Oleh: Fokky Fuad Wasitaatmadja (Dosen di Pasaca Sarjana Ilmu Hukum Universitas Al Azhar Indonesia)

PEDULIRAKYAT.CO.ID — Manusia memiliki segenap komponen yang melekat dalam dirinya. Hal terpenting yang harus ditumbuhkan adalah hakikat kesadaran atas dirinya sendiri. Manusia merupakan subjek yang harus selalu menumbuhkan pengetahuannya bahwa ia ada dengan segenap identitas yang melekat pada dirinya.

Pengetahuan atas segenap objek yang terdapat dalam dirinya menentukan sebuah kesadaran siapakah dirinya, dengan cara apa ia mengada, dan untuk tujuan apa ia ada. Inilah pengetahuan atas diri, yang acapkali kita telah kehilangan kesadaran atas diri kita sendiri. Dalam tulisan sederhana ini, penulis hendak menelaah diri sendiri dari sudut fenomenologi yang telah dikembangkan oleh Edmund Husserl (1859-1938) dan Martin Heidegger (1889-1976), dan juga sang fenomenolog muslim Ibn Arabi (1165-1240).

Metodologi Mengetahui Diriku dalam Paradigma Husserl & Heidegger

Pengetahuan atas diri menjadi hal yang penting sekaligus sulit untuk aku kuasai. Penguasaan diri sebelum melangkah untuk menumbuhkan kesadaran atas objek yang hadir dihadapanku. Apakah aku benar mengetahui siapa diriku ini? Apakah aku ada sebagai wujud tubuhku semata, ataukah aku ada sebagai bagian dari relasi humanis dengan subjek lainnya. Ataukah lebih tinggi lagi yaitu apakah aku ada sebagai relasi metafisis transendental?

Atau mungkin aku ada sebagai bagian interkoneksi dari ketiganya sekaligus: yaitu kesadaran tubuh, kesadaran atas relasi intersubjektif antar diri manusia yang harus selalu menumbuhkan ide humanis, serta juga koneksitas ide metafisis transendental manusia. Ketiga kesadaran ontologis ini perlu ditanam terlebih dahulu guna aku tahu siapa diriku.

Kesadaran ontologis ini menjadi hal penting sebelum aku melangkah untuk memahami objek di luar diriku, aku yang berupaya memahami diriku karena aku akan mengendalikan fungsi tubuhku. Objek yang hadir dihadapan akan kucoba untuk kulihat, kupersepsi, kemudian kutentukan makna atas dasar kesadaran yang kumiliki.

Proses gerak diriku atas objek didasarkan pada kemampuanku untuk memberi makna atas setiap objek yang hadir. Persepsi kuhadirkan dan kutentukan makna, tetapi perlu juga kusadari bahwa objek itu tidak hadir bebas dihadapanku. Objek itu telah dilekatkan beragam makna oleh subjek manusia lainnya sehingga acapkali pemahaman atas objek yang kutatap ikut dipengaruhi pemahaman subjek manusia lainnya yang telah menanamkan makna atas objek itu.

Disinilah aku secara epistemologis perlu melakukan proses reduksi atas beragam makna yang telah dilekatkan atau disematkan kepada objek itu. Aku berharap yang ada adalah kesadaran yang murni untuk mampu memahami apa makna dan hakikat yang sesungguhnya atas objek yang hadir dihadapanku.

Aku perlu mereduksi segala hal tentang objek yang kutangkap dengan pancainderaku, karena pemahamanku akan objek akan dipengaruhi oleh pemahaman subjek lain, yang terkadang ia melekat sebagai mitos-mitos. Inilah gunanya aku mereduksi objek, aku tidak ingin dengan mudah terpengaruh atas hadirnya makna ataupun identitas yang ditanamkan oleh subjek manusia lainnya. Inilah pengetahuan murni ( pure science ) yang harus kuperoleh terlebih dahulu sebelum aku menentukan makna tertentu atas objek yang kutatap melalui pancaindera.

Setelah yang hadir adalah diri sang objek, maka aku menemukan entitas utuh tanpa identitas yang tersemat oleh pihak lain atasnya. Aku memiliki pengetahuan penuh dan murni atas diri sang objek. Dia selaku objek hadir tanpa prasangka diriku terhadapnya. Disinilah pancainderaku mulai menatap, meraba, menelaah, menguji, hingga memahami kewujudan juga kedalaman atas entitas objek yang hadir.

