Oleh: Fokky Fuad Wasitaatmadja (Dosen Fakultas Hukum Universitas Al Azhar Indonesia)
PEDULIRAKYAT.CO.ID — Tasawuf seringkali dimaknai sebagai perilaku klenik. Praktik perilaku tasawuf acapkali difahami sebagai perilaku irasional, karena melakukan perbuatan yang dianggap diluar akal. Hal ini mengakibatkan tasawuf seringkali mendapatkan tuduhan sesat, bid’ah, dengan ragam argumentasi yang terbangun.
Tasawuf hakikatnya adalah sebuah ilmu pengetahuan yang berkarakter rasional. Rasionalitasnya terletak pada konsep pendidikan akhlak manusia. Ia mengajak manusia untuk menyelami hakikat keberadaan dirinya, memahami untuk apa ia ada, serta guna dari penciptaan atas dirinya. Tasawuf sebagai sebuah ilmu pengetahuan mencoba untuk merekonstruksi jiwa manusia yang telah terikat oleh gagasan materialisme. Bahwa segala yang benar selalu dikonstruksi sebagai kebendaan.
Tasawuf adalah ilmu akhlak, membangun kembali moralitas manusia sebagai makhluk bertuhan. Tasawuf berkontribusi pada pembentukan moralitas suatu kaum atau bangsa. Sebuah tatanan nilai imateri yang sejatinya tetap tertanam dalam kesadaran manusia bertuhan. Rasionalitas ilmu pengetahuan sendiri mengalami proses materialisasi pengetahuan sejak abad XV hingga kini. Bahwa kebenaran sebuah ilmu hanya jika ia dapat diletakkan dalam ruang rasionalitas logika. Tuhan dan segala pengetahuan imateri tidak dapat lagi diterima sebagai kebenaran objektif karena ia berada dalam konstruksi imateri.
Tuhan disimpan dan terkunci rapat dalam ruang teologi yang dianggap sebagai sebuah kebenaran subjektif. Tuhan adalah rasa subjektif manusia, yang akan dirasakan secara berbeda-beda oleh setiap manusia. Sejatinya hakikat bertuhan adalah realitas objektif, karena ia telah dirasakan oleh manusia sejak ia tercipta. Konsep penyembahan Tuhan telah ada sejak beribu abad lamanya hingga kini. Jika itu dianggap sebagai pengalaman subjektif lalu bagaimana milyaran manusia sejak lama meyakini sebagai kebenaran hingga kini?
Tasawuf mengajak manusia menyelami jiwa bertuhan, ia sebagai pemenuhan kebutuhan mendalam manusia, ia merefleksikan sebuah kesadaran atas kekuasaan Allah dalam dirinya. Ia adalah refleksi jiwa religius manusia, sesuatu hal yang bersifat mendasar karena ia sebagai bahan pembentukan perilaku bermoral. Tasawuf mengajak manusia dari keterasingan jiwa akibat konstruksi materialisme pengetahuan yang telah menyelimuti alam rasionalitas manusia. Tasawuf diharapkan mampu membentuk peradaban manusia moderen tanpa kehilangan sifat Ketuhanan dalam diri manusianya (Muhajir Ilallah, 2022).
Manusia yang seakan lupa atas eksistensi Allah dalam jiwanya, bahwa Allah sebagai causa prima atas segenap eksistensi yang ada. Allah yang tidak membutuhkan manusia, tetapi justru manusia yang membutuhkanNya. Tasawuf menyadarkan bahwa manusia bukan semata komponen fisik dan akal, melainkan juga terdiri atas jiwa dan ruh. Struktur komponen ruh yang tidak terjangkau, sedangkan komponen jiwa yang dapat terjangkau dan teraba rasionalitas. Kerusakan atas jiwa berdampak pada kegagalan pembentukan moralitas manusia. Ia bagai jasad tak berjiwa, melangkah hanya dalam akalnya. Realitas yang tertangkap adalah segala yang teraba akal, tetapi tak terangkum dalam akhlaknya. Tasawuf bukan semata membangun relasi ketuhanan tetapi juga moralitas kemanusiaan (Happy Syafaat Sidiq, 2024).
Tasawuf menghadirkan manusia bermoral, ia menyadarkan ketiadaan eksistensi manusia karena yang eksisten hanyalah Allah. Dia yang menjadikan segalanya ada, tanpa ada yang menjadikanNya. Dia yang tak membutuhkan ruang dan waktu tetapi menjadi causa atas berjalannya segala waktu dan berubahnya ruang. Manusia hanyalah percikan bayangan cahaya Allah yang melangkah dalam ketiadaan. Segala yang ada selainNya hakikatnya adalah ketiadaan. Eksistensi yang tiada yang tak layak dibanggakan tampaknya.


Tinggalkan Balasan