Oleh: Abdul Gani (Ketua Bidang Riset, Pengembangan dan Keilmuan DPD IMM Sulsel 2018-2020)
PEDULIRAKYAT.CO.ID — Rasanya terlalu berlebihan jika lagu seperti ini ingin dilakukan pendekatan secara teoretis, tapi pada kenyataannya lagu ini menjadi trending dan turut memberi pengaruh secara Psikis bagi pendengarnya. Dalam Psikoanalisisnya Freud bahwa manusia secara deterministik ditentukan oleh kekuatan irasional yang tidak disadari, dorongan biologis dan naluri. Manusia tidak disetir oleh apa yang dianggapnya benar melainkan apa yang dia suka. Tak jarang banyak orang mengabaikan rasionalitasnya demi kehendak naluri.
Saya pada dasarnya tak tertarik membahas hal semacam lagu ini karena kurang berfaedah. Tapi melihat lingkungan disekitar, membuat banyak anak muda merasa terrangsang alam bawah sadarnya karena lagu ini. Karena kebetulan sekarang adalah momentum santai dengan banyak waktu luang, anggap saja ini sebagai bacaan ringan yang menemani rebahan.
Lagu Aisyah Isteri Rasulullah, Dari dua nama itu jelas terdengar subhanallah. Bagaimana tidak, Muhammad saw adalah Nabi, dan Aisyah ra adalah krikterianya. Tapi demi melakukan pemahaman mendalam dan mengungkap makna dibalik teks, keberpihakan subjektiv harus dipinggirkan dulu.
Sifat dari teks ialah ia tidak selalu hadir sebagai dirinya, ada makna yang dibawanya. dan Cara orang menyampaikan turut memberi andil terhadap pemberian makna. Walau bagi Paul Ricoeur untuk memahami teks kita perlu melakukan Distansi atau mengambil jarak antara subjek dengan teks sehingga subjektivitas tak mereduksi makna. Tapi, bagi Gadamer tak ada yang bisa melepaskan diri dari dari subjektivitas, baik itu penutur maupun yang menangkap tuturan. Selalu ada tendensi orang melahirkan Wacana begitupun yang menangkap lalu memberi makna.
Apakah itu tendensi historis, politik, romantic, dan lain-lain.
Dalam hermeneutika Ricoeur, untuk memahami Wacana dan tindakan ia menjelaskan tiga istilah
1. Lokusi : yaitu tindakan tutur untuk menyatakan sesuatu yang sifatnya informatif
2. Ilokusi : yaitu tutur informatif sekaligus bertujuan melahirkan tindakan tertentu
3. Perlokusi : yaitu tindakan tutur yang mempunyai efek (mendorong, memotifasi, menakut-nakuti, menipu, menghasut dan dorongan-dorongan lain)
Bagi penulis, posisi lagu ini sebagai Teks berada pada dua keadaan, yaitu Ilokusi dan Perlokusi. Dengan makna yang menipu (menjadi Aisyah Palsu), sekaligus mendorong untuk segera berrumah tangga. (Ingat kalau kamu masih pelajar atau mahasiswa, ditahan dulu).
Seseorang yang mendengarkan atau menyanyikan lagu ini bila tak selektif akan mengalami dampak imajinatif. Seolah ia merasa menjadi seperti Aisyah istri Muhammad saw, Romantis, dan penuh kebahagiaan. Perlu dicatat, Walau lagu itu kamu nyanyikan hingga berbusa-busa mulut, kamu putar hingga liriknya menyatu dengan telinga, dan kamu mengganti nama menjadi Aisyah kamu tidak akan pernah sama dengan Aisyah. Kamu adalah dirimu. Orang arab menyebutnya Tamanni yaitu ibarat orang yang sedang digoreng dalam api neraka lalu memohon untuk dikelurkan dan dikembalikan ke duania agar kembali beramal saleh, itulah Tamanny, harapan yang tidak mungkin terwujud.
Dalam bukunya Diah Kristina, Analisis wacana kritis, ia menjelaskan Model analisis wacana Versi Van Dijk tentang kognisi sosial bahwa, teks harus diamati sejak awal mula teks itu diciptakan. Apa asumsi yang terbangun di benak produsen Teks? apa agenda yang ingin disampaikannya? Dan bagaimaa lingkungan sosial serta latar belakang akademis membentuk pola pikir penutur hingga menghasilkan sebuah teks?
