PEDULIRAKYAT.CO.ID, BULUKUMPA — Kepala Desa Bontominasa Lukman diduga memaksakan yang rencananya akan membangun Pamsimas disalah satu kebun, di Kampung Cikkong Desa Bontominasa Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba.
Lukman selaku Kepala Desa Bontominasa mengatakan, bahwa pembukaan Pamsimas disalah satu kebun wilayah Desa Bontominasa karena punya mata air yang besar dan akan bermanfaat kepada orang banyak. Juga yang punya kebun sudah menyepakati atas rencana pembukaan Pamsimas tersebut. Kalaupun ada sawah dihidupi oleh mata air itu, maka tidak jadi masalah karena yang punya kebun sudah sepakat.
”Saya sudah pertemukan antara yang punya kebun di mata air itu pak Ambo dan yang punya sawah pak Helong. Kalau masih ada pihak meminta untuk dipertemukan pak Ambo dengan pak Helong, maka saya tidak bisa lagi karena sudah saya pertemukan dan mereka sudah sepakat. Bagi yang meminta untuk dipertemukan, maka silahkan dipertemukan sendiri karena bukan hanya itu saya urusi, banyak yang mau saya urus,” kata Lukman kepada wartawan pedulirakyat.co.id melalui telepon, Rabu, (25/11/2020).
Sementara itu, Helong salah satu yang punya sawah yang dihidupi sawahnya oleh mata air itu, yang rencananya mau dijadikan Pamsimas. Ia mengatakan bahwa apa yang dikatakan Lukman selaku Kepala Desa Bontominasa, katanya pernah mempertemukan yang punya kebun dengan yang punya sawah, maka apa dikatakan Lukman itu tidak benar.
”Saya tidak pernah dipertemukan oleh Kepala Desa Bontominasa dengan pak Ambo. Bahkan saya meminta agar kami dipertemukan supaya ada kesepakatan dengan bukti ada kita tanda tangani masing-masing. Namun pak Desa sangat saya sayangkan karena hanya saya disuruh ketemu sendiri sama pak Ambo, dan saya khawatir kalau hanya kami berdua ketemu tanpa ada pendampingan dari pemerintah takutnya terjadi yang tidak diinginkan. Tapi sampai hari ini belum ada panggilan dari Kepala Desa untuk mempertemukan kami,” ungkap Helong dalam bahasa Konjo saat ditemui langsung oleh wartawan pedulirakyat.co.id.
”Saya kira ini kepala Desa terkesan memaksakan pembukaan Pamsimas, tanpa memikirkan yang dikorbankan. Seharusnya kita musyawarahkan baik-baik pak agar hasilnya baik, karena saat pembukaan mata air itu, keluarga kami sudah ganti rugi dua ekor kerbau. Diberikan langsung kepada yang punya kebun agar kami gunakan mata air itu demi mengelola sawah kami. Jadi tidak boleh seenaknya menutup mata air itu atau dialihkan untuk dijadikan Pamsimas tanpa ada kesepakatan,” tegas Helong.
”Juga jangan membohongi kami, mengatakan bahwa sudah melakukan kesepakatan. Mana ada kesepakatan tanpa ada pertemuan, pemerintah seharusnya menjembatani kami bukan membohongi kami bahwa sudah pertemuan padahal faktanya tidak,” tutupnya.(BL).


Tinggalkan Balasan