Oleh: Munawir S. Sos. M.AP (Pengamat Politik dan Ketua DPW Perkumpulan Gerakan Kebangsaan Sulawesi Selatan)

PEDULIRAKYAT.CO.ID — Menjelang akhir tahun 2022 dan sampai awal tahun 2023 mencuat wacana akan di terapkan sistem proposional tertutup dalam pemilu, wacana ini menjadi salah satu trending topik yang menghiasai penutupan tahun 2022 sekaligus mewarnai awal tahun ini, kemungkinan akan terjadi perbedaan sistem penyelenggaraan pemilu di tahun depan (2024) yang akan di laksanakan oleh Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesi (KPU RI) semenjak era reformasi yang telah laksanakan sebanyak lima kali dimulai sejak tahun 2004.

Di tahun 2024 merupakan tanda bahwa akan bergulirnnya agenda perhelatan Akbar atau pesta demokrasi yang akan di rayakan oleh seluruh rakyat Indonesia dengan berbagai latar belakang suku, agama, ras dan profesi, untuk berpartisipasi dalam proses pergantian kekuasaan politik diberbagai lembaga Politik dan level kepemimpinan politik baik itu ditingkat daerah maupun Nasional secara konstitusi .

Perang wacana sistem pemilihan umum (Pemilu) pada tahun 2024 mengelindang seiring bergulirnya uji materi terhadap Undang-undang Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilu di Mahkamah Konstitusi (MK). Uji Materi penerapan tertutup dalam wacana pemilu 2024 kian meruncing, Bagaimana tidak semua fraksi di Senayan menolak gagasan wacana sistem pemilu tertutup yang dipelopori dan diinisiatori oleh kader- kader PDIP, sehingga pro dan kontrapun bersileweran di ruang ruang publik dan tak luput menjadi diskusi warung warung kopi.

Sistem proporsional tertutup bukanlah wacana baru melainkan pernah di peraktikan dimasa Orde lama dan Orde baru, sedangkan sistem proporsional terbuka telah diterapkan sejak Pemilu 2004 hingga sampai saat sekarang. Dalam sistem proposional terbuka dianggap memberikan amplifikasi terhadap domokratisasi dimana pemilih, memilih secara langsung wakil- wakil legislatifnya, baik ditingkat DPRD kabupaten dan, kota DPRD ditingkat Provinsi sekaligus Dewan perwakilan Rakyat Indonesia (DPR RI) yg berkedudukan di Senayan ( Ibu kota Negara). Dalam sistem proporsional terbuka, partai memperoleh kursi yang sebanding dengan suara yang diperoleh. Setelah itu, penetapan calon terpilih berdasarkan suara terbanyak

Hal yang berbeda berlaku jika sistem Proposional Tertutup diterapkan yakni partai politik mengajukan daftar calon yang disusun sesuai abjad angka dalam hal ini, nomor urut merupakan otoritas partai politik, dan melalui mekanisme proposional tertutup setiap partai menyajikan daftar kandidat dengan jumlah kursi yang lebih dibandingkan jumlah kursi yang dialokasikan untuk satu daerah pemilihan (Dapil), Selanjutnya Ketikan proses pemungutan suara dengan sistem proporsional tertutup, pemilih hanya memilih parpol tidak memilih atau mencoblos figur legislatif yg di inginkan. Kemudian setelah perolehan suara dihitung, maka penetapan calon terpilih ditentukan berdasarkan nomor urut.

