Oleh: Fokky Fuad Wasitaatmadja (Dosen Program Magister Hukum Universitas Al Azhar Indonesia)

PEDULIRAKYAT.CO.ID — Ramadhan bagi manusia Nusantara tidak sekedar merupakan ritual ibadah, melainkan juga membentuk ragam perilaku kultural tertentu. Dalam pendekatan interaksi simbolik, setiap objek yang ditatap oleh manusia tidaklah hadir tanpa makna. Objek yang muncul akan memperoleh simbol dan makna-makna tertentu yang dihadirkan oleh akal manusia. Suatu tindakan yang dilakukan muncul saat ia memberikan makna subjektif terhadap hal di luar dirinya (Ahmadi, 2008). Demikian pula dengan hadirnya Ramadhan, ia memperoleh pemaknaan-pemaknaan tertentu secara simbolik.

Simbol yang dihadirkan oleh sebuah objek dan ditatap oleh pancaindera dan difikirkan akan memunculkan makna-makna tertentu dan hal ini menentukan tindakan yang akan diambil oleh manusia. Perilaku manusia bertitik tolak dari makna simbolik atas objek (Shidarta, 2019). Jika Ramadhan diletakkan sebagai sebuah objek, maka ia memiliki beragam pemaknaan sehingga memunculkan simbol-simbol tertentu bagi manusia yang menatapnya.

Pertama, makna teologi. Manusia memandang Ramadhan sebagai bulan khusus yang mendapat simbol religius tertinggi sebagai bulan yang suci _(sacred)_ , dan di dalamnya Allah dirasakan hadir dalam kosmologi manusia jauh lebih intens dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya dalam kalender Islam.

Manusia menjadikan Ramadhan sebagai sebuah simbol-simbol kesucian, sehingga dalam bulan ini manusia melakukan perhatian secara penuh dengan membentuk perilaku-perilaku religius tertentu yang begitu berbeda dibandingkan jika ia berada dalam bulan lainnya. Manusia menjadi sangat produktif dalam aktivitas religiusnya (Yuwanto, 2013). Struktur kerja fungsi tubuh manusia digerakkan secara total untuk melakukan beragam aktivitas religius di dalamnya.

Perilaku religius berbentuk amal kebaikan hingga meningkatkan tempo ibadah menjadi lebih aktif dilakukan sebagai bentuk dari pemaknaan yang dihadirkan terhadap datangnya Ramadhan. Masjid yang sepi kini ramai dengan hadirnya ratusan manusia untuk menjalankan ibadah sholat tarawih, juga subuh, dan juga ramai pembacaan Kitab Suci al-Qur’an, hal yang sulit terjadi di luar bulan Ramadhan.

Kedua, makna budaya. Relasi budaya manusia juga ikut terbentuk ketika Ramadhan hadir berupa berjajarnya para penjual takjil dadakan di sepanjang jalan di sore hari menjelang berbuka, hingga di akhir menjelang Ramadhan muncul pula hiruk-pikuk pedagang kue, penawaran baju dalam menyambut lebaran. Munculnya tradisi buka bersama sehingga menjadi begitu sulit untuk mencari tempat berbuka puasa menjadi sebuah keuntungan bagi para pengusaha restaurant di bulan Ramadhan penuh berkah ini.

Jalan-jalan kecil dan jalan raya menjadi macet akibat hiruk pikuk manusia berkendara untuk menanti saat berbuka. Disinilah kemudian muncul istilah ngabuburit dalam tradisi masyarakat Sunda yang kemudian menyebar dan diterima di berbagai kebudayaan sebagai bentuk konstruksi pemaknaan atas hadirnya Ramadhan bagi manusia. Ngabuburit berasal dari kata ngalantung ngadagoan burit atau bersantai sambil menunggu waktu sore (Simbolon, 2019).

