PEDULIRAKYAT.CO.ID, MAKASSAR — Laporan Badan Kesehatan Dunia atau WHO per Oktober tahun 2022, Indonesia saat ini adalah negara dengan penyumbang kasus TBC nomor dua di dunia dengan estimasi beban kasus 969.000 dengan kematian di angka 144.000 atau 16 orang meninggal setiap jamnya.

Terkhusus untuk wilayah Sulawesi Selatan pertahun 2021 mengalami peningkatan kasus. Namun untuk tahun 2022 mulai membaik dengan ditopang berbagi sektor. Hal tersebut dikemukakan langsung oleh Andi Juli Junus selaku Penanggunjawab Program Tuberkulosis (TB) Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan.

“Secara nasional 2021 sulsel angka penemuan kita 48,63%, kalau kita tarik Sulsel menjadi peringkat ke-9, untuk tahun 2022 angka kita sudah membaik 62,32% itu sesuai angka penemuan kita, namun kasus TBC masih terbilang tinggi,” ungkapnya pada kegiatan Konferensi Pers pernyataan bersama upaya kolaborasi penanggulangan Tuberkulosis, yang dilaksanakan oleh SSR Yamali TB Kota Makassar, di Hotel Khas Makassar, Jumat (23/12/2022).

Ia menambahkan bahwa kasus penemuan di tahun 2022 ini berkat kerjasama fasilitas layanan kesehatan dan berbagi sektor termasuk komunitas Yamali TB Sulsel.

“Kalau di tahun 2021 itu masih sangat terbatas, di tahun 2022 ini angkat penemuan pengobatan kita meningkat sehingga dibutuhkan kerjasama yang kuat lagi,” tuturnya.

Diketahui, sebelumnya atau tepatnya November lalu, dilakukan pertemuan komunitas dan pemangku kepentingan jejaring DPPM untuk Optimalisasi Pemenuhan Standar Pelayan Minimal Terkait Layanan TBC ini diikuti oleh berbagai pihak di antaranya Bangda Kemedagri, ADINKES Pusat, ADINKES Wilayah, Bappeda Kota Makassar, Dinas Kesehatan Kota Makassar, Ikatan Dokter Indonesia, hingga Asosiasi Klinik kota Makassar, serta beberapa perwakilan rumah sakit pemerintah dan swasta serta Puskesmas dan Kilinik percontohan.

Koordinator Program Yamali TB Sulsel Kasri Riswadi menjelaskan, melalui pertemuan tersebut, diusulan beberapa strategi kolaborasi dalam upaya pemenuhan standar layanan sebagai upaya peningkatan penemuan kasus baru TBC, di antaranya perlunya penguatan mekanisme dan upaya rujukan pemerikasaan orang terduga TBC dengan kolaborasi komunitas dan fasilitas layanan kesehatan (faskes).

“Optimalisasi strategi komunikasi TBC melalui pengembangan media KIE dan peningkatan keterampilan komunikasi persuasif bagi SDMK dan kader komunitas. Serta adanya integrasi kolaborasi multipihak untuk SPM dan jejaring DPPM dalam kerangka kerja FMS dan perencanaan partisipatif untuk penganggaran SPM TBC,” jelasnya.

Kasri berharap, usulan strategi kolaborasi tadi dapat membantu menyukseskan kegiatan eliminasi TBC di Sulawesi Selatan, khususnya di Kota Makassar.

Turut hadir dalam kegiatan ini RSUD Kota Makassar, Klinik Azka Nadhifa, SSR Yamali TB Makassar, SR Yamali TB Sulsel dan rekan rekan Media.

Stay connect With Us :