PEDULIRAKYAT.CO.ID MAROS — Sepanjang Sejarah, Musyawarah Daerah (Musyda) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sulawesi Selatan kali ini menuai kritik tajam atau terburuk dari berbagai pihak. Banyak peserta menilai bahwa Musyda ini adalah yang terburuk sepanjang sejarah, karena menghilangkan salah satu agenda penting, yakni Pleno IV tentang pemilihan kepemimpinan.

Pleno IV yang seharusnya menjadi ruang untuk menentukan dan memilih kepengurusan baru IMM Sulawesi Selatan mendadak seolah dihilangkan tanpa kejelasan. Langkah ini memicu kekecewaan besar di kalangan peserta dan kader IMM yang hadir. Mereka mempertanyakan transparansi, akuntabilitas, dan integritas panitia pemilihan dalam menjalankan mekanisme organisasi.

Amiruddin salah seorang peserta penuh utusan IMM Parepare menyatakan, Musyawarah Daerah adalah puncak pengambilan keputusan dalam organisasi.

“Tidak adanya pemilihan dalam forum ini menjadi tanda tanya besar, berpotensi mencederai nilai-nilai demokrasi yang dijunjung tinggi oleh organisasi,” jelas Amiruddin Senin (16/12/2024) sesuai keterangan rilisnya kemarin.

Diketahui, bahwa beberapa kader lainnya juga mengungkapkan bahwa keputusan ini menciptakan suasana tidak kondusif dan menimbulkan kecurigaan terhadap adanya kepentingan tertentu di balik penghapusan pleno tersebut. Mereka menuntut penjelasan resmi dari panitia pemilihan dan pimpinan IMM terkait keputusan yang dianggap kontroversial ini.

Baca Juga:

https://www.pedulirakyat.co.id/tidak-ada-proses-pemilihan-musyda-dpd-imm-sulsel-di-maros-alumni-pc-maktim-dan-imm-unm-angkat-bicara/29388/

Musyda kali ini awalnya diharapkan menjadi momentum konsolidasi dan regenerasi yang sehat bagi IMM Sulawesi Selatan. Namun, dengan adanya masalah ini, banyak pihak khawatir dampaknya akan merusak kepercayaan kader terhadap mekanisme organisasi.

Stay connect With Us :