Pro dan Kontra Sistem Proposional Tertutup dan Terbuka

Berbagai kalangan baik Akademisi, Praktisi, Politisi dan Pengamat menanggapi bahwa sistem proposional tertutup merupakan langkah mundur dalam demokrasi karena dianggap ini merupakan produk lama dan merupakan sistem yang menjayakan ke- emasan serta kelanggengan Kekuasaan orde baru, Sistem Proposional tertutup di sinyalir akan mengembalikan atau menghidupkan anasir anasir Orde baru misalnya berbagai kekhawatiran yg muncul diantaranya bahwa Pimilihan Kepala daerah yang berlaku saat ini adalah pemilihan langsung dari rakyat dimana rakyat diberi kesempatan dalam menentukan kepala daerah itu kemudian akan berubah menjadi proses pemilihan yg dilakukan oleh DPRD begitupun presidennya kembali ke MPR sebagai mandataris, karena salah satu tuntutan dari pemohon ke Mahkama Konstitusi dalam gugatannya untuk mengembalikan ke Sistem Proposional Tertutup yakni efesien anggaran pemilu.

Bagi pihak yang pro terhadap sistem proposional tertutup menilai sistem proporsional terbuka dapat mengoyak rasa persatuan dan kesatuan di masyarakat karena menimbulkan polarisasi, selanjutkan kader partai politik yang telah lama mengabdi dan berjuang di Partai dengan berlakunya sistem proporsional terbuka membuat hak mereka terbatasi dikarenakan sistem tersebut dianggap telah menimbulkan persaingan yang tidak sehat, yang menitik beratkan kepada aspek popularitas dan kekuatan modal dalam proses pemilihan umum akibatnya akan berdampak secara signifikan terhadap kader yang memiliki pengalaman berpartai dan berkualitas menjadi kalah bersaing.

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto
Sebagaimana yg di kutip salah satu media nasional Pemilu dengan sistem proporsional terbuka bisa memakan biaya hingga Rp 31 triliun pada 2024 nanti. Proporsional tertutup sangat tepat dalam konteks saat ini, yakni kita dihadapkan pada ketidakpastian secara global, sehingga Pemilu dengan sistem proporsional tertutup sangat tepat diterapkan dalam konteks saat ini dimana Indonesia sedang dihadapkan pada ketidakpastian dari imbas dinamika global.

Sistem proporsional tertutup bisa menghemat biaya dan menyederhanakan Pemilu. Dampaknya, kata dia, kemungkinan manipulasi berkurang sistem proporsional tertutup disebut Hasto akan membuat partai politik memilih calon legislatif berdasarkan kompetensinya pada Pemilu 2024. Harapannya, sistem ini akan menciptakan lembaga legislatif yang lebih berkualitas. Jadi proporsional tertutup itu base nya pemahaman terhadap fungsi dewan, sementara kalau terbuka adalah popularitas.

Dilema Para Elit Partai Politik

Perlu dicermati terkait wacana mengenai sistem pemilu Proposional terbuka dan Proposional tertutup, bergulirnya wacana tersebut sebenarnya menurut hipotesa penulis dikarenakan kecemasan para elit partai dilevel Nasional. Disatu sisi partai penggugat dalam hal ini PDIP tentunya mengalami kecemasan terhadap sistem pemilu saat ini, yakni sistem pemilu Proposional terbuka PDIP merupakan partai yang memiliki stok kader-kader ideologis yang berkapasitas dan berkredibilitas secara ideologis. Dibandingkan partai-partai lainnya dan sukses menghantarkan kader-kader ideologis menduduki jabatan penting, baik di eksekutif maupun legislatif namun seiring berjalannya sistem pemilu proposional terbuka kader-kader Ideologis yang sebelumnya sukses meraih kursi di legislatif mulai berguguran sebut saja Budiman Sujadmiko.

Siapa yang tidak kenal dengan sosok kader PDIP yang satu ini tokoh aktivis mahasiswa era reformasi yang vokal sekaligus berisi, isi kepalanya, dan sangat ideologis terhadap partai namun beliau terpental dalam pemilihan periode sebelumnya dengan sistem Pemilu proposional terbuka kecemasan inilah mungkin, menjadi pemicu untuk menggugat ke Mahkamah konstitusi agar dapat mengembalikan ke proposional tertutup. Seperti sediakala dalam rangka agar tetap terjaganya kelangsungan regenerasi kekaderan di tubuh partai yang berlambang Banteng moncong putih tersebut. Tidak bisa dipungkiri kokohnya Partai PDIP dengan dinamika dan terpaan yang mengguncang dalam iklim percaturan politik Nasional dari masa kemasa baik di era orde baru maupun reformasi dan di era reformasi menjadi dua kali pemenang beruntun atau berturut turut baik di legislatif, dan pilpres itu menandakan betapa berkualitas kader- kader mereka dan suksesnya para elit PDIP membangun kader kader Ideologis secara militan.

