Oleh: Fokky Fuad Wasitaatmadja (Dosen Program Magister Hukum Universitas Al Azhar Indonesia)

Ketakbermaknaan & Kebermaknaan

PEDULIRAKYAT.CO.ID — Ketakbermaknaan dalam tulisan ini memiliki pengertian ketiadaan eksistensi dalam sebuah ruang. Ketakbermaknaan adalah ketiadaan peran dalam sebuah ruang diantara beragam subjek-subjek yang hadir di ruang tersebut. Manusia dalam hal ini adalah juga wujud ketakbermaknaan. Ia tak bermakna karena ia adalah zat yang lemah, ia adalah zat yang berumur pendek dibandingkan dengan panjang usia alam semesta ini. Ia tak bermakna dan begitu kecil dibandingkan luasnya alam semesta.

Ketakbermaknaan manusia bagai titik air yang menetes di hamparan samudera luas. Ia menghilang larut dalam milyaran kubik air. Sedangkan milyaran kubik air itu tak bermakna dihadapan hamparan milyaran bintang yang terserak. Eksistensi macam apakah apakah yang hendak dihadirkan oleh manusia kini? Kekayaan yang dimiliki Qarun, hingga kekuasaan yang digenggam oleh Fir’aun bagai titik debu ketika dihadapkan pada kekayaan alam semesta. Inilah hakikat makhluk bernama manusia yang dihadapkan di muka sesama makhluk lainnya, yang ternyata begitu kecil. Ia bagai tak hadir ketika semua makhluk itu disebut.

Ketakbermaknaan manusia ini menjadi tanda yang menyadarkan manusia, bahwa segenap keunggulan apapun yang dimilikinya tetaplah tak berarti dihadapan makhluk lainnya yang telah berperan sejak milyaran tahun jauh sebelum manusia itu ada. Penciptaan alam semesta menunjukkan adanya eksistensi Allah, bahwa Dia ada melalui tanda-tanda kebesaranNya berupa semesta yang begitu luas dengan jumlah benda langit yang tak terhitung banyaknya.

Jika benda langit yang terhampar adalah tanda kehadiranNya, lalu tanda itu ditujukan bagi siapa? Tanda itu menjadi tak bermakna jika tak ada satupun zat makhluk yang mampu melihat sekaligus membaca tanda yang menggambarkan kehadiranNya. Disinilah mengapa manusia diciptakan. Karena manusia yang dapat membaca tanda-tanda yang Allah ciptakan baik secara rasionalitas akalnya, maupun dayaguna pancaindera yang dimiliki oleh manusia (Qs.[3]:190-191).

Manusia menjadi subjek utama dimana hanya dialah yang mampu membaca tanda-tanda kehadiranNya melalui diciptakannya objek benda alam semesta. Benda langit tidak menyadari eksistensi dirinya, karena dia tak dapat membaca dirinya sendiri. Ia berposisi sebagai objek yang diperhatikan oleh subjek manusia. Tetapi jikapun benda langit tak memahami eksistensi dirinya sendiri, tetapi ia tampaknya mampu langsung berinteraksi denganNya (Qs.[24]:41). Benda langit mengetahui langsung bahwa Allah itu ada dalam segenap eksistensinya (Qs.[59]:21).

Manusialah yang dapat membaca tanda-tanda kebesaranNya, dengan itulah manusia memahami bahwa Dia ada. Bahwa Allah dikenal oleh makhluk bernama manusia, dan diturunkanNya kemampuan akal dan intuisi rasa, bahkan Allah sendirilah yang mengajarkan ilmuNya langsung kepada Adam sebagai manusia pertama (Qs.[2]:31). Bekal ilmu inilah yang pada hakikatnya adalah untuk memahamiNya (Qs.[51]:56).

Ketakbermaknaan manusia kini menjadi kebermaknaan, bahwa eksistensi manusia menjadi alasan terciptanya alam semesta. Bahwa alam dibentuk sebagai sebuah objek untuk difahami manusia, untuk itu pada akhirnya akan diketahui eksistensiNya terhadap segenap makhluk. Ketakbermaknaan manusia secara fisik diubah olehNya menjadi kebermaknaan dengan sebuah komponen akal yang tak diberikan olehNya kepada makhluk selain manusia. Disinilah gerak aktif akal adalah memahami untuk apa ia ada dihadapanNya. Inilah kehendak Allah bagi manusia sebagai khalifah. Bahwa ia kini menjadi pemimpin dari segenap alam semesta.

