PEDULIRAKYAT.CO.ID, BULUKUMBA — Kontroversi politik kembali memanas di Bulukumba menjelang Pilkada 2024, setelah pernyataan seorang mantan calon legislatif (caleg) yang menyebut masyarakat sebagai ‘dongo’ alias bodoh jika tidak memilih petahana.

Pernyataan itupun menuai banyak reaksi keras dari berbagai kalangan, termasuk eks juru bicara (jubir) petahana, Mukhrijil Hayyan yang mengajak seluruh pihak untuk tetap bersikap santun dan bijaksana dalam berpolitik.

Komentar kontroversial eks caleg tersebut dilontarkan dalam sebuah grup whatsapp ‘Warga Bulukumpa-Rilau Ale’, di mana dia menekankan pentingnya dukungan untuk Andi Muchtar Ali Yusus atau Andi Utta yang berstatus petahana.

Ia menyebut bahwa masyarakat yang tidak mendukung petahana dianggap tidak cerdas dalam memilih pemimpin. Pernyataan ini segera mendapat perhatian luas dan memicu kekecewaan di berbagai lapisan masyarakat Bulukumba, yang merasa terhina dan disudutkan.

“Pokoknya yg merasa dinda yg tdk mendukung Krg Utta utamanya di Blkpa dan Rilau Ale. Bilang Memangmaki Daftar Namanya. biar Dapat Di Tau Kalo itu Orang Dongo,” tulis Andi Muhtiar dalam grup obrolan tersebut.

Mukhrijil Hayyan yang akrab disapa Yayank, mantan jubir petahana yang kini mendukung pasangan Jamaluddin M Syamsir dan Tomy Satria Yulianto (JADIMI) langsung memberikan respon.

Mantan Ketua Cabang HMI Bulukumba itu menyerukan agar semua pihak, baik pendukung maupun penantang, tetap mengedepankan kesantunan dan etika dalam berpolitik.

“Politik adalah tentang pengabdian kepada masyarakat, bukan tentang merendahkan mereka. Setiap warga negara berhak memilih sesuai hati nurani mereka, dan kita harus menghormati pilihan tersebut tanpa harus menghina atau menuding mereka ‘dongo’ atau tidak cerdas,” ujar Yayank.

Lebih lanjut, Yayank mengajak seluruh pendukung politik, baik dari kubu petahana maupun penantang, untuk bersikap bijak dalam berkampanye kandidat. Menurutnya, penghinaan terhadap masyarakat hanya akan memperkeruh suasana dan mencederai demokrasi.

“Sebagai politisi, kita seharusnya memberi contoh baik dalam komunikasi publik. Menghina masyarakat hanya akan merusak kepercayaan publik terhadap kita. Kita harus tetap berpolitik dengan santun dan penuh rasa hormat,” tambahnya.

Pernyataan Iwan tersebut mendapat dukungan dari berbagai kalangan, terutama para tokoh masyarakat dan akademisi yang menekankan pentingnya etika politik.

Mereka mengingatkan bahwa dalam demokrasi, hak pilih masyarakat adalah sesuatu yang harus dihormati, dan setiap individu berhak menentukan pilihannya tanpa tekanan atau intimidasi.

Dengan situasi politik yang semakin memanas di Bulukumba menjelang penetapan calon pada Pilkada Bulukumba 2024.

Seruan untuk menjaga kesantunan dan saling menghormati diharapkan dapat meredakan tensi dan mendorong terciptanya suasana pemilihan yang damai dan demokratis.

Sekadar diketahui jika pernyataan H Muhtiar di grup tersebut juga mengundang banyak tanggapan dari peserta grup. Hal itu cukup disayangkan dan dianggap tidak mencerminkan sosok yang beretika.

Salah satu peserta grup tersebut yakni Basri Lampe yang menaggapi pernyataan H Muhtiar, bahwa beda pilihan itu biasa terjadi, jangankan 1 Kecamatan satu rumah saja biasa berbeda.

“Semoga tdk dongo ja kandaπŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“ sy kira ini demokrasi, dan soal beda pilihan biasa terjadi, jangankan 1 Kecamatan, dlm 1 rumah sj kadang beda pilihan ki. Keterlaluan jg cara ta mendukung ini kanda, menjas orang dongo (bodo) kalau tdk pilih pak Utta. Marilah saling menghargai perbedaan.πŸ™πŸ™πŸ€πŸ€,” tulis Basri Lampe.

Kemudian Jawab H Muhtiar “yang merasa saja dinda”. Selanjutnya, tanggapan Basri Lampe. “Maksudnya yg merasa bagaimana kanda? Sy tdk merasa dongo dan hebat jg tdk mendukung p Utta. Intinya sy, hanya manusia biasa ji yg pastinya punya kekurangan dan mungkin jg punya kelebihan walaupun sedikit kasian hehehe. Tentunya, selaku sesama pendukung dmnpun berada dan siapapun itu, tdk bagus mengeluarkan kata2 kalau tdk pilih sih A, dongo ki. Sekali lgi, perlu saling menghargai perbedaan dan sama2 kita jln ke keluarga dan tmn2 untuk mengajak bergabung ke dukungan ta sesuai aturan yg ada.πŸ™πŸ™πŸ€πŸ€,” tulisnya lagi Basri Lampe.

Kembali ditanggapi H Muhtiar, “Nah ini Mantap.Kalo Sudah Mengakui akan Dirinya . Saya Juga Merasa Bukan Orang Bodo . Saya Menilai Kepemimpinan A.UTTA di 3 tahun Ini Sudah Memperliahatkan pembangunan Hasil nyatanya Di Mata Masy . bukan Cerita Dan Janji Janji Semata Tapi Kenyataan,” tulis Muhtiar.

Terakhir, tanggapan Basri Lampe, “Terlepas dari itu kanda, kita ok2 sja soal penilaian ta sukses silahkan. Tpi hargai jga soal sikap orang lain dlm perbedaan di Pilkada ini. Krna tdk bisa dipaksakan semua orang bahwa p Utta itu baik dan bagus pembangunannya. Karena pada prinsipnya kanda, setiap pemimpin ada masanya dan setiap masa ada pemimpinnya, jdi siapapun jdi pemimpin maka masa mu lah berbuat untuk kemajuan sebuah daerah kita cinta ini yaitu Butta Panrita Lopi. Sekali lgi kawan2 mari kita saling menghargai perbedaan, janganlah saling menilai bodo orang lain jika bda pilihan. πŸ™πŸ™πŸ€πŸ€,” tulis lagi Basri Lampe dan tidak ditanggapi lagi oleh Muhtiar sampai dia dikeluarkan di Grup WA itu.

Stay connect With Us :