Oleh: Fokky Fuad Wasitaatmadja (Dose Program Magister Hukum Universitas al-Azhar Indonesia bersama Abdul Halim Dosen Universitas PGRI Kanjuruhan Malang)
Universalisme Cinta
PEDULIRAKYAT.CO.ID — Hiruk pikuk dan hilir mudiknya kegalauan, keresahan, serta kegundahan, hingga berujung ada kebencian dalam akal manusia acapkali disebabkan oleh bangunan materialisme positivistik dalam berfikir dan bertindak. Manusia terkadang melupakan satu hal di dalam dirinya: Cinta, sebagai sebuah anugerah Illahi seringkali disederhanakan sebagai relasi intersubjek manusia semata. Cinta yang berasal dari Allah adalah entitas universal, dan ia menjadikan manusia hidup. Dengan cinta itu pula manusia dan makhluk apapun mampu merasakan hadirnya eksistensi ar-Rahman Allah. Dengan cinta itu pula ia mengembangkan peradaban manusia yang penuh kasih dan bukan beralas kebencian.
Cinta adalah kata sederhana yang seringkali terucap dalam medan kehidupan manusia. Ia sebagai bentuk objektif atas relasi manusia dengan sesamanya, dengan makhluk hidup, hingga relasi transcendental dengan Allah Sang Maha Cinta. Sebuah lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi legendaris Mesir, Ummi Kultsum mencoba menjelaskan hakikat-hakikat Cinta dalam konsep universalisme cinta. Lagu ini tidak merujuk pada objek tertentu, apakah ia ditujukan bagi sesame manusia, ataukah ia ditujukan pada sosok Wujud Allah Sang Maha Cinta, Ar-Rahman. Untuk itu maka tulisan ini mecoba menelaah eksistensi Cinta berdasarkan syair lagu Enta Omri.
Tulisan atas eksistensi Cinta ini merupakan sebuah analisis terhadap lagu yang berjudul Enta Omri yang dipopulerkan oleh Ummi Kultsum. Analisis ini mendasarkan pada tarjamah Enta Omri dalam Bahasa Inggeris dari Bahasa aslinya yaitu Bahasa Arab. Enta Omri diterjemahkan sebagai You are My Life dalam edisi Bahasa Inggeris oleh Yasmina Ramzy. Lagu ini popular di era tahun 1950an di lingkungan Timur Tengah dan sang penyanyi adalah legenda Negeri Mesir yang mengharumkan dunia syair Timur Tengah.
Beberapa kalimat dalam syair lagu Enta Omri akan coba dianalisis dalam pendekatan fenomenologi Ibn Arabi (1165-1240 M) atas hadirnya cinta yang diungkap oleh Ummi Kultsum. Tentunya hal ini bisa saja memiliki pemahaman interpretatif yang berbeda dengan orang lain atas Enta Omri, karena bacaan dan pemaknaan atas cinta di dalamnya bisa beragam. Untuk itu tidak ada maksud bahwa tulisan ini sebagai satu-satunya interpretasi utama dan terpenting atas syair Enta Omri. Tulisan ini hanyalah salah satu interpretasi subjektif yang dibangun oleh kesadaran rasa sang interpretator atas makna Cinta yang terungkap.
Pilihan untuk meletakkan cinta dalam relasi metafisika transendental lebih disebabkan oleh diksi yang terungkap dalam syair Enta Omri. Disini Ummi Kultsum lebih menunjukkan sebuah keyakinan adanya sebuah cinta yang begitu mendalam atas sebuah objek yang ditujunya dan sekaligus dicintainya. Dalam banyak perspektif, saya lebih cenderung untuk meletakkan ide cinta dalam sosok Wujud Ar-Rahman, Allah al-Haqq. Beberapa diksi kata yang terucap oleh Ummi Kultsum yaitu adanya keinginan sang Penyanyi untuk take out from the universe menjadi sebuah tanda atas hadirnya fenomena Cinta yang tidak biasa. Sebuah totalitas cinta yang hanya dapat dirasakan sendiri oleh sang penyanyi yang berasyik masyuk dengan al-Haqq yang dicintainya.
Eksistensi Cinta atas Dia
Syair dalam lagu Enta Omri cukup panjang, dan hanya beberapa syair yang hendak dianalisis, antara lain:
ou are more precious than my life
(Dirimu lebih berharga dibanding diriku sendiri)
Why I don’t meet your love long time a go?
(Mengapa aku tidak menemukan cintamu sejak dulu?)
