Oleh: Munawir. S. Sos, M.AP (Pengamat Politik dan Ketua DPW Perkumpulan Gerakan Kebangsaan Sulawesi Selatan)

PEDULIRAKYAT.CO.ID — Hari Kebangkitan Nasional bukan sekedar peringatan seremonial belaka, atau agenda tahunan semata, setidaknya peringatan tahunan ini, harus dijadikan kotemplasi atau perenungan yang mendalam bagi setiap Insan Bangsa, menjadi refleksi bagi setiap komponen anak Negeri dalam bingkai keanekaragaman Suku Bangsa, Ras dan Agama. Momentum Hari Kebangkitan Nasional seyogianya sebagai moment untuk melakukan otokritik secara radikal, total terhadap dinamika Kehidupan Berbangsa dan Bernegara yang telah dan sedang berlangsung saat ini. Kebangkitan Nasional adalah Masa dimana dorongan untuk bangkit,rasa semangat persatuan dan kesatuan yang dibalut dalam balutan semangat Nasionalisme untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia dalam belenggu jajahan Kolonial Belanda.

20 Mei adalah salah satu sejarah yang penting, dalam perjalanan perjuangan kemerdekaan yang dilakoni oleh element Pemuda, sekaligus sebagai ledakan solidaritas Nasional bagi segenap Pemuda dan Pemudi di seantero Negeri untuk apa? Untuk merajut persatuan, solidaritas dan membentuk satu kesatuan yang kokoh dalam perjuangan melawan segala bentuk, Penindasan, Eksploitasi, Penderitaan, serta Kesengsaraan, akibat dari ulah sistem Kolonial Belanda.

Persatuan dan solidaritas Nasional para pemuda kala itu, tidak lahir dengan ujuk-ujuk, sporadis, atau spontanitas, namun lahir dengan perenungan mendalam dan diskusi serta dialektika intelektual yang panjang dan berkelas, terhadap berbagai fenomena penderitaan yang diderita oleh rakyat, seperti Kebodohan, Kemiskinan akibat dimiskinkan oleh sistem, serta masyarakat kalangan pribumi dipaksa dalam sistem kerja paksa yang tidak manusiawi hingga kondisi saat itu! “benar- benar” menggambarkan potret ketimpangan ekonomi yang sangat timpang, perampokan, penjarahan sumberdaya alam dan ketidakadilan kala itu! Mewarnai kehidupan sosial yang sangat memilukan.

Kesadaran mendalam akan segala bentuk penindasan dan penderitaan yang dirasakan rakyat kemudian termanifestasikan dalam diri Pemuda di Zaman Kolonial dimasa lalu, akhirnya membuahkan hasil yakni rasa kesadaran tersebut menjadi energi untuk mendorong sanubari – sanubari segenap Pemuda dan Pemudi berbagai Suku Bangsa, Ras dan Agama terbangun dari tidur yang panjang lalu bergegas membangun solidaritas Nasional dalam bentuk kesepakatan untuk bertekad! untuk bersatu! dalam kebersamaan dan perasaan senasib seperjuangan, bersatu padu melawan segala bentuk penjajahan diatas Bumi Ibu Pertiwi.

Kesadaran Nasional itu lahir dari pelajaran panjang perjuangan Bangsa- Bangsa di Nusantara, bahwa perjuangan yg parsial, kelompok – kelompok dan bersifat Kedaerahan hanyalah perjuangan yang sangat melelahkan, menimbulkan penderitaan, menghabiskan energi dan pikiran dan tidak menghasilkan Kemerdekaan.

Pemuda- Pemudi saat ini kian tergerus ikatan solidaritas Kebangsaannya dan nyaris mengalami kepunahan akan rasa dan semangat Patriot, betapa mudahnya para Pemuda atau generasi Muda Bangsa ini, terpecah berkeping- keping. Potret ini nampak telanjang di ruang- ruang publik mulai dari tawuran antar Pelajar, atau Mahasiswa, antar Kampung serta beda Lorong sekalipun, menghiasai pemberitaan Media Massa baik Nasional dan Lokal, Pertikaian- Pertikaian semacam ini juga tak luput terjadi dikalangan para Elit Pemudanya yang tergabung baik dalam Fungsionaris Organisasi Kepemudaan dilevel Nasional, Kampus dan Daerah.

Adu Jotos, Adu Ototpun sering menghiasi ajang Kompetisi Elit Pimpinan Organisasi Kepemudaan untuk memperebutkan status Ketua Umum dilevel Pusat, Wilayah atau ditingkat Provinsi maupun Kabupaten Kota, mengapa hal ini terjadi, karena Kans, atau ongkos dan Harga untuk memperebutkan status Ketua Umum di sebuah OKP memerlukan Cuan yang besar dan otamatis mendapatkan sopport pendanaan dana yang berasal darimana saja sumbernya (Pengusaha, Elit Politik, Birokrasi dan dst) tentu saja kucuran dana tersebut tidaklah gratis melainkan mengkooptasi para Elit Pemudanya, untuk kepentingan Pihak Penyandang Dana.