Pada saat ini apakah nilai estetikaku, kondisi psikologisku yang timbul, rasionalitas akalku, atau esensi moralitasku hingga segenap pemahaman metafisisku dapat kutanamkan ke dalamnya untuk mewujudkan makna terhadap entitas objek? Aku berfikir bahwa aku dapat menanamkan juga sekaligus membenamkan segenap kondisi psikologisku untuk menentukan makna atas diri objek.

Disinilah aku menentukan makna atas objek secara bebas tanpa ada unsur prasangka yang membebani kesadaranku, karena yang tercipta dalam diriku adalah kesadaran milikku sendiri secara penuh tanpa prasangka dan mitos.

Aku tidak ingin terjebak bahwa yang hadir didepanku hanyalah fenomen-fenomen semata, sementara diriku sendiri tertutup oleh beragam prasangka dan mitos yang melumpukan dan menyesatkan kesadaranku. Aku hanya mampu menatap asap tanpa mampu melihat adanya api yang membara di balik asap.

Inilah kesadaranku atas eksistensiku sebagai manusia, bahwa aku bergerak atas kesadaranku sendiri terhadap objek. Kutentukan langkah setelah aku mampu menentukan terlebih makna atas objek berdasarkan pemahaman yang murni tanpa prasangka atas objek yang hadir.

Pada saat yang bersamaan, setiap objek hadir secara berbeda kepada setiap subjek yang menatapnya, setiap objek membawa dan menyampaikan makna yang berbeda. Sama halnya setiap subjek memahami tiap objek secara berbeda. Maka makna yang muncul menjadi berbeda atas setiap objek. Aku dan kamu mungkin memaknai apa yang hadir dihadapan kita secara berbeda, karena aku dan kamu mungkin memiliki kesadaran yang berbeda. Inilah yang menjadikanku mungkin juga kamu bahwa ada keragaman fikir diantara kita semua. Realitaku dan realitamu bisa berbeda. Satu hal kutahu, aku dan kamu sama-sama memiliki kesadaran.

Inilah hakikat aku, aku ada karena kesadaranku, dan kesadaranku itulah eksistensiku.

Kesadaran Metafisika Transendental Ibn Arabi

Kini aku perlu melihat lebih jauh lagi; bahwa aku juga menyadari ada sebuah pengetahuan yang bukan saja meliputi objek yang tampak, tetapi pengetahuan yang hadir melampaui objek yang aku tatap. Bahwa objek yang hadir bukan saja atas tubuh dan fisik, melainkan melampauinya, karena diriku sendiri juga melampaui tubuh fisikku.

Bahwa aku juga diliputi oleh kesadaran subjektif atas objek. Beragam hal yang tersusun dalam tubuhku bukan saja rangkaian mekanika fisikal berupa pengalaman inderawi serta rasio logika, melainkan juga kesadaran psikologis, hingga kesadaran ide ketuhanan yang bertumbuh dalam ruang diriku. Aku mencoba mengenal eksistensiku kini. Apa yang menjadikan aku ada selama ini? Apa hakikat adaku ini sesungguhnya sekedar aku dengan kesadaranku sepenuhnya yang menjadikan aku ada?
Aku tak mungkin menolak kehadiran entitas metafisis transendental dalam diriku yang menubuh bersamaku.

Aku melihat ke dalam diriku, aku menelaah jauh ke dalamnya dan kutemukan eksistensi cahaya Ilahiah disana. Aku menjadi tersadar bahwa rasionalitas akalku juga tatapan pancainderaku tidak sepenuhnya utuh bergerak, karena Cahaya Ilahiah-lah yang menyinari dan mencerahkan segenap akal, jiwa dan tubuhku. Aku berupaya menemukanNya dalam endapan hati terdalam kini.

Perlahan kusadari bahwa adaku adalah ada yang mengada rupanya, kesadaran metafisisku mengembang untuk memahami relasi diriku dalam ruang kosmik. Adaku juga bukan kehendakku sendiri yang hadir secara otonom sepenuhnya. Kesadaranku mulai memahami eksistensiku yang mengada, adaku karena disebabkan oleh Sang Pengada.

Sang Pengada yang mengendalikan kosmik, dimana adaku akibat adaNya. Maka aku ada bukan atas kehendak mutlak diriku. Bahwa aku ada juga ditemani oleh yang ada lainnya selain aku. Subjek-subjek lain terwujud selain aku yang ada. Kini selain aku, ada juga aku-aku lainnya yang mengada. Kusadari secara perlahan bahwa aku menjalin sebuah relasi intersubjektif diantara sesamaku yang juga mengada.

