PEDULIRAKYAT.CO.ID — Dalam sebuah wawancara bersama M. Aminullah, seorang Wakil Pialang Berjangka, saham, dan kripto. Analis pasar modal dan keuangan global terkenal tersebut memberikan alasannya kepada media.

“Jawabannya, adalah tidak benar. Sebab, fakta membuktikan bahwa nilai aset kripto pada akhirnya dipengaruhi kebijakan Bank Sentral US atau oleh The Fed dengan berbagai kebijakannya. Bahkan kebijakan pemerintah akan dengan mudah dapat memengaruhi nilai atau harga dari suatu aset kripto melalui kebijakannya yang bisa pro atau bisa kontra terhadap aset kripto,” beber M. Aminullah.

M. Aminullah menambahkan bahwa dollar adalah mata uang yang merajai pembayaran dan transaksi keuangan dunia.

“Kita tahu bahwa tolok ukur nilai aset kripto di-pairing atau dipasangkan dengan nilai 1 USD. Hal ini dilakukan karena memang USD merupakan mata uang yang menguasai lebih dari 60% transaksi keuangan di dunia.

Pergerakan USD ini dipengaruhi oleh The Fed selaku Bank Sentral sekaligus sebagai poros utama dunia yang memengaruhi seluruh aktifitas perekonomian global.” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut M. Aminullah membeberkan rincian hal-hal yang dapat memengaruhi pergerakan market kripto yaitu sebagai berikut:

(1) Kripto saat ini telah terkategori sebagai Risk Assets seperti halnya saham, yang mana naik dan turunnya bergantung pada Minat Resiko Investor (Risk Appetie). Minat Resiko Investor ini tercermin & dapat dilihat di Bitcoin Fear & Gread Index. Minat Resiko Investor akan dipengaruhi oleh faktor utama seperti: Situasi Geopolitik dan Kebijakan Suku Bunga The Fed.

Kenaikan suku bunga The Fed akibat inflasi US yang 8,2% akan membuat Investor melakukan diversifikasi aset (pengalihan pembelian) dari pembelian Aset Beresiko (Saham & Kripto) ke Aset yang memiliki imbal hasil atau profit dari naiknya Suku Bunga seperti: Obligasi US (US Treasury 30-y dan US Treasury 10-y).

(2) Yang walaupun USD memengaruhi nilai aset kripto. Developer atau Market Maker atau Tokoh Tertentu Aset Kripto dapat melakukan intervensi market yang mendorong sentimen positif trader agar tetap melakukan pembelian aset kripto. Contoh kasusnya adalah Aset Kripto Meme Coin (Doge Coin Shiba Inu Coin) Menguat Tajam di tengah penguatan USD.

Khususnya Doge Coin, nilainya telah menguat tajam sebesar +15,25% pada 27 November setelah secara resmi Elon Musk berhasil mengakuisisi Twitter 100%, dengan Saham Twitter senilai 44 Milyar USD. Sentimen Positif Elon Musk dan Twitter-nya telah mendorong Doge Coin naik selama 7 hari dengan total kenaikan hingga +91,75%. Kenaikan Doge Coin memang disebabkan oleh twit Elon Musk yang berjanji akan melakukan integrasi Crypto Payment pada Twitter. Salah satu crypto payment tersebut digadang-gadang sebagai Doge Coin & Shiba Inu Coin berdasarkan history tweet Elon Musk.

(3) Update Berita dari Developer Kripto. Contoh kasusnya adalah update pada Jaringan Blockchain Etherum ($ETH). $ETH menguat Tajam selama 6 minggu dari 4 Juli 2022 ($1072,95/koin) hingga 16 Agustus 2022 ($2031,13/koin) setelah munculnya sentimen positif dari $ETH yang akan mengubah Sistem Reward jaringannya dari Sistem POW (Proof of Work) menjadi Sistem POS (Proof of Stake). Saat itu, $ETH terus Naik karena $ETH POS diyakini akan membuat gas fee transaksi di blockchain Etherum akan murah. Namun sayangnya, Developer membantah isu ini bahwa ‘the merge to POS will not result in lower gas fee’, seperti yang dikutip oleh Website Coin Telegraph.

(4) Selain dari good news pada update kebijakan Kripto dari Developer Kripto, pergerakan kripto saat ini dipengaruhi oleh pergerakan USD sebagai pair atau nilai tukar landasan dari nilai mata uang kripto itu sendiri.

Sehingga, jika USD terus Menguat Naik, maka Kripto berpeluang besar untuk TURUN jikalau tidak ada Counter News berupa Good News dari Developer atau Market Maker/Exchange atau Tokoh Berpengaruh Kripto, misalnya: Elon Musk selaku Tokoh Pendukung Blockchain.

Naik dan turunnya USD bergantung pada Data & Kebijakan Ekonomi Negara Lawan Pasangan Mata Utama USD, Data Ekonomi US dan kebijakan The Fed.

Kebijakan The Fed dapat berupa Kebijakan Tapering, Kebijakan Kenaikan Suku Bunga dan Kebijakan Balance Sheet. Umumnya, kebijakan Suku Bunga merupakan kebijakan yang sangat ditunggu dan memengaruhi market kripto.

Berikut adalah logika ekonomi Suku Bunga dan Market Kripto: Suku Bunga Naik -> Demand/Permintaan Obligasi US Naik -> Demand USD Naik -> Index USD Naik -> Demand Risk Asset Turun -> Nilai Kripto Turun. Contoh studi kasusnya adalah Kripto mulai berada dalam Crypto Winter (Trend Turun) yang ditandai dengan penurunan tajam Bitcoin dari ATH-nya di level $69.044,77/koin yang dimulai pada 10 November 2021 sebagai akibat diumumkannya Monetary Tighthening (Tapering Off, Suku Bunga Naik & Balance Sheet Reduction) oleh The Fed.

(5) Terakhir, Pemerintah juga dapat memengaruhi nilai tukar atau bahkan keberlangsungan project kripto melalui intervensi market oleh Regulator atau Pembuat Kebijakan seperti: SEC US.

Salah satu project yang nasibnya berada di ujung tanduk selama beberapa tahun terakhir akibat regulator adalah Koin Ripple ($XRP). Hingga kini Ripple Labs selaku Developer $XRP masih bertarung melawan SEC di pengadilan US. Jikalau Ripple Labs bisa menang melawan SEC melalui pembuktian baru dari Hinman Dokumen, yang menyatakan bahwa Ripple bukan Sekuritas, maka nilai $XRP memiliki harapan untuk menuju Nilai Harga Tertinggi Sepanjang Masanya (ATH) pada April 2021 di $1,9669 pada April 2021.

“Sehingga, berdasarkan uraian-urain di atas dapat disimpulkan bahwa ada banyak faktor utama yang memengaruhi Market Kripto yang salah satunya adalah karena kebijakan Bank Sentral US (The Fed) dan intervensi Regulator.” tambahnya.

Ketika ditanya bagaimana dengan sistem Bitcoin dan mata uang kripto lainnya, apakah memiliki sistem lain yang berbeda.

“Bitcoin dan mata uang kripto lainnya memang memiliki sistem desentralisasi. Namun tetap saja, yang menggerakkan pasarnya adalah investor yang bergantung pada Minat Resiko Investor (Risk Appetie). Investor akan membeli Risk Asset, seperti saham dan kripto jikalau situasi sosial, geopolitik, dan ekonomi dunia sedang berada di sentimen yang bagus atau good sentiment. Kenaikan suku bunga The Fed merupakan bad sentiment bagi Risk Asset seperti kripto dan saham.” tutupnya.

Stay connect With Us :