Oleh: Hari Suciono, Penulis adalah Pegawai di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah
PEDULIRAKYAT.CO.ID – Di tengah derasnya arus informasi dan meningkatnya tuntutan transparansi publik, kepercayaan menjadi aset yang semakin mahal. Dalam dunia ekonomi, kepercayaan bahkan sering kali lebih berharga daripada angka-angka yang tercantum dalam laporan keuangan. Tanpa kepercayaan, kebijakan yang baik dapat kehilangan efektivitasnya. Tanpa kepercayaan pula, stabilitas ekonomi menjadi lebih sulit dijaga.
Karena itu, ketika Bank Indonesia kembali memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan atas Laporan Keuangan Tahunan Tahun 2025, publik seharusnya tidak hanya melihatnya sebagai capaian administratif semata. Di balik opini tersebut tersimpan pesan yang lebih penting: terjaganya akuntabilitas lembaga yang memegang peran sentral dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Opini WTP yang diraih selama 23 tahun berturut-turut bukanlah pencapaian yang lahir dalam satu malam. Konsistensi tersebut menunjukkan bahwa tata kelola, sistem pengendalian internal, dan pengelolaan keuangan dijalankan secara berkelanjutan dalam koridor yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam konteks lembaga publik, konsistensi seperti ini justru jauh lebih penting daripada pencapaian yang bersifat sesaat.
Mungkin sebagian masyarakat bertanya, apa hubungan laporan keuangan bank sentral dengan kehidupan sehari-hari? Jawabannya sangat erat. Bank sentral merupakan institusi yang bertanggung jawab menjaga stabilitas nilai rupiah, memastikan sistem pembayaran berjalan lancar, dan turut menjaga stabilitas sistem keuangan. Ketika lembaga yang menjalankan fungsi-fungsi strategis tersebut mampu mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber dayanya secara transparan, tingkat kepercayaan publik terhadap kebijakan yang diambil juga akan semakin kuat.
Dalam ekonomi modern, kepercayaan merupakan fondasi yang sering kali tidak terlihat, tetapi menentukan banyak hal. Ketika masyarakat percaya terhadap kebijakan moneter, ekspektasi inflasi menjadi lebih terjaga. Ketika pelaku usaha percaya terhadap stabilitas sistem keuangan, investasi lebih berani dilakukan. Ketika investor global percaya terhadap kredibilitas institusi ekonomi suatu negara, arus modal lebih mudah masuk dan biaya pendanaan menjadi lebih efisien.
Laporan Keuangan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2025 menunjukkan bahwa di tengah tingginya ketidakpastian global, kinerja ekonomi nasional tetap mampu dijaga dengan baik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 tercatat sebesar 5,11 persen, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 5,03 persen. Inflasi juga tetap berada dalam sasaran dengan realisasi 2,92 persen secara tahunan. Sementara itu, cadangan devisa meningkat menjadi 156,5 miliar dolar AS atau setara pembiayaan 6,4 bulan impor. Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari upaya menjaga stabilitas ekonomi dalam lingkungan global yang penuh tantangan.
Tahun 2025 bukanlah periode yang mudah. Ketegangan geopolitik masih berlangsung, kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat memicu ketidakpastian perdagangan dunia, dan volatilitas pasar keuangan global tetap tinggi. Dalam situasi demikian, bank sentral dituntut mengambil berbagai langkah yang sering kali tidak populer, tetapi diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan.
Menariknya, laporan keuangan Bank Indonesia juga memperlihatkan bagaimana fungsi bank sentral semakin berkembang. Selain menjaga stabilitas moneter, Bank Indonesia terus memperkuat digitalisasi sistem pembayaran, mendorong inklusi keuangan, memperluas penggunaan QRIS, mengembangkan BI-FAST, hingga mempersiapkan ekosistem Rupiah Digital. Pada 2025, volume transaksi pembayaran digital mencapai 49,76 miliar transaksi, tumbuh lebih dari 35 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa transformasi digital bukan lagi agenda masa depan, melainkan realitas yang sedang berlangsung.
Di sinilah pentingnya akuntabilitas. Semakin luas mandat yang dijalankan sebuah institusi, semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan setiap kebijakan, program, dan penggunaan sumber daya dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. Kepercayaan tidak lahir dari slogan, melainkan dari konsistensi antara mandat, tindakan, dan pertanggungjawaban.
Dalam banyak kasus di berbagai negara, krisis ekonomi sering kali berawal dari hilangnya kepercayaan terhadap institusi. Ketika publik meragukan kredibilitas kebijakan, kepanikan mudah muncul. Ketika integritas lembaga dipertanyakan, stabilitas menjadi rentan terganggu. Karena itu, penguatan tata kelola bukan sekadar urusan administratif, melainkan bagian dari strategi menjaga ketahanan ekonomi.
Opini WTP yang kembali diperoleh Bank Indonesia seharusnya dibaca dalam perspektif tersebut. Bukan sekadar penghargaan atas ketepatan penyajian laporan keuangan, melainkan indikator bahwa prinsip transparansi dan akuntabilitas terus dijaga di tengah kompleksitas tugas bank sentral yang semakin besar. Tentu, WTP bukanlah tujuan akhir. Tantangan ekonomi ke depan akan semakin dinamis, mulai dari digitalisasi keuangan, perubahan lanskap perdagangan global, hingga risiko ketidakpastian geopolitik yang terus berkembang.
Namun setidaknya, capaian tersebut memberikan pesan bahwa fondasi kelembagaan tetap terjaga. Dan dalam dunia ekonomi yang semakin kompleks, fondasi itulah yang sering kali menentukan kemampuan sebuah negara menghadapi berbagai guncangan.HARI
***


1 Komentar
Satu satunya lembaga negara yang berani terbuka tentang anggaran, 23 WTP itu hal yg baik..