyid Qutb dipenjara, lalu datanglah saudarinya Aminah Qutb sembari membawa pesan dari rejim thowaghit Mesir, meminta agar Sayyid Qutb sekedar mengajukan permohonan maaf secara tertulis kepada Presiden Jamal Abdul Naser, maka ia akan diampuni. Sayyid Qutb mengucapkan kata-katanya yang terkenal, “Telunjuk yang sentiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalatnya, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rejim thogut…”.

Sayyid Qutb menatap perwira itu dengan matanya yang bening. Satu senyum tersungging di bibirnya. Lalu dengan sangat berwibawa Beliau berkata, “Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah bersedia menukar kehidupan dunia yang fana ini dengan Akhirat yang abadi”.

Perwira itu berkata, dengan nada suara bergetar karena rasa sedih yang mencekam, “Tetapi Sayyid, itu artinya kematian…”

Ustadz Sayyid Qutb berkata tenang, “Selamat datang kematian di Jalan Allah… Sungguh Allah Maha Besar!”

Kalau pengadilan ini adalah benar dan adil, aku puas dengan kebenaran dan keadilan, tapi kalau pengadilan ini zalim, penyeru tidak akan menunduk dirinya pada kezaliman, biarlah pengadilan Allah yang akan memutuskannya nanti.

Demikian pula ketika Habibana menyelami Hakim dan mengatakan “Sampai Ketemu di Pengadilan Akhirat”. Karena di sana lah semua akan terungkap.

La Tahzan Innalaha ma’ana.
Berbahagialah wahai penyeru.

Stay connect With Us :