PEDULIRAKYAT.CO.ID, MAKASSAR — Cetak sejarah buruk pada Musyawarah Daerah (Musyda) XXII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sulawesi Selatan (Sulsel). Berlangsung di Gedung Serba Guna Kabupaten Maros, Sabtu 14 hingga Senin 16 Desember 2024.
Raihan Kader IMM UMI (PC IMM Makassar Timur) menyampaikan bahwa ia sangat menyayangkan dan sekaligus menolak hasil Musyda DPD IMM Sulsel, bukan tanpa alasan. Namun penolakannya didasarkan karena pada Pleno terakhir yaitu Pleno Pemilihan harusnya dilakukan Pemilihan, tapi tidak dilakukan Pemilihan, langsung saja Panitia Pemilihan (Panlih) menetapkan Ketua dan 12 formatur sebagai pembantu pimpinan dalam menyusun komposisi kepengurusan untuk satu priode kedepan.
“Kami menilai bahwa Musyda DPD IMM Sulsel sepanjang sejarah baru kali ini berlangsung tanpa proses Pemilihan. Sehingga Musyda kali ini adalah Musyda terburuk sepanjang sejarah,” ujar Raihan sesuai keterangannya kepada awak media, Rabu (18/12/2024).
Ia kembali menegaskan, bahwa atas nama IMM UMI mengutuk keras dan menolak hasil Musyda DPD IMM Sulsel yang dilakukan tanpa melalui proses pemilihan.
“Saya kira demi menjaga nama baik IMM SULSEL, riak-riak dari kader IMM Sulsel perlu didengarkan dan musyda dapat dilaksanakan dengan menjunjung tinggi nilai dan mekanisme yang diatur baik dalam Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga dan Tatib Pemilihan. Kalau tidak mengikuti aturan yang telah diatur, maka dipertanyakan Musyda ini apakah melahirkan pemimpin prematur atau formatur?,” tegasnya.
Lebih lanjut, bahwa sesuai tema Musyda DPD IMM Sulsel ini, mengusung tema yaitu “Menata IMM: Memajukan Sulsel”. Jika dimaknai lebih dalam maka seharusnya tidak seperti ini caranya.
“Harusnya untuk menata IMM menuju arah yang lebih baik maka proses musyda dibuat lebih bermartabat dengan menjunjung tinggi semua aturan dan Tatib yang berlaku,” ujar Raihan.
Sungguh, kata Raihan, sangat disayangkan jika musyda hanya diorientasikan untuk pergantian kepemimpinan dengan menghalalkan segala cara.
“Saya pikir IMM ini adalah wadah bagi kader kader untuk mendidik dan melatih dirinya bagaimana bisa manjadi pribadi yang baik dan berintegritas, baik secara personal, maupun dalam konteks organisasi,” jelasnya.
“Sehingga dengan pengalaman berorganisasi di IMM bisa menjadi modal dan bekal, ketika kedepan mendapatkan amanah yang lebih besar bisa menjalankan amanah dengan nilai-nilai yang baik, sebagaimana diajarkan melalui proses kaderisasi di IMM. Bukan justru sebaliknya menjadikan IMM sebagai wadah mencetak kader yang semata-mata berorientasi pada hasil dengan menghalalkan segala cara,” tutup Raihan.


Tinggalkan Balasan