PEDULIRAKYAT.CO.ID, MAMUJU — Pemuda Muhammadiyah Mamuju sebagai salah satu organisasi otonom Muhammadiyah akan menggelar Musyda di Wisma Tamborang Mamuju pada 11-12 November 2021. Musyda ini juga menggelar agenda yang kerap ditunggu-tunggu, yaitu pemilihan anggota formatur dan ketua umum. Sebagai organisasi kepemudaan yang berdiri sejak 2 Mei 1932, sudah barang tentu, Pemuda Muhammadiyah memikul tanggung jawab dan tugas sejarah yang tak remeh-remeh.
Pemuda Muhammadiyah dituntut hadir sebagai pelopor, pelangsung, dan penyempurna gerakan perjuangan Muhammadiyah guna mewujudkan cita-cita besar mewujudkan baldatun thoyibatun wa rrobun ghafur(negeri yang subur, dan makmur, adil serta sejahtera).Tidak mengherankan jika Musyda ini bukan saja penting untuk menentukan masa depan organisasi, melainkan juga amat strategis dalam menentukan arah perjalanan bangsa.
Sebagai organisasi kepemudaan yang terbilang mapan, sudah seharusnya mampu menyiapkan kader-kader terbaik untuk tampil kedepan mengarak gerbong kepemimpinan Pemuda Muhammadiyah mamuju periode selanjutnya.
Regenerasi Kepemimpinan
Salah satu kandidat itu adalah Hadi Eka Saputra Yang terkenal dengan Jargon “HES Menyala” Jika dilihat dari secara Pengalaman Musyda kali ini menampilkan sosok calon ketua umum yang Tidak di ragukan lagi perjalanan nya. Jika menilik boleh saja disebut dikatakan sukses dalam melakukan regenerasi.
Selanjutnya, terlepas dari segala kekurangan dan kelebihan masing-masing, dari segi kualifikasi secara umum, baik dari soal pengkaderan, intelektual, integritas, jaringan, serta pengalaman; bisa dikatakan memiliki kualifikasi merata. kader tersebut, sudah pantas menjadi pemimpin di sebuah organisasi kepemudaan yang sudah berusia 89 tahun tersebut.
Tak ada rumus baku dalam sebuah ritual pemenangan. Peserta Musda sebagai pemilik suara memiliki pertimbangan yang bermacam-macam dalam memilih sosok kandidat ketua umum.
Sebagian dari peserta Musda, Secara umum, peserta adalah pemilih rasional yang hampir semua mengenyam pendidikan tinggi dan memiliki reputasi serta pengalaman.
Pengelolaan dinamika konflik internal kiranya menjadi salah satu variabel kemenangan. Dinamika konflik di sebuah organisasi adalah kekuatan jika dikelola dengan baik. Dalam strategi pemenangan, peta dinamika konflik sudah barang tentu menjadi semacam kamus wajib yang harus disimak dan diperhatikan. Pengelolan konflik itu misalnya, bagaimana membangun simbiosis mutualisme kandidat dengan pemilih. Arah dukungan akan mengikuti sejauh mana formulasi manajemen konflik berjalan pararel dengan harapan pemilih.
Selain itu, mengingat peserta Musda yang jarang mengenal secara langsung dengan kandidat; pembentukan persepsi kandidat, tentu saja menjadi penting. Kandidat dan tim sukses harus mampu menanamkan citra diri dihadapan Peserta Musyawirin merupakan sosok yang dianggap paling tepat dan mumpuni. Tantangan internal dan eksternal, sebisa mungkin dipersonifikasikan dengan kandidat sebagai orang yang paling tepat menjadi nahkoda Pemuda Muhammadiyah Mamuju
Selanjutnya, persoalan visi-misi juga akan menjadi perhatian serius. Sebagai organisasi kader berbasis intelektual, sejauhmana bobot visi-misi akan menentukan dukungan para pemilih. Visi-misi yang berbobot potensial mendapat simpati dan dukungan dari pemilih. Pemilih rasional, tentu saja, melihat dan mengkomparasikan sejauhmana visi-misi setiap kandidat sebagai bahan pertimbangan memberikan dukungan.
Bagaimana gaya berkomunikasi hampir pasti memiliki pengaruh, tak terkecuali dengan para kader. Semua musyawirin sudah pasti menghendaki pemimpin organisasi memiliki kemampuan berkomunikasi baik sehingga memudahkan dalam menjalankan roda kepemimpinan. Komunikasi yang cenderung elitis dan mengabaikan akar rumput adalah ancaman nyata menuju kegagalan.
Itulah beberapa point yang hemat yang harus di lihat. “Bismillah Saya siap Maju untuk membenahi Pemuda Muhammadiyah Kedepan lebih Baik lagi,” tutupnya.


Tinggalkan Balasan