PEDULIRAKYAT.CO.ID – Menutup perjalanan studinya di dunia seni, M. Fadjriansyah Kumara, atau yang lebih dikenal sebagai Kumas Adjie, mempersembahkan sebuah karya khir tari bertajuk “KUMARA”. Sebuah pertunjukan emosional yang menyentuh kesadaran publik tentang dampak psikologis yang dialami oleh anak-anak korban perceraian.
KUMARA. maknanya menjadi sangat kuat dan emosional, mewakili jiwa-jiwa muda yang rapuh, terluka, tetapi memiliki kekuatan untuk bangkit dan menyembuhkan diri.
Kumas Adjie tidak memilih jalur aman. Ia berani menyelami isu sosial yang jarang diangkat ke atas panggung tari. Melalui KUMARA, ia mengajak penonton menyusuri perjalanan emosional seorang anak. Mulai dari keterkejutan, penolakan, luka batin, hingga menuju fase penerimaan dan harapan.
Tak hanya kuat dalam konsep narasi dan gerak, Kumas Adjie juga menghadirkan pengalaman visual yang mendalam. Ia menggunakan drum bensin bekas sebagai properti utama, melambangkan kekosongan, keterasingan, dan kerasnya dunia yang dihadapi sang anak. Selain itu, pertunjukan ini semakin dramatis dengan hadirnya efek hujan buatan, hasil kolaborasi dengan dukungan dari tim pemadam kebakaran (damkar), yang menyiramkan air hujan ke atas panggung saat adegan klimaks berlangsung.
“Drum kosong itu seperti hati yang retak,sepi, nyaring, tapi diabaikan dan lambang hati yang berteriak dalam sepi. Sedangkan hujan adalah metafora untuk kesedihan yang tak bisa dibendung, namun juga menjadi awal dari penyembuhan yang akhirnya menemukan jalannya sendiri” jelas Fadjri.
Setiap gerakan KUMARA penuh emosi: tubuh yang gemetar, langkah yang tertatih, hingga akhirnya melompat bebas di bawah guyuran hujan menciptakan gambaran visual yang memukau tentang rasa sakit dan keteguhan.
Dengan tubuh yang menggigil di bawah guyuran hujan, gerakan gemetar yang bertransformasi menjadi lompatan kebebasan, dan latar ruang urban sederhana, KUMARA memberikan dampak emosional yang kuat kepada siapa saja yang menyaksikannya.

Karya ini menuai apresiasi luas, baik dari kalangan akademisi, praktisi seni, maupun penonton umum. Banyak yang memuji KUMARA sebagai karya tari sosial yang berhasil membaurkan kekuatan estetika, kritik sosial, dan eksplorasi properti panggung secara inovatif.
Melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok, Kumas Adjie juga memperkenalkan KUMARA ke khalayak yang lebih luas. Potongan-potongan video pertunjukan dengan latar hujan dan drum besi itu menarik perhatian ribuan warganet, memperkuat pesan bahwa tari bisa menjadi alat penyadaran dan penyembuhan emosional.
“Setiap tetes hujan di atas panggung itu adalah air mata yang akhirnya diterima. Setiap pukulan di drum kosong adalah jeritan yang akhirnya didengar,” tambah Fadjri.
Ke depan, Kumas Adjie berencana mengembangkan KUMARA menjadi program berbasis seni untuk anak-anak dan remaja yang mengalami trauma keluarga. Ia ingin membawa tari lebih jauh, bukan hanya sebagai hiburan, melainkan juga sebagai terapi jiwa dan ruang aman untuk menyuarakan luka yang tersembunyi.
Dengan karya KUMARA, Kumas Adjie mempertegas dirinya bukan hanya sebagai penari, tapi juga seniman perubahan yang percaya bahwa dari selembar gerakan, sebuah revolusi hati bisa lahir.
Di dalam sunyi, KUMARA menari. Di dalam luka, KUMARA bermimpi. Karena jiwa yang kuat selalu lahir dari perjalanan yang penuh air mata. KUMARA mengajarkan bahwa bahkan hati yang paling retak sekalipun mampu menemukan ritmenya kembali, selama ia percaya untuk terus bergerak.


Tinggalkan Balasan