Ramadhan dan Eksistensi Manusia

Ramadhan menjadi sebuah bulan yang dihadirkan olehNya sebagai bentuk untuk memuliakan manusia. Ia menjadi sebuah keistimewaan bagi manusia karena di dalamnya terdapat beragam keutamaan: diturunkannya Qur’an, dihadirkannya lailatur qadr, dilipatgandakannya segenap amal kebajikan manusia, juga ditutupnya pintu neraka dan dibuka pintu surga.

Ramadhan menciptakan sebuah kemuliaan bagi manusia, bahwa ia dilengkapi dengan pakaian kemuliaan melalui hadirnya Ramadhan. Jika Allah menjadikan malaikat cemburu atas penciptaan manusia (Qs.[2]:30), maka Dia sendiri memberikan kemuliaan lagi yang begitu besar melalui hadirnya Ramadhan yang ditujukan bagi manusia (Qs.2:183). Manusia menjadi subjek yang dimuliakanNya melalui kebebasan kehendak dengan hadirnya akal. Manusia pun masih dibekali pedoman etik perilaku dengan diturunkannya Qur’an sebagai petunjuk hidup.

Eksistensi akal hanyalah sarana, ia sendiri bukan tujuan, maka akal tidak menjadikannya tuhan bagi manusia. Bahwa akal adalah sarana objektif untuk menentukan kehendak, yang dengannya ia dapat memberikan penilaian berupa salah dan benar, baik dan buruk, juga keindahan. Akal objektif yang menjadikan manusia mulia memperoleh pendampingan sekaligus penguatan melalui hadirnya Qur’an, yang diturunkan olehNya di bulan Ramadhan (Qs.[2]:185). Ketika akal diletakkan dalam ruang bebas tanpa nilai ia akan berpotensi menjadi angkuh dan menjatuhkan manusia dalam lembah kehancuran (Qs.[28]:78)

Kini manusia memiliki kemuliaan dalam gerak dinamika eksistensinya. Bahwa usia yang terbatas dibandingkan usia alam semesta tidak berarti ia tidak memiliki kemuliaan. Bahwa keterbatasan usia juga kekuatan manusia diubah menjadi kemuliaan melalui hadirnya Ramadhan bagi manusia. Bahwa manusia kini memperoleh mahkota kemuliaan berupa Ramadhan.

Bahwa manusia menjadi mulia ketika ia berada dalam lingkaranNya, ketika ia mencoba menjauh, maka ia akan mudah terjatuh. Hadirnya akal adalah untuk memahami bahwa Allah adalah pusat dari segenap gerak alam semesta dan juga manusia. Ruang dan waktu yang disediakan bagi manusia olehNya begitu terbatas, dan non-eksistensi manusia akan menjadi eksisten ketika ia melekat bersamaNya.

Rumi berujar dalam syairnya:

Bulan puasa telah datang, larangan raja mulai berlaku; jauhkan tanganmu dari makanan, hidangan rohani telah tersedia.

Puasa Ramadhan bagi manusia adalah menghadirkan jiwa-jiwa ruhaniyah. Bahwa kehidupan manusia ditentukan bukan atas dasar wujud fisiknya semata, melainkan hadirnya jiwa yang selalu melekat bersama Allah.

Hal ini diperjelas oleh Rumi dengan bait syairnya:

Puasa adalah upacara korban kita, ia adalah kehidupan bagi jiwa kita; mari kita korbankan badan kita, karena jiwa telah datang menjadi tamunya.

Puasa adalah mengorbankan sifat-sifat duniawi, puasa adalah sarana menghidupkan jiwa ruhani manusia. Manusia adalah subjek-subjek yang dihadirkan untuk mengenal dan memahami eksistensi Allah. Tanpa manusia, alam semesta menjadi tak berarti, dan untuk manusia alam itu dihadirkan. Kesemua proses sirkular dan relasi kausalitas ini berpusat pada kehendak Allah. Bahwa kehendakNya menjadi penyebab berputarnya alam semesta termasuk manusia di di dalamnya.

Allah berkehendak untuk memuliakan manusia dengan menghadirkan Ramadhan, sebuah bulan penuh kemuliaan. Disinilah antroposentrisme manusia tidak pernah berdiri sendiri, ia selalu melekat bersama dengan Allah sebagai pusat dari segala yang ada. Bahwa wujud kemuliaan manusia berasal dariNya, dan bukan dari eksistensi manusia itu sendiri.

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (Qs. Al-Israa [17]: 70)

Stay connect With Us :