Untuk menjawab ini Van Djik membagi komponen kedalam tiga istilah yaitu : Teks, kognisi sosial, dan konteks.
1. Teks : perlu dicermati bagaimana teks itu dibuat. Dalam lagu Aisyah isteri rasulullah teks dibuat dengan bahasa semenarik mungkin sehingga dapat merasuki jantung pendengar (agar pendengar baper dan melangkolis)
2. Kognisi Sosial : mempelajari produksi teks yang melibatkan kognisi individu. Bahwa mereka adalah penyanyi atau produser musik yang akan melakukan segala upaya agar produksinya terkenal sehingga hal itu memberi untung, apakah secara individu demi banyaknya viwer, followers, maupun secara komunitas ketenaran produsernya
3. Konteks : mengkritisi konstruksi wacana bahwa setiap format harus diasumsikan memiliki segmentasi konsumennya masing-masing. Sebelum produsen menciptakan lagu, ia harus berfikir desain seperti Apa yang bisa diterima oleh konsumen. Maka perlu persesuaian, artinya kalau produksinya seperti ini maka dalam pandangan produsen bahwa kunsumennya ya seperti itu, buktinya apa ? Itu produksinya bisa laku.
Sehingga bagian akhir dalam analisis Teks ialah ingin mengungkap makna. Makna dari lagu Asiyah istri rasulullah yaitu ingin merepresentasikan kecintaannya pada aisyah sekaligus produsen teks ingin eksis supaya musik-musiknya laku, dan dampaknya konsumen yang kurang saring akan terjebak rebahan (melow dan melangkolis), ingin segera seperti mereka padahal belum saatnya. Ketidak benaran pun kalau diulang-ulang secara terus menerus maka akan diterima dan dianggap sebagai kebenaran ideal, seperti lagu ini, kalau diulang-ulang pada mereka yang belum ideal dihawatirkan ada yang mau jadi Aisyah-Aisyah-an dan Muhammad-Muhammad-an bukan pada akhlaqnya yang uswatun hasanah melainkan sebagai suami-isteri ideal oleh mereka yang masih diusia dini, mengingat kenyataannya lagu ini juga sangat laku baik dari usia paruh baya bahkan sampai anak-anak. Setiap bahasa merupakan cermin dari konstruksi sosial. Kembali ke Psikoanalisisnya Freud bahwa manusia dikendalikan oleh sesuatu yang disukai oleh alam bawah sadarnya, apa jadinya jika semua anak-anak maupun remaja dibawah umur yang suka dengan lagu semacam ini menuntut dirinya untuk menjadi demikian? Jangankan anak-anak, orang-orang tua saja dihadapan apa yang diingini rasionalitasnya menjadi tak berdaya.
Saya berasumsi, seandainya Nabi Muhammad saw dan Aisyah ra masih hidup, mereka tak akan sudi namanya dinyanyikan dan diekspresikan secara sensual seperti sekarang ini. Tapi kita bebas dalam menangkap makna, dalam konsep Roland Barthes ia menyebutnya sebagai Death of The Author atau kematian sang penutur. Ketika suatu teks keluar menjadi tuturan maka ia bukan lagi milik penutur melainkan bebas diberi makna oleh yang menerima tuturan. Apakah Lagu ini menjadi motivasi, menggelikan, atau bikin mual itu tergantung Pra-Understanding yang dimiliki masing-masing individu.
Sementara Produsen teks semakin eksis, konsumennya terjebak rebahan. Dua keadaan yang Berbanding terbalik. Mereka untung panggung mentasnya terbuka lebar, kamunya rugi, rugi waktu, pemikiran, maupun perasaan diarahkan untuk mengahayal.
Kalau mau jadi Aisyah ra, jangan hanya lihat aspek Rumah tangganya saja, perhatikan juga aspek lain. Ia adalah perempuan cerdas yang menguasai banyak bidang ilmu, menghafal ribuan hadis. Kamu, berapa buku yang sudah dibaca.? Aisyah adalah Ummul Mukminin yang pernah melakukan konsolidasi besar, memimpin perang jamal menuntut keadilan. Kamu ? sudahkah perang melawan rasa malas, rasa jenuh, dan rasa-rasa yang menghambatmu untuk maju. ? Lalu modal kamu jadi Aisyah apa? Rebahan?!.


Tinggalkan Balasan