Literasi

​Ketika Idealisme Menjadi Uangisme

117
1
As'ad Bukhari, S.Sos., M.A.

Oleh : As’ad Bukhari, S.Sos., M.A.

PEDULIRAKYAT.CO.ID — ​Sudah sangat jarang melihat adanya para aktivis yang sangat kuat dan militan terhadap idealisme berpikir sekaligus bertindak bahkan berjuang. Aktivis dari berbagai organisasi manapun baik kampus, masyarakat, LSM, komunitas, kelompok dan perkumpulan lainnya telah kehilangan Idealisme dan tergadaikan dengan uangisme. Pemuda dan pemudi yang idealis dan ideologis bahkan revolusionis telah hilang dan pupus di era milenial, mereka menjadi pemuda pemudi pencitraan melalui sosial media dari berbagai aplikasi dengan cara viral, eksis dan beken.

​Eksis yang beragam mulai dari masuk di dunia politik sehingga jadilah politisi yang politiktainment, ada yang di dunia hiburan jadilah sebagai penghibur yang entertainment, ada yang menggemari media informasi jadilah infotainment dan sebagainya sehingga berujung pada konsep hiburan dan menghibur. Inilah yang menyebabkan sebuah peristiwa lucu-lucuan itu hadir dalam berbangsa, bernegara dan beragama. Lihatlah ketika negara jadi bahan hiburan dan lelucon, lihatlah bangsa ini menjadi bahan olok-olok dan hiburan, serta lihatlah agama pun baik mayoritas atau minirotitas jadi mainan senda gurau dan hiburan.

​Generasi muda mudi yang kehilangan Idealisme dan menjadi generasi profit oriented layaknya sebuah perusahaan atau korporasi yang sedang berjualan mencari untung dan uang. Tidak hanya itu generasi yang mengalami degradasi moral sehingga seiring dengan kemajuan zamannya namun runtuh serta roboh peradaban manusianya khususnya generasi muda mudinya. Hal ini juga karena hilangnya teladan dari oara generasi tua sebagai generasi seniornya yang tidak lagi menjadi teladan di tengah gejolak serta problematika bangsa.

​Generasi yang saling sikut layaknya hewan sedang berebutan makanan yang akhirnya tidak lagi ada akal sehat dan logika intelektual melainkan insting untuk menang, kenyang dan serang. Ini menyebabkan hilangnya arah bangsa yang semakin hari semakin nirnalar dan tidak lagi menjunjung tinggi nilai persaudaraan, keharmonisan dan kemanusiaan. Budaya bullying baik di sosial media dan di realitas sosial terus berjalan dari anak sampai dewasa, akhirnya saling bully dengan sebutan-sebutan, istilah-istilah dan julukan-julukan yang tidak baik.

​Generasi muda mudi sebagai jembatan rakyat untuk mendapatkan haknya maupun tersampainya aspirasi kepada pemerintah dan parlemen tak lagi terdengar justru berubah menjadi seorang karakter buruh yang terjajah baik secara karakter, Idealisme, intelektual, dan pergerakan. Sebab bila dianggap mengkritisi pemerintahan, rezim berkuasa atau para pejabat parlemen adalah sebagai oposisi yang menjadi bagaian partai tertentu yang berada di luar pemerintahan istana dalam kabinet. Karena seharusnya generasi muda mudi inilah yang terus mengawal, mengkritisi, bahkan melawan dan bila menjatuhkan atau melengserkan bila penguasa dianggap sudah tak lagi mampu memajukan serta membangun negara.

​Bila pun ada keberhasilan tentu harus diapresiasi, namun tetap sebagai jiwa yang memiliki Idealisme tinggi memperjuangkan hak rakyat kecil, rakyat tertindas, rakyat miskin yang termarjinalkan baik secara sistematis ataupun tidak sengaja harus dibela, dilindungi dan diberikan keadilan maupun kesejahteraan. Karena dengan begitu lah suara-suara rakyat yang berada di bawah dan berada di garis kemiskinan harus terus diperjuangkan sehingga negara hadir secara nyata dalam membantu sekaligus memberikan jaminan kehidupan pada rakyatnya.

​Namun ketika Idealisme menjadi uangisme semua akan berbuah, akhirnya bungkam, tak bersuara, nyenyak, kenyang bahkan naik menjadi elitis hanya karena uangisme yang menjadi beberapa keuntungan entah itu harta, tahta ataupun wanita. Uangisme inilah yang menjadi penyakit bagi kaum revolusionis, kaum pergerakan, kaum pejuang rakyat marjinal, kaum aktivis gerakan karena Idealisme itu berubah menjadi uangisme sebagai paham kehidupan yang tercuci otak nalar intelektualnya sehingga apapun bisa berpaling dari kata keikhlasan untuk rakyat kecil.

​Kadang memang terjebak pada momentum politis karena dianggap sebagai oposisi mewakili partai, padahal tidak semua orientasinya pada politik sebab yang diperjuangkan adalah sesuatu yang sangat esensial mengenai idelologi kesejahteraan bagi rakyat kecil tentunya. Hal itu disebabkan suara-suara sosial media yang tak bertanggung jawab dalam menyuarakan dan memprosuksi isu serta konten melalui akun anonim, buzzer yang orientasi hanya keuntungan semata sesuai tuan yang membayar.

​Anak muda mudi yang tergadai Idealismenya ini juga karena tangan-tangan yang tak bertanggung jawab, lebih cendrung ingin merusak moral bangsa dengan memanfaatkan situasi khususnya penggunaan sosial media yang diternak, diproduksi dan dikembangkan untuk membenci, merusak, melawan, menyerang, membela, membuat gaduh dengan isu-isu yang hoax, invalid dan palsu.

​Tentu harus dibangun kembali semangat literasi, semangat pergerakan, semangat aksi dan semangat membela rakyat dengan ikhlas, dengan kesungguhan dan dengan kerendahan hati yang terdalam. Bangsa ini hadir di tangan-tangan para pemuda yang hatinya hanya untuk negara yang tercinta ini.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here