Akibat dari perhelatan Kepemimpinan dalam pemilihan Ketua Umum atau Pimpinan Sebuah Organisasi Kepemudaan (OKP) yang dihiasi dengan transaksi wani Piro berapa harga per-suara, atau berapa harga per- rekomendasi (Mandat) dan semacamnya selalu berakhir dengan keterpecahan pasca Kongres atau Munas, sehingga dualisme, tigalisme dan bahkan bisa menjadi banyak Lisme Kepemimpinan dalam satu atribut Lembaga, ini! akibat dari kompetisi yang mengabaikan Akal sehat, penuh dengan intrik transaksional, meluluhlantakkan pondasi Persatuan sebagai sesama anak Bangsa. Sirkulasi Elit Kepemimpinan Organisasi Kepemudaan tidak lagi dibangun dalam Narasi intelektual, sehingga adu gagasan adu pikiran tidak lagi mewarnai perjalanan Kepemimpinan di suatu Lembaga Organisasi Kepemudaan.

Tradisi- tradisi Kontra Produktif di OKP Nasional merembes dikalangan Lembaga Kampus baik dilevel Himpunan, BEM Fakultas maupun BEM Universitas, dilevel paling bawah, misalnya di level Jurusan atau Himpunan tidak jarang para Kandidat Ketua Umumnya harus mengocek tabungan keluarganya dikampung atau mengalihkan uang SPPnya untuk digunakan bertarung memperebutkan kursi Ketua Himpunan (Ketua HMJ) karena tingkat keterpilihan atau potensi untuk meraup suara yang banyak adalah seberapa kuat para kandidat mentraktir pemilik suara diwarung kopi atau coffee Shop, dengan segelas kopi, sungguh miris bukan! yang mestinya Aktivis Kampus mengedepankan corak intelektual sebagai masyarakat Kampus ternyata mereka telah terinfiltrasi gaya main, para Senior- Seniornya dilevel OKP.

Segudang Problematika Kepemudaan hari ini, sebagaimana beberapa contoh uraian diatas mestinya menjadi kesadaran berbagai pihak tidak hanya dikalangan Pemuda dan elit Pemudanya namun juga terhadap seluruh stakeholder, jika ini dibiarkan berlarut- larut maka kedepannya akan menjadi malapetaka bagi kehidupan Berbangsa dan Bernegara yang lebih luas karena Generasi Muda adalah Estafet Kepemimpinan Bangsa, alias Tulang Punggung Bangsa karena ditangan Generasi Muda! Masa depan Bangsa akan ditentukan oleh mereka. Jika potret hari ini terus – menerus mewarnai dinamika kepemudaan, maka rasa – rasanya untuk menemukan generasi kepemimpinan seperti generasi founding father’s, yakni Generasi Patriot, Generasi Pemersatu, Generasi Intelektual dimasa depan hanyalah sebuah utopia (Khayalan Belaka).

Bersatu Padu dan Gotong royong saja belum tentu dapat menjamin Indonesia Emas di tahun 2045 bisa terwujud apatah lagi kalau trust sesama anak Bangsa saat ini, kian tergerus karena ketepentingan pragmatis, jangka pendek dan sektoral, olehnya itu sebagai penutup dua pertanyaan terurai yaitu 1. Maukah kembali menglorakan semangat persatuan? 2. Ataukah! keterpecahan terus dilanggengkan, jika bersatu maka persatuan itu akan melahirkan Masa Depan Emas yang nyata.

Jikalau bercerai-berai maka menengoklah ke Negara tetangga yaitu Negara Nyammar, hancur luluhlantak terbakar Negaranya, Yaman, Suriah, Libanon, Pakistan, Afganistan, Srilangka, Sudan Selatan, serta beberapa Negara- Negara di Benua Afrika, semua negara ini mengalami penderitaan, berupa Kemiskinan, Kelaparan yang akut, penyiksaan sesama anak Bangsa akibat konfik internal berkepanjangan (Krisis Politik) yang berkecamuk. Rapuhnya Pondasi Persatuan sehingga mudahnya diobok- obok dari dalam melalui stategi Proxy War, dan perlu untuk diketahui Indonesia saat ini juga, telah dan sedang dalam operasi Proxy War dan sangat jelas dan vulgar, telah terlihat nyata dalam dinamika Kepemudaan Hari ini, Yuk Rapatkan barisan Kepalkan semangat Persatuan, # NKRI HARGA MATI

Stay connect With Us :