Sedangkan di pihak lain elit elit Partai partai seperti Demokrat, Golkar, Gerindra, PPP PAN PKS dan Nasdem juga mengalami kecemasan, akibat gerakan gerakan yang dibuat oleh kader-kader partai PDIP. Dengan terwacanakan proposional tertutup menjadi kegelisahan tersendiri bagi mereka yang kontra dengan PDIP sebab dapat menyebabkan kerugian terhadap perolehan kursi yang saat ini jika benar-benar wanacana proposional tertutup di anulir oleh Mahkamah konstitusi. Mengapa demikian asumsi penulis karena Partai partai yang kontra mengalami kekurangan stok kader-kader partai secara Ideologis, kalaupun ada Kader ideologis tidak mampu memperoleh kursi. Sehingga alternatif yang instan harus mencari sosok figur diluar kader politiknya yaitu figur yang populer sekaligus ditopangi kekuatan kapital, proses pencarian dan perekrutan figur populer dan memiliki kekuatan modal menjadi strategi efektif bagi partai yang kontra.

Untuk menambah perolehan kursi di legislatif atau setidaknya mempertahankan jumlah perolehan kursi yang ada, namun dengan bergulirnya wacana pemilu proposional tertutup membuat para figur yang bermodalkan popularitas dan kapital, baik yang telah bergabung dan akan bergabung menaruh kecurigaan terhadap fungsionaris elit partai. Karena figur-figur ini menjadi was-was terhadap kader-kader Ideologis Partai sebab kekewatiran mereka, jangan-jangan nantinya mereka hanya dimanfaatkan kefiguran dan cuan mereka untuk mendongkrak suara partai.

Ketika partai tersebut memenuhi syarat sebagai peraih kursi dalam suatu daerah pemilihan (Dapil) ternyata Kader Ideologis partai menjadi prioritas untuk duduk di kursi legislatif, dengan demikian wacana proposional tertutup sangat merugikan partai-partai yang kontra dan sekaligus partai-partai yang akan bertanding nantinya diperhelatan Akbar di tahun 2024. dibeberapa pemberitaan media massa beberapa partai yang kontra para elitnya mengatakan bahwa para bakal calon legislatifnya pada mengeluh bahkan mengancam untuk mengundurkan diri sebagai bakal calon legiatif bila proposional tertutup benar benar menjadi sistem penyelenggaraan pemilu legiatif di tahun depan

Kesimpulannya, bahwa Proposional tertutup versus Proposional terbuka dalam prespektif penulis bukanlah wacana yang subtansial buat rakyat dan masyarakat secara umum. Namun hanya sekedar sebuah kecemasan diantara para elit Partai politik, karena sebagian elit partai politik mengganggap bila proposional terbuka tetap menjadi acuan sistem penyelenggaraan pemilu di tahun depan dan seterusnya. Maka akan berpotensi mendegradasi bagunan sistem nilai-nilai ideologis kepartaian, yang selama ini sudah susah payah dibangun dan terbukti telah memberikan manfaat bagi kekokohan ke-eksistensian sebuah partai politik. Namun pada sisi lain sebagian elit partai telah nyaman dengan sistem proposional terbuka saat ini karena tidak butuh waktu lama dan bersusah payah untk mengeksiskan sebuah partai agar tetap eksis dan meraup berbagai keuntungan di dalamnya.

Stay connect With Us :