PEDULIRAKYAT.CO.ID – Langit perekonomian tak selamanya cerah. Ada kalanya awan gelap menggantung, petir menyambar, atau bahkan turbulensi datang menghantam dari arah tak terduga. Dalam situasi penerbangan, cuaca buruk adalah sebuah keniscayaan. Untuk itu, kita memerlukan pilot yang mampu mengendalikan pesawat, sistem navigasi yang canggih, serta penumpang yang telah siap siaga.
Sistem keuangan nasional pun serupa. Ia adalah pesawat besar yang membawa penumpang dari berbagai lapisan masyarakat: pengusaha besar hingga pedagang kecil, dari investor hingga pelajar. Pesawat ini hanya akan selamat sampai ke tujuan jika dikendalikan dengan bijak dan ditopang oleh semua pihak.
Turbulensi Ekonomi
Namun, dewasa ini, pesawat tersebut mengalami berbagai guncangan. Dari dalam pesawat, banyak penumpang dilanda Fear of Missing Out (FOMO) terhadap emas. Antrean panjang pun mengular di gerai logam mulia. Bukan karena diskon, melainkan mereka dihantui kekhawatiran terhadap gejolak ekonomi dan depresiasi nilai tukar.
Mereka terburu-buru mengamankan diri ke satu titik yang dianggap aman, sang “safe haven”. Namun, ketika kepanikan menggantikan logika, keputusan keuangan justru berisiko menciptakan turbulensi baru. Tak pelak, reaksi tak rasional inilah yang menjadi ancaman bagi stabilitas.
Sementara itu, cuaca ekonomi global juga sedang memburuk. Presiden Trump kembali memantik badai dengan kebijakan tarif impornya yang diklaim sebagai Liberation Day ekonomi Amerika. Namun bagi banyak negara, termasuk Indonesia, kebijakan ini justru menjadi hambatan bagi jalur ekspor dan memaksa kita berputar arah di tengah angin kencang.
Penerapan tarif impor tinggi terhadap produk Indonesia dapat mengurangi daya saing di pasar AS, sehingga berpotensi menurunkan permintaan di pasar tersebut. Efek dominonya dapat dirasakan melalui perlambatan sektor manufaktur, penurunan surplus neraca dagang, dan meningkatnya tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Puncaknya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok begitu dalam, hingga otoritas bursa memberlakukan trading halt untuk menenangkan pasar .
Dalam sejarah penerbangan kita, periode ini seakan menjadi “deja vu” yang mengingatkan kita pada dua momen genting: Krisis Moneter 1998 dan keruntuhan aktivitas ekonomi saat Covid-19 melanda. Kedua peristiwa ini menunjukkan bahwa tanpa kesiapan bersama dari pilot, mesin, hingga penumpang, pesawat bisa kehilangan kendali. Tentu kita tidak ingin jatuh pada lubang yang sama.
Dalam konteks negeri ini, Bank Indonesia (BI) adalah pilot utama. Namun, BI tidak bekerja sendirian. Ada menara pengawas yang diisi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Keempat institusi ini duduk bersama dalam Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK), layaknya pengatur lalu lintas udara yang memastikan jalur penerbangan aman.
Kekuatan koordinasi ini makin lengkap dengan hadirnya UU P2SK, yang memberi BI kelincahan bermanuver dan memperkuat radar koordinasi antar-lembaga. Mulai dari penyusunan protokol krisis, integrasi data untuk deteksi dini, hingga komunikasi lintas otoritas—semua dipersiapkan agar pesawat ekonomi tidak mudah goyah.
Namun, sehebat apa pun pilot dan awak kokpit, keselamatan penerbangan juga bergantung pada penumpang. Di dunia penerbangan, setiap penumpang diberi arahan: cara menggunakan sabuk pengaman, letak pintu darurat, hingga langkah menghadapi tekanan udara.
Hal serupa berlaku di sistem keuangan. Literasi dan inklusi keuangan menjadi “sabuk pengaman” masyarakat. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan indeks literasi keuangan baru 66,46%, sementara inklusi sudah 80,51%. Artinya, banyak masyarakat yang sudah punya akses ke layanan keuangan, tapi belum sepenuhnya paham cara mengelolanya dengan bijak.
Inovasi: Belajar Krisis dengan Cara Menyenangkan
Karena itu, edukasi keuangan tidak bisa menunggu badai datang. Ia harus dilakukan sejak langit masih cerah. Salah satu ide yang bisa dikembangkan adalah simulasi krisis berbasis permainan (gamification). Masyarakat dapat berlatih mengambil keputusan keuangan dalam skenario krisis virtual: apa yang harus dilakukan saat inflasi melonjak, rupiah melemah, atau pasar modal gonjang-ganjing.
Model ini mirip dengan The Fiscal Ship, sebuah permainan edukatif dari Brookings Institution, di mana pemain diminta menyusun kebijakan anggaran jangka panjang sambil menjaga prioritas pribadi. Prinsipnya bisa diterapkan pada keuangan individu, agar masyarakat terbiasa berpikir rasional di tengah ketidakpastian.
Inisiatif ini juga bisa digabungkan dengan program edukasi yang sudah ada, seperti kampanye Cinta Bangga Paham Rupiah, QRIS, hingga perlindungan konsumen. Tujuannya bukan sekadar meningkatkan pengetahuan, tapi juga memperkuat daya tahan mental masyarakat menghadapi tekanan ekonomi.
Pada akhirnya, stabilitas keuangan bukan hanya soal bagaimana pilot mengendalikan pesawat di tengah badai, tetapi juga kesiapan seluruh penumpang untuk tetap tenang, bijak, dan waspada. Kita memang tidak bisa menghindari badai ekonomi, tetapi kita bisa menyiapkan pesawat agar tetap stabil di udara.
Penulis: Hendy Pebrian Azano Ramadhan Putra
Pekerjaan: Pegawai Bank Indonesia


Tinggalkan Balasan