Oleh: A. Endang Maulana  (Kabid IMMawati PC IMM Kota Makassar)

PEDULIRAKYAT.CO.ID — Perempuan hingga saat ini masih terasa memiliki banyak problema yang menjadikannya menarik untuk pusat pembicaraan. Baik dalam bidang politik, ekonomi,hukum, bahkan sosial budaya, perempuan tak ubahnya sosok yang selalu menjadi pertimbangan, sekaligus objek dalam pembahasan . Terbukti selalu muncul perlakuan berbeda antara laki-laki dan perempuan sebagai hasil dari konstruksi sosial masyarakat yang seolah dianggap relevan dan benar adanya. Namun, pada dasarnya asumsi ini pun tidak selalu harus memerlukan bukti dan pemecahan terhadap bagaimana memperlakukan perempuan dalam kapasitas yang seharusnya.

Permasalahan seputar perempuan telah menempati prioritas diberbagai bidang dan sektor-sektor kebudayaan. Berbagai lembaga organisasi yang menampung aspirasi kaum perempuan baik dalam skala nasional maupun internasional banyak bermuculan. Temuan dalam Catatan Tahunan 2021 Jumlah kasus Kekerasan terhadap Perempuan (KtP) sepanjang tahun 2020 sebesar 299.911 kasus, terdiri dari kasus yang ditangani oleh: [1] Pengadilan Negeri/Pengadilan Agama sejumlah 291.677 kasus. [2] Lembaga layanan mitra Komnas Perempuan sejumlah 8.234 kasus. [3] Unit Pelayanan dan Rujukan (UPR) Komnas Perempuan sebanyak 2.389 kasus, dengan catatan 2.134 kasus merupakan kasus berbasis gender dan 255 kasus di antaranya adalah kasus tidak berbasis gender atau memberikan informasi.Dari sejumlah 8.234 kasus yang ditangani oleh lembaga layanan mitra Komnas Perempuan, jenis kekerasan terhadap perempuan tercatat:  Kasus yang paling menonjol adalah di Ranah Personal (RP) atau disebut KDRT/RP (Kasus Dalam Rumah Tangga/ Ranah Personal) sebanyak 79% (6.480 kasus). Diantaranya terdapat Kekerasan Terhadap Istri (KTI) menempati peringkat pertama 3.221 kasus (50%), disusul kekerasan dalam pacaran 1.309 kasus (20%) yang menempati posisi kedua. Posisi ketiga adalah kekerasan terhadap anak perempuan sebanyak 954 kasus (15%), sisanya adalah kekerasan oleh mantan pacar, mantan suami, serta kekerasan terhadap pekerja rumah tangga.

Yang paling meningkat juga kita bisa saksikan Kekerasan di ranah pribadi ini mengalami pola yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya, bentuk kekerasan yang paling menonjol adalah kekerasan fisik 2.025 kasus (31%) menempati peringkat pertama disusul kekerasan seksual sebanyak 1.983 kasus (30%), psikis 1.792 (28%), dan ekonomi 680 kasus (10%). KtP berikutnya adalah di Ranah Publik atau Komunitas sebesar 21 % (1.731 kasus) dengan kasus paling menonjol adalah kekerasan seksual sebesar 962 kasus (55%) yang terdiri dari dari kekerasan seksual lain (atau tidak disebutkan secara spesifik) dengan 371 kasus, diikuti oleh perkosaan 229 kasus, pencabulan 166 kasus, pelecehan seksual 181 kasus, persetubuhan sebanyak 5 kasus, dan sisanya adalah percobaan perkosaan 10 kasus. Istilah pencabulan dan persetubuhan masih digunakan oleh Kepolisian dan Pengadilan karena merupakan dasar hukum pasal-pasal dalam KUHP untuk menjerat pelaku.Melihat banyaknya kasus terhadap perempuan yang semakin meningkat menandakan posisi perempuan akan semakin terpinggirkan karena konstruksi sosial masyarakat dari hal itu memunculkan sejumlah paradigma semakin buruk terhadap perempuan.olehnya itu perempuan harus mampu meningkatkan kapabilitas dirinya agar mampu menjadi benteng untuk melindungi dirinya di era distrupsi ini.

Dinamika perempuan hari ini memunculkan hasil pemikiran bahwa Menjadi perempuan yang memiliki banyak peran tidaklah semudah yang dibayangkan. sehingga,Perempuan pada saat ini dihadapkan pada berbagai macam peran dan diharapkan bertanggung jawab atas peranan yang telah dipilihnya.Diperlukan keterampilan tambahan atau ilmu pengetahuan yang dapat menunjang peran yang dilakukan perempuan.peran subordinatif antara peran sosial dan peran biologis harus melebur dan sudah harus mampu meretas pusaran banalitas patriarki . Kita saksikan bersama Bagi kalangan yang kontra terhadap pemahaman terhadap jiwa leadership perempuan dilatar belakangi oleh pahaman terhadap teks dalil yang sifatnya tekstual, mereka mendeskripsikan berbagai persoalan perempuan berdasarkan konsepsi teks yang sifatnya relatif dan dijadikan sesuatu yang absolut sehingga muncullah banyak kecelakaan berfikir terkait peran sentral perempuan.