Desa-desa juga ramai dengan pengantaran makanan kepada tetangga di tengah Ramadhan untuk menyampaikan rasa hormat kepada yang lebih tua oleh yang lebih muda. Ramadhan tidak saja hadir dalam relasi teologi manusia, tetapi ia lebih jauh juga telah membentuk sebuah relasi budaya manusia. Bahwa Ramadhan dalam hal ini juga bermakna kebersamaan sosial, dimana setiap individu merasa terikat dengan yang lain dan Ramadhan menjadi sebuah moment kebersamaan.

Ketiga, makna ekonomi. Pembentukan budaya Ramadhan juga bermakna keuntungan ekonomi. Begitu besar nilai keuntungan bisnis yang dihasilkan selama bulan Ramadhan, dengan hadirnya pasar-pasar Ramadhan, termasuk pasar online. Kini Bulan Ramadhan tidak hanya memiliki simbol teologi kesucian tetapi juga membentuk simbol lainnya yaitu keuntungan materi karena di dalamnya juga terjadi transaksi ekonomi yang cukup besar. Ramadhan yang dimaknai oleh sebuah perilaku manusia, yaitu perilaku dagang yang berkarakter untung dan rugi. Dalam pendekatan _exchange theory_ dijelaskan bahwa sebuah perilaku akan dilakukan bahkan secara berulang jika ia memberikan sebuah keuntungan tertentu. Jika aku melakukan sebuah perbuatan tertentu, dan ternyata apa yang saya perbuat itu menimbulkan keuntungan bagiku, maka aku akan cenderung untuk melakukannya lagi untuk kali yang kedua atau bahkan lebih. Dalam kaitan dengan Ramadhan, maka bulan ini tidak hanya menjanjikan berlipatnya keuntungan atau pahala tetapi juga berlipatnya keuntungan materi bagi manusia.

Keuntungan yang diperoleh dapat berwujud materi kebendaan maupun bersifat imateri. Keuntungan yang diperoleh manusia menjadikannya mengulangi perbuatannya kembali untuk melipatgandakan keuntungan yang diperolehnya. Dalam bentuk imateri Allah melipatgandakan pahala bagi manusia yang berbuat kebajikan apapun di bulan Ramadhan. Faktor melipatgandakan pahala ini memotivasi manusia melakukan kebaikannya secara optimum. Dengan demikian makna teologi beririsan dengan makna ekonomi, karena ibadah manusia akan diganjar dengan hadiah pahala yang sangat besar.

Ramadhan Sebuah Kritik atas Perilaku

Ramadhan telah dibahasakan ke dalam budaya manusia. Bahwa Ramadhan telah mampu merubah perilaku manusia ke dalam sebuah intensitas kebajikan yang sangat optimum. Manusia membentuk sebuah perilaku budaya akibat pemaknaannya atas objek bernama Ramadhan.

Ramadhan telah memberikan keuntungan bagi manusia, baik dalam ruang teologi berbentuk pelipatgandaan pahala maupun dalam relasi sosial berupa pelipatgandaan keuntungan bisnis akibat dari transaksi ekonomi yang terjadi selama bulan Ramadhan. Tidak jarang ditemui pengeluaran keuangan rumah tangga yang lebih besar pada saat bulan puasa Ramadhan dibandingkan di luar bulan puasa. Ramadhan juga memunculkan perilaku konsumtif (Sari Lubis, 2021). Pengeluaran yang besar seimbang dengan pemasukan yang tidak kecil selama Ramadhan. Inilah bulan yang juga memberikan nilai lebih bagi banyak keluarga di Indonesia.

Ramadhan secara tidak langsung juga telah memberikan kritik konstruktif kepada manusia, bahwa ia hadir sebagai bulan yang istimewa tetapi bukan menjadikannya sebagai sebuah simbol atas hubungan transaksional semata. Ia hadir sebagai bentuk hadirnya Allah dalam tiap diri manusia. Ramadhan adalah sarana untuk mendekat lebih jauh ke dalam cintaNya sehingga tidak ada lagi kemegahan dunia di dalam hati selain hanya Dia semata.