Aku dengan segenap eksistensiku yang mengada pun perlahan menghilang, kini bukan aku yang sendiri, karena ada kehendak untuk bersama diantara subjek yang menyatakan sebagai aku. Identitas keakuanku mulai melemah, kini bergeser pada identitas kebersamaan diantara subjek aku. Bukan lagi aku yang terbentuk, tetapi identitas kami yang tercipta. Setiap subjek mulai menghilangkan identitas aku, dan membalut menjadi subjek identitas yang baru: kami dan kita, yang inipun sirna menghilang.

Relasi antar aku melalui relasi intersubjek saling mengkaitkan setiap individu dalam sebuah kebersamaan kini tiada. Sosok kedirianku mulai kupertanyakan kini: dimana eksistensiku yang selalu melekat pada kesadaranku? Kemanakah subjektivitas yang ada di dalamku diriku baik segenap kehendak psikologisku, ide rasionalitas logikaku? Kini tersisa adalah sebuah kesadaran spiritual yang transenden; rupanya adaku tidak cukup melalui rasionalitas dan cerapan inderawi semata.

Kesadaran metafisisku tak pernah pergi kemanapun, karena kesadaran itu selalu meliputiku baik kondisi psikologis hingga spiritualku. Kini aku menengok ke dalam lebih jauh untuk melihat dan mencoba menyelami kesadaranku secara lebih dalam; adakah Dia dalam ego eksistensiku? Bagaimanakah ego eksistensiku bersentuhan dengan ruang spiritual dimana Dia selalu menyapaku?

Dia tetap ada dalam keberadaanNya, Dia menyelimuti kosmos baik semesta maupun subjektivitas diriku baik secara fisis maupun metafisisku, baik yang membenda maupun yang menjiwa. Ruang yang transenden walau tak terjamah rasionalitasku tetapi Dia selalu ada dan menyapa ruang ego eksistensiku.

Kini aku justeru yang menjadi fenomen atas eksistensi kehadiranNya. Aku hanya bayang-bayangNya. Dialah yang ada sesungguhnya dan aku hanyalah sekedar fenomena objek dan bukan subjek yang berkehendak penuh. Aku hanya bagian dari titik semestaMu.

Subjektivitas diriku kembali kupertanyakan disini. Jika kesadaran akan yang ada adalah Yang Maha Tunggal, lalu adakah makna eksistensiku? Yang ada atas diriku hanya sekedar fenomen atas kehadiranNya semata. Aku bukan siapapun, tidak pula dengan segenap identitasku. Identitasku bahkan mampu melebur tanpa makna dalam kerumunan subjek manusia yang lain. Apalagi identitasku dihadapanNya? Aku bagai tetes air yang jatuh di samudera luas, tanpa arti sama sekali diriku.

Maka kini aku kehilangan subjektivitas diriku, karena hanya Dia yang Ada sebagai Pengada atas segenap subjektivitas diriku. Dia Pengada yang tidak diadakan oleh apapun dan siapapun. Kini akulah yang menjadi fenomen atas Dia, karena Dialah yang ada.

Aku menjadi fenomena atas eksistensiNya dan bukan aku yang hadir atas eksistensiku. Aku menjadi ada karena kehadiranNya, dan aku tak memiliki makna tanpaNya.

Aku kini menjadi tanda atas hadirNya, eksistensiku adalah kefanaan karena yang ada adalah eksistensiNya yang mengendalikan segenap kosmos. Aku melangkah dengan langkahNya, aku mendengar dengan pendengaranNya, aku melihat dengan penglihatanNya. Kini eksistensi yang ada hanyalah kefanaan, karena yang ada hanya Dia.

Inilah hakikatnya aku, aku ada karena Dia, tanpaNya aku tiada. Itulah eksistensiku sebagai insan kamil, yang berupaya menempatkan-Nya dalam setiap gerakku.

Konklusi Ringan

Dalam 2 pendekatan fenomenologi di atas tampak perbedaan dalam melihat fenomena. Aku dalam pendekatan Husserl & Heidegger yang menghasilkan sebuah kesadaran akan diri sepenuhnya, yang kemudian melahirkan gagasan filsafat eksistensialisme.

Dalam pendekatan fenomenologi a la Ibn Arabi justru menunjukkan hilangnya entitas keakuan manusia karena eksistensi yang ada hanya Allah saja. Manusia justru menjadi objek fenomena atas eksistensi kehadiranNya. Manusia yang eksisten adalah justeru ketika ia mampu menghilangkan semua jejak ego keakuan dalam dirinya dan mengisi semua jiwa denganNya.

Stay connect With Us :