PEDULIRAKYAT.CO.ID, ENREKANG — Mahasiswa E-KKN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH ENREKANG melakukan observasi terkait dengan tradisi maballa yang dilaksanakan pada hari Sabtu 7 Agustus 2021 di Desa Rossoan Dusun Dadeko.
Kegiatan observasi ini sebelumnya telah mendapat izin dari Ketua Adat di Dusun Dadeko (sebutannya Bilala’)
Tradisi maballa adalah sebuah tradisi kebudayaan yang dilakukan dengan cara berkumpul dan makan bersama menggunkan alas makan daun jati. Daun jati sendiri dipilih karena dapat membuat makanan menjadi lebih wangi.
Maballa merupakan tradisi turun temurun yang telah ada sejak puluhan tahun yang lalu, bahkan sebelum kemerdekaan Republik Indonesia.
Menurut informasi yang di dapat dari Ketua Adat (Puang Sudi’) beliau lahir pada tahun 1931, dan tradisi Maballa ini sudah ada bahkan sebelum beliau lahir.
“tradisi Maballa ini sudah ada lama sekali, bahkan tidak bisa di perkiraan kapan mulai munculnya, tradisi maballa ini awalnya di bawa oleh Masyarakat Desa Kaluppini yang masuk ke Dadeko, lalu masyarakat Dadeko pergi ke Kaluppini dan pulang membawa tradisi Maballa yang kemudian berkembang hingga saat ini”. Ungkap Puang Sudi’ (Ketua Adat Dadeko)
Marwah salah satu anggota kelompok E-KKN UNIMEN mengungkapkan, bahwa tradisi Maballa ini ternyata juga di respon baik dari semua golongan, tak terkecuali anak-anak. Andira (10) mengatakan bahwa ia sangat suka dengan adanya tradisi maballa ini.
“Saya suka kalau ada Maballa karena kita bisa makan sapi dan kumpul sama teman-teman makan bersama-sama, seru sekali” ungkapnya dengan suara khas anak-anak, Senin (9/8/2021).
Selain itu juga Niar yang sebagai koordinator kelompok mengungkapkan Bahwa saya sangat takjub dengan tradisi atau budaya maballa di Dadeko, desa rossoan karena selain daripada mempertahankan eksistensi budaya tersebut mereka juga mampu menjadikan tradisi dari maballa ini sebagai ajang untuk memperkuat keharmonisan dalam bermasyarakat agar tetap terawat.
Masyarakat Dadeko memiliki kerja sama yang tinggi dalam upaya mempertahankan Tradisi Maballa ini yang ada sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu dan menjadi warisan para leluhur.


Tinggalkan Balasan