Oleh: Muhammad Fauzan (Ketua Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Kota Makassar)

PEDULIRAKYAT.CO.ID — Hari Guru bukan sekadar perayaan seremonial. Ia adalah momentum muhasabah: sejauh mana pendidikan kita benar-benar melahirkan manusia berilmu sekaligus beradab. Sebagai Ketua Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam, saya merasakan keresahan yang kian menguat dari para guru di berbagai daerah: teknologi berkembang begitu cepat, tetapi adab peserta didik justru kerap tertinggal.

Di ruang kelas kita melihat paradoks. Anak-anak generasi digital mampu mengoperasikan gawai yang canggih, mengakses informasi global dalam hitungan detik, bahkan lebih lincah daripada orang dewasa. Namun pada saat yang sama, tidak sedikit yang kesulitan menjaga tutur kata, menghormati guru, atau menahan diri dari sikap meremehkan teman dan lingkungan. Teknologi yang seharusnya menjadi alat untuk memperkaya ilmu, berubah menjadi ruang tanpa batas yang sering menumpulkan kepekaan akhlak.

Adab sebagai Fondasi Ilmu

Dalam tradisi pendidikan Islam, adab bukan “pelengkap” ilmu, melainkan pintu masuknya. Imam Al-Ghazali menekankan bahwa kebermanfaatan ilmu berakar pada kebersihan jiwa, kerendahan hati, dan penghormatan terhadap guru; tanpa adab, ilmu kehilangan cahaya dan arah.

Sejalan dengan itu, Ibnu Jama’ah dalam Tadzkirah as-Sami’ wa al-Mutakallim membagi adab penuntut ilmu ke dalam adab terhadap diri, guru, dan proses belajar; semua itu menjadi syarat lahirnya keberkahan ilmu.

Artinya, kecanggihan teknologi tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan. Informasi yang melimpah tidak selalu membentuk karakter. Tanpa adab, ilmu bisa menjadi alat kesombongan, dan teknologi berubah menjadi panggung perilaku yang liar.

Pendidikan Karakter di Era Digital

Para ahli pendidikan juga mengingatkan hal serupa. Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun tumbuhnya budi pekerti, bukan hanya kecerdasan otak. Di era digital, prinsip ini makin mendesak: kemajuan apa pun, kata Dewantara, akan menjadi baik atau buruk tergantung pada karakter manusia yang menggunakannya.

Riset pendidikan karakter di era digital menunjukkan tantangan besar: budaya instan, paparan konten tanpa filter, serta interaksi media sosial yang sering tidak beretika, ikut membentuk perilaku siswa. Maka, literasi digital harus berjalan bersama literasi moral dan spiritual.

Di sinilah Pendidikan Agama Islam memegang peran strategis: bukan hanya mengajarkan benar-salah secara normatif, tetapi menanamkan rasa malu (haya’), empati, tanggung jawab, dan hormat kepada sesama. PAI harus tampil sebagai napas pembudayaan akhlak, bukan sekadar mata pelajaran.

Ketika Guru Mendidik, Namun Takut Dikriminalisasi

Keresahan kami tidak berhenti pada soal adab siswa. Ada luka lain yang tak kalah serius: semakin banyak guru yang dilaporkan secara pidana ketika menjalankan fungsi pendidikan dan pendisiplinan. Fenomena ini membuat banyak guru “serba salah”: mendisiplinkan dianggap kekerasan, membiarkan dianggap lalai.

Dalam beberapa tahun terakhir, publik menyaksikan deretan kasus kriminalisasi guru utamanya di Sulawesi Selatan:

1. Kasus Ibu Nurmayani Salam (Bantaeng, 2016) — guru SMPN 1 Bantaeng dilaporkan orang tua siswa atas tuduhan penganiayaan saat menertibkan murid yang membuat kegaduhan dan menolak salat dhuha. Kasus ini mendapat perhatian nasional dan menjadi simbol kerentanan guru saat menjalankan pendisiplinan.

