Opini

Literasi Nafas Peradaban

225
0

Oleh: Abd Ghani (Ketua Bidang Riset Pengembangan Keilmuan DPD Sulsel)

PEDULIRAKYAT.CO.ID — Sebagaimana denyutan nadi dan hembusan nafas, maka seperti itulah posisi literasi dalam relung kehidupan. Tampa denyutan nadi manusia akan mati, tampa refleksi diri dari kemajuan maka peradaban manusia akan tergilas oleh peradaban lain yg lebih maju.

Advertisement

Sejarah mencatat, mereka yang dapat bertahan dari peradaban bukanlah siapa yang lebih kuat, melainkan siapa yang mampu beradaptasi menyesuaikan diri atas proses pembacaan terhadap realita.

Lebih dari 14 abad lalu, dalam dunia islam telah ada perintah pertama untuk membaca yaitu Iqra sebagai isyarat literasi terhadap semesta.

Melalui perintah iqra atas nabi muhammad saw menjadi isyarat bagi manusia-manusia mileneal untuk dapat melakulan kontekstualisasi bacaan. Bukan hanya terhenti pada dimensi teks, tapi bacaan yang terwujud dalam bentuk gerakan, Pembacaan yang melahirkan spirit pencerdasan yang berujung ke pembebasan, pembacaan yang menyentuh seluruh demensi peradaban, itulah literasi islam.

Maka penuduhan terhadap islam sebagai agama yang menutup diri dari ilmu pengetahuan justru bertentangan dengan perintah pertama yang turun atas nabi Muhammad.

Islam sebagai agama yang meletakkan spirit intelektual sebagai kerangka fundamental bagi peradaban, maka spirit ini tak boleh terciderai oleh tradisi apatisme, hedonisme, feodalisme generasi penerusnya. kenyataan yang diwujudkan dengan style ini hanya turut membenarkan tuduhan atas islam sebagai agama yang terbelakang, kaku, dan ketinggalan zaman.

persoalannya Bukan islamnya, melainkan pemeluknya.

Kejayaan Peradaban islam, pernah menguasai 2/3 dunia disamping karena kekuatan tentara yang besar, itu juga ditopang oleh kesadaran pentingnya proses transfer ilmu pengetahuan. Dimana pada masa Nabi Tawanan perang tidak serta-merta dibunuh, mereka diminta untuk mengajarkan baca-tulis dan transfer pengetahuan kepada anak-anak dan orang dewasa. Artinya spirit islam yang dibawa oleh nabi memberi pelajaran akan pentingnya dunia pengetahuan. Diikuti oleh cendekiawan muslim yang lahir kemudian, bermunculan ibnu sina, alfarabi, dan lain sebagainya, justru barat pada masa itu berkiblat ke dunia islam. Walau pada puncak masa kegelapannya barat mulai mengalami masa renaissance, bangkit dari keterpurukan gereja dan mulai melakukan revolusi berfikir dari yang terpenjara menuju fikir bebas yang ahirnya pun mengantarkan barat pada puncak kejayaan sebagai akibat dari literasi ilmu pengetahuan. Walau tak boleh disamakan antara barat dan timur, barat dengan berfikir bebas sbg bentuk traumatik atas agama maka mereka menanggalkan agama, muslim berjaya karena islam datang dengan merangkul ilmu pengetahuan.

Maka boleh dinilai terjadinya degradasi besar bagi generasi islam hari ini karena mereka sudah mulai meninggalkan ilmu pengetahuan, dan terlebih lagi beragama namun meninggalkan Tuhannya.

Realita Ini menjadi autokritik tajam sebagai bahan refleksi generasi mendatang, mustahil islam menggapai kembali keyajaannya dengan menanggalkan _ilmu dan agama, baca dan tuhan, iqra dan bismirabbik_

Adalah suatu kemustahilan bagi para budak bangkit melawan sistem perbudakan bila mereka tak memiliki pemahaman akan arti penting suatu kemerdekaan. Dan tak mungkin mrk paham pentingnya kemerdekaan bila proses penyadaran melalui transfer pengetahuan macet, maka tradisi ilmu pengetahuanlah sebagai kunci bagi semua gerakan.

Ilmu pengetahuan tak boleh mati, karena matinya ilmu adalah awal dari hidupnya kebodohan, akibat kebodohan melahirkan kelemahan, kelemahan melahirkan penjajahan dan berhujung pada keterbelakangan.

Maka _iqra_ bacalah. !
_bacalah dirimu_
_Bacalah bukumu_
_Bacalah alammu_
Lalu bergeraklah, gerak dengan dasar iqra yang bismirabbik, begerak dengan spirit baca atas nama Tuhan.

Maka nilai ketuhanan tak boleh hilang dari pembacaan, membaca tampa dasar nilai ketuhanan akan kering dan hampa.

Membaca bukan atas nama Tuhan justru melahirkan pertikaian, tradisi kebohongan, yang ahirnya berhujung ke perpecah-belahan yang dapat menjadi bumerang bagi keberagaman keindonesiaan.

Maka literasi mesti hadir memberi formulasi yang senantiasa mengkontekstualisasikan dirinya sebagai problem solver atas realita.

_Literasi atas nama Tuhan, Literasi yang menggerakkan untuk perubahan, Literasi sebagai nafas peradaban_

Abd Ghani, Makassar, 08 Des 2018

Advertisement

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here