Hari ini paham yang sudah mengental dalam persepsi masyarakat yang pro terhadap isu gender mereka melakukan beebagai  riset sosial terhadap kompleksitas masalah perempuan di masyarakat. Buktinya mereka banyak menemukan kasus pelecehan, kekerasan, bahkan pembunuhan yang kebanyakan korbannya adalah perempuan.Disinilah muncul argumentasi terkait perempuan itu lemah secara pemikiran dan fisik , kualitas intelektualitas yang kurang memadai serta leadership yang tidak teruji juga unggul dalam literasi data dan digitas sebagai bentuk bahwa kita paham dengan kondisi zaman hari ini sejatinya literasi manusia tidak berkembang karena miskin gerakan dan miskin retorika sehingga melemahkan publik speaking yang merujuk pada lemahnya advokatif perempuan.

Berbicara tentang perempuan, tidak sedikit hasil kajian yang menyebutkan bahwa perempuan hari ini minim akan kualitas dan krisis moralitas lebih -lebih dalam hal gerakan sehingga menjadikan perempuan tersebut menjadi generasi yang lemah yang mengedepankan perasaan dibanding akalnya akibatnya banyak perempuan yang terpenjara diantara belanteran rasa hingga miskin intelektualitas,minim progresifitas serta memiliki pandangan yang sempit terkait tupoksi perempuan.Makanya, Gerakan IMMawati sebagai bagian dari IMM.IMMawati yang domain melakukan aktivitas keagamaan, dan intelektua melalui skill leadership yang kita saksikan  di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah secara internal harus melakukan kontrol terhadap dinamika lembaga dan secara eksternal Keterlibatannya mampu mencerahkan dan melakukan perubahan secara pemikiran,gerakan  serta kontribus IMMawati sebagai eksekutor sangat berpengaruh lantaran secara persuasi memiliki keelokan adab dan diharuskan menggunakan logika dari pada perasaan agar tercipta komunikasi efektif dalam ikatan.

IMMawati adalah singkatan dari Ikatan Mahasiswa Puteri Muhammadiyah yang bertujuan untuk mengusahakan terbentuknya akademisi muslimah yang berakhlaq mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.Pada awal berdirinya IMM,IMMawati sebagai sebuah gerakan sosial keagamaan yang bernaung di bawah IMM merupakan wadah khusus bagi usaha IMM memberdayakan fungsi dan peran-peran keummatan yang dilakukan oleh IMMawati, namun berbagai kendala baik dengan alasan ideologis maupun alasan kodrati kewanitaan. Untuk itulah IMMawati berusaha keluar dari kemelut ideologi dan sosial politik yang sengaja dikembangkan oleh pihak-pihak yang sengaja meminggirkan peran sosial politik perempuan.

Olehnya itu, Jangan sampai pandangan yang berlebihan terkait perempuan secara umum terkonstruk juga dalam tubuh IMMawati sehingga pemikiran radikal tersebut mampu memobilisasi pemikiran IMMawati untuk tetap berada dalam zona nyaman dan apatis terhadap kondisi perempuan disekitarnya. Aktivis perempuan harus bangkit dalam mengambil serta melahirkan solusi solutif dengan melakukan perubahan serta pemulihan kondisi yaitu membongkar konsentrasi yang kuat hasil intrepretasi informasi yang sifatnya tidak berfaedah IMMawati harus hadir untuk meretas persepsi tersebut dan berkewajiban memberikan persfektif baru terhadap perempuan berkaitan dengan tupoksi dan tanggun jawab untuk memajukan kualitas dirinya dalam merespon isu-isu sosial.

Bidang IMMawati hadir untuk meneguhkan jati diri kader putri IMM dan mengawal kultur adil gender terarus di tubuh ikatan maupun diluar ikatan. , Maka kami Bidang IMMawati Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Makassar akan mengadakan kegiatan Diksuswati II,yang bertujuan untuk menakar  dan meretas kebijakan yang diambil secara personal dari tubuh IMMawati untuk menjawab problematika perempuan secara holistik terkhusus di IMMawati itu sendiri sehingga IMMawati mampu dikatakan sebagai IMMawati berkemajuan yang senantiasa dipulihkan untuk soal-soal pergerakan dan keilmuan serta memiliki kualitas yang memadai. IMMawati harus menjadi eksekutor gagasan. Baginya, perempuan saat ini sudah banyak yang baik dalam berwacana, namun kurang dalam mengeksekusi.

Kabid IMMawati PC Makassar menyarankan agar perempuan harus mampu bermuhasabah diri, refleksi kinerja, bertansformasi,menumbuhkan sikap moral of force dan meningkatkan kapasitas intelektualitas diri.Karena jangan sampai kultur dan ideologi melemahkan Keadaan peran dan status perempuan diranah domestik maupun ranah publik.Makanya, Perlu peningkatan kuantitas perempuan dan harus mampu belajar terlibat dalam ruang sosial khususnya dalam struktur pemerintahanntuk sehingga menghindari stigma yang ada dalam masyarakat terkait keberadaan perempuan maka perempuan harus dapat membuktikan diri, dengan cara meningkatkan kualitas keilmuan dan publik speaking yang mumpuni serta kualitas literasi data dan digital yang memadai.

Maka harapan besar IMMawati mampu menguatkan Leadership dalam organisasi,mampu menjadikan intelektualitas sebagai Valuable asset, mampu berpikir kritis melalui pengkajian literasi data dan digital sesuai konteks masa kini serta mampu baik dalam segi public speaking,mampu lahir sebagai IMMawati Recovery Dalam menyambut perempuan yang progress secara Teori,metodologi dan radikal dalam gerakan.

Stay connect With Us :