Oleh: Yodan Loni (Aktivis PMKRI dan Mahasiswa Awam STFK Ledalero)

 PEDULIRAKYAT.CO.ID — “You are the Student of Problem” (Kalian adalah mahasiswa-mahasiswa persoalan). Dari pernyataan di atas, pada hemat saya filsuf Popper mengidealkan seorang pelajar berkualifikasi kritis, peka dan tanggap terhadap realitas sosial yang sedang terjadi di masyarakat. Idealisme Popper ini menjadi penggugah kesadaran akademis mahasiswa akan situasi dunia politik saat ini.

Kesadaran aktivis mahasiswa tidak hanya idealisme secara konseptual dan teoritis di atas kursi akademis, tetapi berani bersikap kritis, peka dan tanggap, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap realitas sosial. Aktivis milineal berhadapan dengan politik praktis memberikan solusi atas persoalan-persoalan yang sedang dihadapi masyarakat dengan aneka problematikanya.

Di tengah aneka dinamika sosial dan tantangan zaman dewasa ini, pilihan menjadi aktivis bagi seorang mahasiswa merupakan pilihan ideal yang mesti dipertanggungjawabkan dengan cara menjaga kualitas dan integritas diri.

Aktivis mahasiswa milineal?

Mahasiswa tidak akan “turun ke jalan” kalau tidak memiliki pengetahuan mengenai persoalan masyarakat serta memiliki perhatian terhadap persoalan-persoalan masyarakat. Protes dalam sejumlah bentuk seperti demonstrasi, pawai dan tulisan dalam bentuk opini pada hemat saya ada semacam ketidakpuasan mahasiswa dengan kebijakan dan argumentasi yang jelas oleh penguasa negri ini. Protes salah satu bentuk dari partisipasi gerakan aktivis milineal. Lebih jauh bahwa aktivis mahasiswa berada dalam lingkungan organisasi yang notabene melakukan analisis-analisis terhadap perkembangan perpolitikan nasional maupun lokal. Lewat lingkungan organisasi, aktivis untuk melakukan berbagai cara untuk memperjuangkan perubahan bangsa dan negara mengenai persoalan yang sedang terjadi. Demonstrasi, unjuk rasa, dan sejenisnya merupakan respon dari keadaan yang terjadi dalam suatu lingkungan politik.

Aktivis mahasiswa akan berekspektasi besar terhadap apa yang dilakukannya. Ekspektasi itu adalah bahwa pemerintah dan para politisi yang menjabat memperhatikan kebijakan-kebijakan yang tidak berdasarkan kepentingan rakyat tetapi lebih pada kepentingan pribadi. Disinilah Aktivis selalu melayangkan berbagai macam bentuk kritikan terhadap pemerintah dalam dimensi politik dan sosial. Sebuah kesadaran aktivis mahasiswa menggunakan kerangka akademik, sehingga aktivis mempunyai pemahaman konseptual terhadap apa yang terjadi dan bagaimana seharusnya. Aktivis harus melibatkan diri dalam masalah-masalah strategi politikan, baik strategi permainan power atau strategi modernisasi (kultural). Kehadirannya yang tidak penuh dalam ruang-ruang kampus lebih membenarkan sebutan pada mereka sebagai “student in political forum”.

 Aktivis  Berhadapan Politik Praktis

Mahasiswa memiliki kesadaran politik praktis.

Pertama gerakan instrumental (instrumental movement) dimana orang-orang yang terlibat dalam aksi politik kolektif menginginkan implementasi (untuk pemenuhan) hak-hak warga negara.

Kedua yaitu gerakan ekspresif (expressive movement) yang tercipta bukan karena mereka menginginkan sesuatu yang sifatnya eksternal, tetapi merupakan ekspresi dari sesuatu yang mereka alami sendiri, seperti halnya ketidak adilan.

Dimasa demokrasi yang cukup terbuka ini, semua pihak boleh mengemukakan pendapatnya tanpa tekanan dari pihak manapun. Kalau dulu, masa orde baru misalnya, kekuatan mahasiswa benar-benar di tekan penguasa pada waktu itu yang kemudian memuncak pada tahun 1998, dimana mahasiswa dengan berani meskipun berhadapan langsung dengan militer berhasil menggulingkan penguasa dan menghasilkan suatu zaman yang disebut reformasi, lalu bagaimana dengan aktivis mahasiswa sekarang?

Hemat saya tidak memandang negatif bentuk-bentuk aktivisme sekarang. Bahwa sudah banyak juga dilakukan berbagai macam protes terhadap penguasa, sebagai implikasi kesadaran atas apa yang terjadi, dimana ikut terlibat dalam beberapa aksi.

Namun kesadaran politik yang ada sekarang tampaknya tidak dibangun atas refleksi kritis terhadap realitas, bahkan terkadang cenderung sporadis.