2. Kasus Pak Mubazir (Sinjai Selatan, 2016) — guru honorer SMAN 2 Sinjai Selatan dipolisikan setelah memotong rambut siswa yang berkali-kali melanggar aturan. Saat siswa menghindar, tangannya tergores dan orang tua mengadukan guru sebagai tindak penganiayaan.

3. Kasus Rasnal dan Abdul Muis — guru di Kabupten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Kasusnya berkaitan dengan dana BOS/komite sekolah, putusan kasasi MA tahun 2023. Meskipun putusan kasasi 2023, dan proses pemecatan ASN dilakukan 2025, bukan secara langsung tahun 2023-2024 sebagai pelaporan pendisiplinan siswa.

4. Guru PAI Muhammad Arsal (Kepulauan Selayar, 2016) — dilaporkan orang tua siswa setelah menegur dan menampar murid yang mengganggu praktik ibadah di kelas. Guru sempat ditahan dan kasusnya mendorong banyak pihak menyoroti lemahnya perlindungan profesi guru.

Daftar kasus serupa terus bermunculan dan menjadi perbincangan nasional, sampai muncul kekhawatiran luas bahwa guru makin takut menegur siswa.
Padahal secara hukum, Indonesia sudah mengakui bahwa tindakan pendisiplinan yang proporsional dalam rangka pendidikan bukan tindak pidana, sebagaimana spirit UU Guru dan Dosen serta PP tentang Guru. Kajian hukum pendidikan menegaskan perlunya perlindungan nyata agar guru tidak mudah dipidanakan atas tugas profesionalnya.

Kabar baiknya, pemerintah belakangan menyatakan dorongan agar laporan non-kriminal terkait disiplin pendidikan tidak serta-merta diproses pidana, melainkan diselesaikan lewat mekanisme edukatif. Namun ini masih perlu pengawalan kuat di lapangan.

Jalan Tengah: Menguatkan Kolaborasi Sekolah–Orang Tua–Masyarakat
Kita tidak sedang membela kekerasan. Bila ada guru melampaui batas, proses etik harus berjalan. Tetapi kita juga tidak boleh membiarkan ruang pendidikan berubah menjadi ladang ketakutan bagi guru. Karena jika guru takut mendidik, yang tumbuh bukanlah generasi beradab, melainkan generasi tanpa arah.

Maka, Hari Guru ini saya mengajak semua pihak menempuh jalan tengah yang sehat:

1. Sekolah memperkuat budaya adab: tata tertib bukan sekadar hukuman, tetapi pembiasaan akhlak—salim, sopan bicara, disiplin ibadah, literasi digital beretika.
2. Orang tua menjadi mitra, bukan hakim: setiap masalah anak sebaiknya diselesaikan lewat musyawarah edukatif terlebih dahulu, bukan langsung jalur pidana.
3. Negara mempertegas perlindungan profesi guru: mekanisme mediasi wajib sebelum kriminalisasi, sekaligus pelatihan disiplin non-kekerasan bagi guru.
4. Siswa dibimbing menjadi warga digital beradab: teknologi harus dibarengi kesadaran bahwa setiap klik dan kata adalah bagian dari akhlak.

Penutup
Hari Guru adalah hari menyalakan kembali lentera peradaban. Kita mengajar bukan hanya agar anak “pintar”, tetapi agar mereka menjadi manusia yang tahu tempat, tahu hormat, dan tahu batas. Teknologi akan terus maju, tetapi adab harus tetap memimpin. Karena bangsa ini tidak akan besar hanya dengan kecerdasan, melainkan dengan akhlak yang menuntun kecerdasan.

Selamat Hari Guru.
Semoga Allah menguatkan langkah para pendidik, menjaga marwah guru, dan menumbuhkan generasi berilmu yang beradab.

Stay connect With Us :