PEDULIRAKYAT.CO.ID, JAKARTA — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FKIP Uhamka menggelar Rupelis alias Ruang Pelatihan Menulis 2022 yang digelar secara virtual pada Sabtu (8/1). Kegiatan pelatihan menulis esai kali ini menghadirkan direktur Penerbit Irfani yang juga esai dan pengrajin puisi, Ahmad Soleh.

Dalam kesempatan ini, Soleh membagikan pengalaman seputar proses kreatif menulis esai kepada sekitar 60 peserta yang merupakan mahasiswa FKIP Uhamka. Soleh menyebutkan, menulis esai sebetulnya mudah apabila kita sering berlatih.

Dia melanjutkan, esai merupakan opini atau pandangan subjektif penulis terhadap suatu isu atau permasalahan. “Namun, dalam dunia jurnalistik, esai berbeda dengan opini. Opini mengedepankan pandangan objektif dan argumentatif, sedangkan esai bersifat intuitif dan reflektif,” ungkapnya, Sabtu (8/01/2022) kemarin.

Jadi, kata dia, esai lebih mengedepankan perenungan penulis terhadap objek kajian tulisannya. “Misalnya, kita menulis esai soal pendidikan, politik, atau budaya, itu ditulis dengan perspektif kita sebagai apa, sebagai mahasiswa, sebagai aktivis, atau praktisi? Posisi dan peran kita dalam tulisan jadi karakter buat esai yang kita tulis,” ungkap Soleh.

Selain itu, soleh juga berbagi pengalaman mengatasi hambatan saat menulis. Misalnya, ketika mengalami kemandekan, Soleh menyarankan agar penulis membuka kembali bacaannya, meluangkan waktu untuk merenung, dan melakukan refreshing.

“Kemandekan itu pasti pernah dialami oleh setiap penulis. Kalau kita mengalami kemandekan, maka kita perlu membuka kembali referensi kita, selain itu kita juga perlu lebih banyak merenung dan merefresh diri,” ujarnya.

Hambatan lain yang sering dialami penulis adalah tidak percaya diri atau takut dengan kritik. “Hal itu sebetulnya tidak perlu ditakutkan, kita harus yakin dengan apa yang kita tulis. Meskipun tidak menutup dengan kritik atau masukan yang akan hadir, justru dengan kritik itu kita bisa menyempurkan esai yang kita garap,” ungkapnya.

Terakhir, penulis buku IMM Autentik ini memberikan pesan kepada peserta. “Menulis itu mengasah pikiran, mengasuh perasaan. Karena dengan menulis kita sedang menajamkan nalar intelektual, berpikir sistematis, dan mengaktifkan intuisi. Menulis juga membuat kita lebih peka terhadap lingkungan sekitar,” katanya.

Stay connect With Us :