Aktivis mahasiwa sekarang, pertama bahwa gerakan aktivis tahun 1990-an yang bermuara pada reformasi mereka mempunyai common enemy (musuh bersama) yakni Soeharto, sedangkan saat ini para aktivis mahasiswa tidak memilikinya., kedua adalah bahwa sekarang para aktivis mahasiswa telah mengalami fragmentasi dimana aktivis mahasiswa dengan berbagai golongannya tidak punya visi bersama tentang perubahan

 Mahasiswa tidak terikat dengan lingkungan kekuasaan politik tertentu. Mahasiswa adalah kelompok intelektual yang independen dari lembaga politik tertentu. Gerakan politik mahasiswa berada di luar struktur dan lembaga politik. Mahasiswa adalah kekuatan kritis yang bekerja di luar sistem tetapi kiprah mereka selalu berorintasi pada perubahan sistem.

Peran mahasiswa dalam upaya pembangunan politik sangatlah urgen. Dalam sejarah, mahasiswa telah terbukti tampil sebagai aktor perubahan dalam masyarakat. Semangat para “mahasiswa sejarah” ini tentunya perlu diteladani oleh para mahasiswa dewasa ini. Posisinya sebagai kaum intelektual dengan kekahasan jati dirinya merupakan modal dasar dalam kiprah dan perannya sebagai aktor transformasi dalam masyarakat. Keterlibatan mahasiswa sebagai kaum intelektual perlu diarahkan dalam upaya transformasi dalam sistem politik di Indonesia. Membangun priadi yang berwatak demokratis, bersikap kritis terhadap persoalan sosial-politik.

 Tanggung jawab para Aktivis

Bersuka cita karena penderitaan orang lain adalah kesesatan hati nurani. Makan keringat dari orang lain adalah kematian nilai rasa. Hidup nikmat dari pencaplokan hak orang adalah kebutan jiwa. Ada kenyataa bahwa, ruang publik tidak lagi menjadi ruang kasih dan keadilan. Ruang publik bukan lagi menjadi ruasng solidaritas dan simpati.

Kita menyaksikan para penguasa pemimpin dengan “kegelapan nurani”. Yang terjadi adalah manipulasi ruang publik untuk menjadi “ruang horor”, tempat dimana kekuatan gelap bermain. Di dalam ruangan itu, sang penguasa tidak lagi sanggup membuat siscernment untuk membedakan yang antara “yang baik” dan “yang buruk”. Sering terjadi para penguasa menutup diri terhadap perintihan dari bawah. Suara dipinggir jalan diabaikan. Keluhan dari gubuk reyot dibekukan. Hak seorang petani dihapuskan dengan sogokan si kaya. Hakim dan jasa mempermainkan keadilan dan kebenaran para legislator menampilkan diri dalam wajah ganda. Di hadapan rakya, mereka tampil santun dan ramah, sementara dalam tugas dan komunikasi politik, mereka pintar bermain dengan seribu satu intrik. Masa depan tanpak bukan sebagai pilihan. Semuanya tinggal sebagai slogan. Manusia semacam kehilangan “kultur cita rasa” dan “budaya empat” terhadap sesamanya. Ada kematian nurani dan kegelapan cara berpikir yang baik. Alasannya, pragmatisme hidup manusia bermuara pada “ingat diri”. Politik kehilangan inspirasi keadilan untuk kesejahteraan hidup. Agama-agama kehilangan charitas sebagai roh, dan sering menampilkan diri sebagai institusi dogmatis dan fundamnetalistis. Agama tidak lagi menjadi etos yang memeri jaminan keamanan hidup. Bahkan Tuhan dalam agama sering dihadirkan sebagai figur bapak yang berwajah maut dan menakutkan orang-orang beriman suka menjual nama Allah dalam ruang publik hanya untuk nafsu diri.

Aktivis Bersama Kaum Tertindas

 Aktivis tidak terikat dengan lingkungan kekuasaan politik tertentu. Maktivis adalah kelompok intelektual yang independen dari lembaga politik tertentu. Gerakan politik mahasiswa berada di luar struktur dan lembaga politik. Mahasiswa adalah kekuatan kritis yang bekerja di luar sistem tetapi kiprah mereka selalu berorintasi pada perubahan sistem.

Peran aktivis dalam upaya pembangunan politik sangatlah urgen. Dalam sejarah, aktivis mahasiswa telah terbukti tampil sebagai aktor perubahan dalam masyarakat. Semangat para “mahasiswa sejarah” ini tentunya perlu diteladani oleh para aktivis mahasiswa dewasa ini. Posisinya sebagai kaum intelektual dengan kekahasan jati dirinya merupakan modal dasar dalam kiprah dan perannya sebagai aktor transformasi dalam masyarakat. Keterlibatan mahasiswa sebagai kaum intelektual perlu diarahkan dalam upaya transformasi dalam sistem politik di Indonesia. Membangun priadi yang berwatak demokratis, bersikap kritis terhadap persoalan sosial-politik.

Politik belum menjadi politik yang bermartabat, kalau tatanan hidup bersama dan demokrasi kehilangan roh kemanusiaan. Bahwa sesungguhnya, demokrasi, kebenaran, keadilan, rasionalitas dan iman tidak boleh mengabaikan “cita rasa kemanusiaan dan “simpati”. Perjuangan politik harus bermuara pada politik “martabat”. Tujuan politik bagi aktivis harus bermuara pada pengolahan imajinasi dan cita rasa kemanusiaan. (RedaksiPeduli).

Stay connect With Us :