PEDULIRAKYAT.CO.ID, MAKASSAR — Presiden Jokowi, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Sosial Tri Rismaharini bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, tiba-tiba langsung mengumumkan kenaikan harga BBM, Sabtu (3/9/2022) kemarin.
Diketahui, kenaikan harga BBM Subsidi dan Pertamax ini akan mendorong inflasi ke angka 9 persen. Setiap kenaikan harga BBM 10 persen akan berkontribusi pada inflasi sebesar 1,2 persen. Dengan harga Pertalite yang dibanderol Rp 10.000 per liter maka ada kenaikan 31 persen. Sedangkan Solar yang dibanderol Rp 6.800 per liter mengalami kenaikan 31 persen.
Ketua BEM FAI, Hidayat Tandju mengatakan, bahwa kenaikan harga BBM ini di tolak oleh berbagai pihak. Karena hal ini berdampak pada stabilitas ekonomi masyarakat. Bukan hanya segelintir masyarakat namun sejumlah organisasi daerah maupun BEM se-Indonesia khususnya BEM FAI Unismuh Makassar mengecam kenaikan BBM yang memberikan dampak negatif kepada masyarakat.
“Saya selaku Ketua terpilih BEM FAI Unismuh menyayangkan sikap yang di ambil oleh presiden, bahwa pemerintah harusnya mengevaluasi soal harga BBM bersubsidi sebelum memutuskan kenaikan harga BBM atau paling tidak mempertahankan harga saja,” kata Hidayat, kepada pedulirakyat.co.id, Minggu (4/9/2022).
Dari awal, adanya wacana terkait kenaikan harga BBM publik sudah pada tidak sepakat, karena kondisi masyarakat babak belur akibat pandemi, masih belum pulih. Sehingga jangan pemerintah berpartisipasi dalam menambah beban rakyat, kata ketua BEM FAI, Hidayat Tandju
“Segala pertimbangan harus sesuai dengan asas kepedulian terhadap rakyat, kami mengutuk keras rezim Jokowi-Ma’ruf yang tidak peduli dengan bangsa Indonesia. Kenaikan harga BBM adalah bukti nyata ketidakpeduliannya kepada masyarakat indonesia,” tegas Hidayat.


Tinggalkan Balasan