PEDULIRAKYAT.CO.ID, JAKARTA – Hampir di setiap pasar tradisional, kita kerap menyaksikan uang kertas yang terlipat kusut, dicoret-coret, bahkan distaples oleh para pedagang. Sebagian masyarakat menganggap Rupiah hanya alat tukar biasa, tanpa makna lebih. Ini menyimpan pesan serius: bagaimana mungkin bangsa sebesar Indonesia masih belum mampu menjaga simbol kedaulatan negaranya sendiri?
Padahal, setiap lembar Rupiah lahir dari sejarah panjang perjuangan bangsa, dari Oeang Republik Indonesia (ORI) yang dicetak pada 1946, hingga emisi terbaru tahun 2022 yang bahkan meraih penghargaan internasional sebagai Best New Banknote Series dari International Association of Currency Affairs.
Rupiah bukan sekadar kertas atau logam. Ia adalah simbol persatuan. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote, satu mata uang menyatukan lebih dari 270 juta jiwa dalam satu identitas ekonomi. Pasal 23B UUD 1945 dan UU Mata Uang No. 7 Tahun 2011 sudah jelas menegaskan: Rupiah adalah satu-satunya alat pembayaran yang sah di wilayah NKRI.
Namun realitas di lapangan menunjukkan tantangan. Tekanan global, arus modal asing, hingga perilaku konsumtif masyarakat membuat Rupiah kerap goyah. Tahun lalu, misalnya, Rupiah sempat menembus Rp17.000 per dolar AS, level yang memicu kekhawatiran tentang inflasi dan daya beli. Penelitian menunjukkan bahwa pergerakan Rupiah setidaknya dipengaruhi oleh lima faktor utama: ekspor, investasi, inflasi, suku bunga, dan cadangan devisa. Artinya: stabilitas Rupiah bukan tanggung jawab satu institusi saja (misalnya Bank Indonesia), melainkan tanggung jawab kolektif masyarakat dalam cara mereka bertransaksi, menabung, dan berinvestasi.
Di sinilah gagasan Cinta Bangga Paham Rupiah (CBP Rupiah) hadir. Gerakan ini bukan jargon kosong, melainkan ajakan konkret agar masyarakat melihat Rupiah dengan cara berbeda.
Cinta Rupiah berarti mengenali ciri-ciri Rupiah, merawatnya agar tetap bersih dan utuh dengan 5 Jangan (Jangan Dilipat, Jangan Dicoret, Jangan Diremas, Jangan Distapler, dan Jangan Dibasahi), serta menjaganya dari peredaran uang palsu dengan 3D (Dilihat, Diraba, Diterawang). Bangga Rupiah berarti menyadari bahwa Rupiah adalah satu-satunya alat pembayaran yang sah, simbol kedaulatan negara dan pemersatu bangsa. Paham Rupiah berarti menggunakan Rupiah secara bijak: belanja sesuai kebutuhan, mendukung produk dalam negeri, berhemat, dan berinvestasi.
Mari kita bandingkan dengan Jepang. Masyarakat Negeri Sakura memiliki budaya merawat Yen dengan baik, karena dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada Kaisar yang wajahnya tercetak di lembaran uang. Lantas, mengapa kita tidak menumbuhkan kebanggaan serupa terhadap Rupiah yang memuat wajah pahlawan nasional dan kekayaan budaya nusantara?
Bayangkan jika gerakan Cinta Rupiah benar-benar meresap ke masyarakat. Pedagang pasar, pekerja kantoran, mahasiswa, hingga anak sekolah memiliki kebiasaan sama: memperlakukan Rupiah dengan hormat, menggunakannya dalam setiap transaksi, dan mengutamakan produk dalam negeri.
Dampaknya tentu akan luar biasa. Ekonomi lebih tangguh. Konsumsi produk lokal meningkat, lapangan kerja tercipta, dan ketergantungan pada impor berkurang. Inflasi lebih terkendali. Belanja yang bijak membantu menjaga kestabilan harga. Kedaulatan lebih kokoh. Penggunaan Rupiah di seluruh pelosok negeri mempersempit ruang dominasi mata uang asing. Bangsa lebih percaya diri. Generasi muda tumbuh dengan kesadaran bahwa setiap lembar Rupiah adalah simbol perjuangan dan identitas nasional.
Dari Kita, Untuk Indonesia
Rupiah adalah wajah bangsa. Ia bukan hanya alat pembayaran, melainkan lambang perjuangan, pemersatu, dan penopang ekonomi nasional. Menyayangi Rupiah berarti menjaga harga diri bangsa; membelanjakannya secara bijak berarti ikut mengendalikan inflasi; merawatnya berarti menghormati jasa pahlawan.
Seperti slogan gerakan ini: Cinta Rupiah sama dengan mencintai Indonesia. Bangga Rupiah sama dengan menjaga kedaulatan bangsa. Paham Rupiah sama dengan bersama mewujudkan stabilitas dan kesejahteraan negara.Maka dari itu, Cinta Rupiah dimulai dari diri kita. Dari pasar tradisional hingga pusat perbelanjaan modern, dari uang kertas di dompet hingga saldo digital di aplikasi. Semua adalah Rupiah, semua untuk Indonesia.
Penulis: Hendy Pebrian Azano Ramadhan Putra
Pekerjaan: Pegawai Bank Indonesia


Tinggalkan Balasan