Whatever I saw before my eyes saw you wasted a wasted life
(Apapun yang kutemui sebelum kutemui dirimu adalah sebuah kesia-siaan)
You are my life that start it dawn with your light
(Engkau adalah hidupku, dan aku bangkit bersama dengan cahaya cintamu)
What we missed is not little, oh love of my soul
(Apa yang telah hilang dari diriku bukanlah hal yang ringan wahai cinta jiwaku)
You are more precious than my days
(Dirimu lebih berharga dibandingkan seluruh hari-hariku)
You are more beautiful than my dreams
(Engkau jauh lebih indah daripada impianku)
Take me away from the universe
(Bawalah diriku menghilang dari semesta).
Dalam pendekatan fenomenologi Ibn Arabi manusia hanyalah sebuah fenomen atas hadirnya Sang Pemangku Kebenaran, al-Haqq. Dia adalah Wujud yang sesungguhnya, semua entitas ataupun eksistensi selain Dia termasuk manusia adalah ketiadaan (non-eksistensi). Dia menjadi satu-satunya Wujud yang ada, dan makhluk hanyalah fenomen atau pertanda atas kehadiranNya. Al-Haqq tak tersentuh oleh alam nalar dan inderawi manusia. Dia ada atas diriNya sendiri, Dia mengetahui diriNya sendiri, dan tidak ada pengetahuan selain pengetahuan-Nya yang memahami Wujud-Nya. Inilah ontologi dalam filsafat fenomenologi Ibn Arabi, sebuah non eksistensi atas hakikat manusia.
Ketiadaan pengetahuan atas Wujud-Nya menjadi sebuah pengetahuan tersendiri, karena keterbatasan sosok manusia sebagai fenomena atas kehadirannya yang bersifat non-eksisten. Manusia selaku fenomena atas eksistensi mutlakNya mencoba membangun relasi-relasi transenden yang tidak terputus. KewujudanNya dirasakan oleh sebuah proses kerja intuisi, dan disitulah manusia merasakan materi Cinta al-Haqq dalam sifatNya dan namanya: Ar-Rahman.
Manusia sebagai sosok yang hilang dalam keadaan non-eksistensinya mampu menggapai eksistensi epistemologi al-Haqq melalui Cinta yang Dia getarkan dalam setiap hati anak manusia. Enta Omri You are My Life, adalah sebuah pengakuan atas wujud eksistensi ar-Rahman bagi subjek manusia yang tak dapat menolak kehadiranNya dalam setiap jiwa yang hidup. Hidup sang subjek menjadi hilang tak berharga dihadapan al-Haqq dalam pandangan Ibn Arabi, sehingga You are more precious than my life menjadi sebuah pengakuan atas ketiadaan diri sang subjek manusia ketika menerima kehadiran ar-Rahman di dalam hatinya.
Ibn Arabi selaku mengajak manusia untuk menemukan Allah ar-Rahman dalam setiap hati. Ibn Arabi selalu mengajak manusia untuk melihat ke dalam diri sendiri, dan menemukan sebuah Cinta yang menjadi bukti kehadiran ar-Rahman dalam setiap jiwa manusia. Inilah kesadaran yang dibangun oleh manusia yang sadar atas dirinya sendiri. Ketiadaan atas eksistensi manusia ditunjukkan dalam ketidakberhargaannya dihadapan Wujud Mutlak Allah selaku Ar-Rahman.
Manusia terus mencari Allah ar-Rahman, Sang Maha Cinta, dalam perjalanan peradaban yang menyejarah. Manusia berupaya untuk selalu menemukan Dia dalam ketiadaan ontologisNya. Ketiadaan makna atas non-eksistensi manusia menjadi bermakna dalam ketiadaan eksistensi manusia ketika ia menyadari bahwa Allah ar-Rahman itu ada tapi tak pernah disadarinya sehingga segala sesuatu yang ditemui, dijalani, dilakukan sebelum menemukan cintaNya adalah sebuah kesia-siaan, Why I don’t meet you love long time a go? Whatever I saw before my eyes saw you wasted a wasted life. Kehidupan yang tak mampu menemukan cintaNya hanyalah sebuah kesia-siaan hidup, ketaksadaran. Manusia yang hanya hidup dalam angan dan imajinasi karena ketasadarannya atas hadirnya Cinta Allah ar-Rahman.
