PEDULIRAKYAT.CO.ID, MAKASSAR — Belakangan ini kamu pasti sering melihat keberadaan kopi keliling kan? Menggunakan sepeda listrik dengan desain gerobak minimalis, mereka berjejeran di pinggir jalan menjemput pembeli dengan harga mulai tujuh ribu rupiah.
Di Sulawesi Selatan, khususnya daerah Samata, Gowa keberadaan kopi keliling dengan konsep sepeda listrik mulai terlihat beberapa bulan belakangan ini.
Awal Mula Kopi Keliling
Melansir dari berbagai sumber, tren kopi keliling mulai meluas di Indonesia sekitar tahun 2020 saat pandemi Covid-19 melanda. Pembatasan aktivitas sosial termasuk kegiatan jual beli membuat banyak kedai kopi dan restoran menutup atau membatasi operasional mereka. Hal tersebut membuat para pelaku usaha mencari alternatif lain yang lebih praktis dan efisien untuk tetap bertahan. Dari sana lahirlah konsep kopi keliling.
Para pelaku usaha yang mulanya hanya memiliki kedai kopi mulai memodifikasi kendaraan mereka menjadi kedai kopi berjalan. Bentuknya bervariasi, mulai dari sepeda, motor, mobil van, hingga yang terbaru menggunakan sepeda listrik. Konsep ini tidak hanya memudahkan para pelaku usaha untuk tetap beroperasi, tetapi juga memberi kemudahan kepada konsumen untuk tetap menikmati kopi tanpa harus datang langsung ke cafe.
Di Sulawesi Selatan sendiri khususnya daerah Samata, Gowa mulai dari Jl. HM Yasin Limpo hingga area Bundaran Samata ada lima gerobak penjual kopi keliling yang bisa ditemui. Berbagai jenis brand menjajakan kopinya dengan harga mulai dari tujuh ribu rupiah.
Afdhal, salah satu penjual kopi keliling di Samata yang setiap hari berjualan di depan gerbang satu Kampus II UIN Alauddin Makassar mengatakan kopi keliling di Makassar sudah ada sejak enam bulan lalu.
Daya Tarik Usaha Kopi Keliling
Menariknya kebanyakan pelaku usaha kopi keliling digeluti oleh anak muda. Seperti yang dialami Muhammad Muslim Ramadan yang memutuskan berhenti dari pekerjaannya di restoran cepat saji dan memilih menjual kopi keliling sejak satu bulan belakangan. Menurutnya, menjual kopi keliling adalah pekerjaan yang simpel dan praktis .
Hal yang sama juga dirasakan Afdhal yang memilih berhenti bekerja di koperasi dan memulai berjualan kopi keliling. Baginya pekerjaan ini sederhana namun mendapat untung yang menjanjikan.
“Kalau saya dari segi gaji cukup, ditambah ada bonus juga tiap minggunya, “ tuturnya.
Penghasilan Kopi Keliling
Dari segi penghasilan, penjual kopi keliling dapat meraup pendapatan yang cukup besar. Afdhal membeberkan gaji pokok yang diperoleh tiap bulannya sebesar Rp. 2.000.000, ditambah bonus tiap minggu sebesar Rp. 500 ribu.
“Jadi dalam satu bulan itu bisa dapat sampai empat juta lebih,” katanya.
Begitu pula Davin, dengan gaji pokok sebesar Rp 1.800.000, kemudian ditambah bonus sebanyak jumlah cup kopi yang habis terjual.
“Perhitungannya satu gelas seribu. Misal bawa tiga ratus gelas habis semua, saya dapat bonusnya tiga ratus ribu,” jelasnya.
Cukup banyak varian rasa kopi yang ditawarkan pedagang kopi keliling diantaranya kopi susu, vanila, gula aren, pandan, caramel, hingga varian americano. Namun yang menjadi primadona ada pada varian rasa gula aren dan vanila. Uniknya, meski namanya kopi keliling namun ada juga varian non kopi yang ditawarkan. Seperti matcha, coklat, red velvet dan lainnya.
Potensi Usaha Kopi Keliling
Menurut Dosen Ilmu Ekonomi Aulia Rahman B, SE., M.Si usaha kopi keliling adalah potensi yang baik bagi anak-anak muda yang dapat menekan pergerakan angka pengangguran yang cukup tinggi khususnya di Sulawesi Selatan.
Baginya penjual kopi keliling berdampak positif bagi anak-anak muda yang punya keahlian, kreativitas dan dengan sedikit modal bisa berkontribusi dalam kegiatan ekonomi.
“Satu keuntungan bagi mereka yang saya lihat, karena mereka tidak sewa tempat. Dan saya lihat dia menawarkan harga lebih murah dan dia tidak punya tenaga kerja karena itu betul-betul dilakukan secara mandiri dan saya kira itu bagus untuk anak-anak muda kita di Makassar khususnya,“ ujarnya saat ditemui, Senin (25/11/2024).
Lanjutnya, dilihat dari sisi ekonomi ada dua aspek pasar konsumen kopi. Pertama dari sisi produk dan kualitas kopinya, kemudian yang kedua yakni minat konsumsi kopi masyarakat.
Dalam ilmu ekonomi, Rahman menjelaskan dikenal istilah segmen konsumen yaitu pembagian pelanggan menjadi beberapa kelompok berdasarkan kebutuhan, perilaku, atau karakteristik yang sama.
Untuk kelompok kopi tersedia segmen konsumen yang berbeda pula. Misal untuk kelompok penikmat kopi di cafe, hotel, atau kopi keliling.
“Jadi mereka itu punya pasar sendiri. Kopling punya pasar, warkop punya pasar, jadi tergantung pasarnya seperti apa dan itu potensi,” jelasnya.
Penulis Hardiyanti (Mahasiswa Jurusan Jurnalistik UIN Alauddin Makassar)


Tinggalkan Balasan