Ramadhan sendiri adalah bentuk pelatihan perilaku manusia untuk lebih peduli baik terhadap hubungan antara dirinya dengan Allah, maupun dengan saudaranya. Berakhirnya Ramadhan sesungguhnya menjadi awal praktik perilaku manusia yang telah ditempa selama Ramadhan. Apakah perilaku manusia setelah berakhirnya bulan Ramadhan juga merefleksikan apa yang ia lakukan selama berada dalam bulan Ramadhan tersebut?

Berakhirnya Ramadhan acapkali berakhir pula perilaku kebajikan yang sering ditampilkan dalam bulan Ramadhan. Hal ini menjadi kritik bagi manusia, seharusnya perilaku yang ditampilkan dalam bulan Ramadhan juga terefleksikan dalam perilaku sehari-hari ketika berada di luar Ramadhan. Tampaknya teori interaksi simbolik dan teori pertukaran ini membuktikan perilaku untung rugi manusia.

Bulan Ramadhan yang menghadirkan ragam kemuliaan dan pelipatgandaan keuntungan, juga dimaknai sebagai sebuah transaksi pertukaran nilai. Jika aku beribadah, maka aku akan mendapat keuntungan berlipat ketika aku melaksanakannya di dalam bulan Ramadhan. Sedangkan jika aku melakukannya di luar Ramadhan aku tidak akan mendapatkan pelipatgandaan keuntungan berupa pahala.

Teologi transaksional untung-rugi ini ikut menjadikan aku untuk tidak melakukan apa yang aku lakukan selama aku berada dalam bulan Ramadhan. Sifat-sifat transaksional ikut menentukan perilaku ibadah yang aku lakukan. Inilah ibadah layaknya seorang pedagang yang hanya akan berbuat jika memperoleh keuntungan. Karakter transaksional berupa raihan pahala yang berlipat mendominasi perilakuku dalam beribadah, sehingga ketika aku tidak memperoleh keuntungan darinya maka aku tidak akan melakukannya.

Jika saat Ramadhan Allah menjanjikan pahala yang tak ternilai, sehingga memotivasi siapapun untuk membanjiri masjid hingga meluber melalui aktivitas ibadah, maka ketika Ramadhan berlalu, seketika berlalulah aktivitas religius itu.

Ketika Ramadhan berakhir, maka berakhir pula segala perilaku yang kutunjukkan selama aku berada di dalam bulan Ramadhan. Tipologi teologi transaksional ini bukanlah hal yang salah, tetapi ibadah ini memiliki kelemahan yaitu sangat dipengaruhi oleh faktor nilai untung dan rugi yang diperoleh. Inilah ibadah yang orang awam seperti kita lakukan. Ibadah tipologi ini sangat dipengaruhi oleh faktor tawaran nilai transaksi. Ketika tawaran itu tidak menarik dan menggiurkan maka muncul kecenderungan untuk tidak dilakukan.

Proses peningkatan taraf ibadah menuju tahap yang lebih tinggi yaitu ibadah yang berlandaskan pada keikhlasan. Ibadah dalam tipologi keikhlasan tidak melihat sisi keuntungan transaksional yang diperoleh, melainkan semata ditujukan pada Allah semata. Ibadah tahap ini bukan hal yang mudah untuk dilakukan, tetapi juga bukan tidak mungkin untuk dilakukan. Tipologi ikhlas akan menjadikan manusia melakukan totalitas peribadatan hanya kepadaNya dalam tiap hidupnya tanpa adanya pengaruh faktor nilai tukar. Inilah makna keempat sebagai makna tertinggi dalam bulan Ramadhan yaitu _makna keikhlasan._ Sebuah makna yang ditampilkan agar manusia melakukan sebuah ibadah secara total semata hanya menuju padaNya.

Katakanlah, “Tuhanku menyuruhku untuk berlaku adil. Dan hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap shalat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya. Kamu akan dikembalikan kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula.” (Qs.[7]: 29)

Stay connect With Us :