Hidup manusia dimulai ketika muncul kesadaran atas hadirnya Allah al-Haqq ar-Rahman dalam dirinya, sebuah kesadaran yang utama yang membangunkan ia dalam imajinasinya atas dunia ini sebelumnya, You are my life that start it dawn with your light. Cahaya ar-Rahman Allah al-Haqq yang masuk ke dalam dirinya menyadarkannya atas realita yang sesungguhnya. Cahaya Allah (Qs.[24]:35) memancar, mengiluminasi, menerangi ke setiap penjuru semesta mambangkitkan kesadaran setiap makhluk atas adanya Allah ar-Rahman. Kebangkitan manusia atas eksistensi al-Haqq dimulai ketika cahaya masuk ke dalam jiwa, akal, dan kesadarannya.
What we missed is not little, oh love of my soul menunjukkan sebuah kesadaran bahwa segala yang terjadi sebelum bertemu dengan Cinta ar-Rahman melalui cahayaNya bukanlah sebuah hal yang kecil. Subjek manusia menyadari bahwa segala yang hilang dalam dirinya ketika berada dalam kegelapan adalah hal yang besar dan penuh dengan kesia-siaan. Kegelapan langkah manusia yang terjadi merupakan bentuk dari ketiadaan cahaya ar-rahman yang masuk ke dalam dirinya sehingga ia melangkah bagai orang yang buta dan tak mampu melihat dan menatap realita eksistensiNya (Qs.[2]:18). Kini kebutaan itu telah terhapus dengan hadirnya Cahaya ar-Rahman Allah al-Haqq dalam setiap relung jiwanya.
You are more precious than my days, You are more beautiful than my dreams. Sebuah pernyataan atas pengakuan eksistensi al-Haqq dengan segenap cintaNya (ar-Rahman). Keindahan mimpi tetaplah impian bagi Ibn Arabi, keindahan impian adalah tetap sebuah ruang imajiner yang menutup sebuah kesadaran. Imajinasi yang dilingkupi oleh manusia menjadikan manusia melalaikanNya, melupakanNya, hingga bertindak dan berperilaku di luar kehendak Allah al-Haqq selaku penebar Rahman (Cinta) bagi semesta. Kesadaran yang terjadi menjadikannya ia paham bahwa Dia dengan cintaNya lebih dari segalanya, bahkan lebih indah dari keindahan mimpi dan imajinasi.
Take me away from the universe menjadi sebuah pengakuan puncak seorang manusia atas non-eksistensi dirinya dihadapan Allah al-Haqq. Manusia yang selama ini tertidur dalam mimpi dan imajinasi atas dunia indah yang ia bangun, kini tersadar bahwa Dia ada dengan segenap cintaNya dalam sifat ar-Rahman yang dimilikiNya. Subjek manusia ingin terus bersamaNya, menjauh dari semesta alam yang telah meninabobokkan kesadaran manusia menuju dan bersamaNya sebagai realitas yang sesungguhnya dan abadi.
Take me away from universe adalah permintaan dari subjek kepada yang dicintainya, antara yang mencintai dengan yang dicintai agar Dia mengajaknya kepada kesadaran yang sesungguhnya. Kesadaran bahwa ada Cinta sejati yang hanya dapat diberikan oleh al-Haqq sebagai penguasa Cinta dan sekaligus penguasa universe atau semesta. Permintaan dari seorang pecinta untuk dapat keluar dari alam semesta menuju pada hakikat manusia yaitu Dia al-Haqq adalah kesadaran utama dalam fenomenologi Ibn Arabi. Dunia yang hanya permainan acapkali menciptakan berbagai ilusi dan imajinasi, dan ada sebuah tempat dimana disana tidak ada ilusi yang menipu, dan disitu ada Cinta Sejati, yaitu ketika manusia mendapatkan keagungan CintaNya dari Allah al-Haqq.
Enta Omri, You are My Life adalah sebuah kesadaran akan kepemilikan cinta, bahwa dalam diriku terdapat entitas keagungan cintaMu. DiriMu beserta segenap ar-Rahman dana ar-Rahim menjadi sebuah eksistensi nyata yang bersemayam dalam jiwaku. Diriku telah terpenuhi secara penuh oleh hadirMu. Hidupku dan segenap kesadaranku hakikatnya menyatu dengan kehadiran dan eksistensiMu. Wujud menyatunya sebuah cinta abadi antara seorang makhluk tak berarti yang tak memiliki eksistensi dengan cintaNya sebagai sebuah keabadian. Semaikan lalu taburkan Cinta Ar-Rahman Allah bagi sesama makhluk, hingga tidak ada tempat bagi kebencian untuk hidup, yang ada hanyalah Rahman dan Rahim Allah yang menghubungkan kita sebagai sesama makhluk Tuhan. (*)


Tinggalkan Balasan