Oleh: Trisa Rembonita (Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum  Universitas Al Azhar Indonesia)

PEDULIRAKYAT.CO.ID — Selama ini anak-anak muda Indonesia dicekoki dengan ide dan gagasan valentine day tanpa tahu makna dan sejarahnya. Valentine merupakan budaya globalisasi yang di promosikan oleh artis-artis dan program gossip di Indonesia bahkan bukan saja valentine yang mereka promosikan haloween yang juga bukan budaya Indonesia.

Perayaan Tahun Baru Masehi, Halloween, Valentine day, April Mob merupakan program globalisasi yang dicanangkan untuk menjauhkan generasi muda Islam dari agamanya (al-Quran dan as-Sunnah). Lebih tepatnya pendangkalan ajaran Islam, dan mengapa generasi muda Islam harus dijauhkan dari Islam? Karena pandangan kaum Barat terhadap perang secara langsung seperti halnya perang salib sudah tidak bisa dilakukan lagi mengingat munculnya perkembangan hukum Internasional dan HAM.

Salah satu metode untuk mengeliminasi umat Islam adalah melalui perang budaya. Perang budaya yang dicanangkan melalui FUN, FOOD and FASHION yang dicanangkan oleh *Samuel Zwemer* pada konferensi th.1935 di Quds yang berisi:

“tujuan misi yang telah diperjuangkan bangsa Yahudi dengan mengirim saudara-saudara ke negeri-negeri Islam, bukanlah untuk mengharapkan kaum muslim beralih ke agama, tetapi tugasmu adalah mengeluarkan mereka dari Islam, menjauhkan mereka dari Islam, dan tidak berpikir untuk mempertahankan agamanya.

Saudara-saudara telah mengeluarkan kaum muslimin dari agama mereka. Gaya hidup seperti itulah sasaran perjuangan kita, yakni para pemuda Islam yang malas, enggan bekerja keras, cenderung berfoya-foya, hanya gemar mempelajari segala hal yang berkaitan dengan sensualitas dan nafsu syahwat, bekerja semata-mata demi mengejar kekayaan material dunia semata, memburu jabatan, memuaskan nafsunya, dan sebagainya”.

Pendekatan Fun melalui metode perayaan-perayaan seperti tahun baru, Halloween, Valentine day, April Mob, trend gaya hidup melalui Film-film;

Pendekatan Food melalui metode makanan-makanan yang mengandung rhum, wine, babi dan lainnya untungnya di Indonesia FOOD masih terproteksi dengan aturan Produk Halal, sedangkan FASHION juga tidak kalah menjadi sasaran.

Valentine day sendiri secara historis berasal dari perayaan GAMELION sebuah perayaan perkawinan Dewi Hera dan Dewa Zeus, perayaan ini berubah menjadi perayaan LUPERCALIA yang dipersembahkan kepada Dewi Cinta Juno Februata pada jaman Romawi kuno yang berisikan ritual pensucian dari kutukan, kemalangan dan kemandulan. Pendeta LUPERCALIUS mengorbankan domba untuk persembahan dan berlari-lari membawa potongan kulit domba dan wine, remaja putri berebut untuk mendapat usapan kulit domba dengan harapan suci dari kutukan, kemalangan dan kemandulan.

Perayaan tersebut lalu menyebar sejalan dengan invasi tentara Roma ke Inggris dan Perancis dengan pergeseran perayaan menjadi love lottery dimana perempuan memasukan namanya dalam sebuah bejana, dan setiap laki-laki mengambil satu bejana yang bertuliskan nama seorang perempuan dan mereka menjadi kekasih selama festival tersebut berlangsung dari tanggal 13–18 Februari.

Perayaan itu rupanya sangat disukai oleh masyarakat karena terdapat kebebasan pergaulan. Sejak tahun 496 M Paus Gelasius I mencoba mengasimilasikan ajaran agama pagan dan agama Katholik karena sulitnya melarang perayaan tersebut. Maka cara yang dilakukan adalah dengan mengubah beberapa hal yaitu dengan menggantikan posisi dewa-dewa tersebut dengan seorang sosok Saint Valentino, dimana pihak gereja sendiri tidak dapat mengkonfirmasi siapakah sosok Saint Valentino tersebut sesungguhnya.

Untuk membentengi akhlaq kaum muda muslim, maka dapat dilakukan hal antara lain: Jika posisi anda sebagai orangtua, maka berilah pemahaman yang baik kepada anak-anak agar tidak menjadi sasaran pendangkalan agama seperti yang didengungkan oleh Samuel Zwemmer tersebut. Bagi para pemuda muslim sendiri janganlah mudah terpengaruh dengan budaya global, dan jangan pula takut dianggap ketinggalan jaman.

Pahamilah makna sebenarnya budaya yang sedang mereka promosikan yang seakan-akan sesuatu hal yang kekinian atau sedang Hype, karena memang mereka meng- Hype-kan dakwah mereka melalui budaya agar iman menjadi dangkal dan hilanglah nilai Islam dalam diri para pemuda Islam.

Jadi dalam perayaan Tahun Baru Masehi, Valentine day, dan juga Halloween, mengandung tujuan sebagai bentuk pendangkalan agama agar kaum muda Islam jauh dari agamanya dan tidak memiliki niat untuk memperkuat keimanaannya.

-TR-
Referensi :
1. Hj. Irena Handono, “Mengupas Budaya-Budaya Barat Sebagai Senjata Perang Budaya”, Materi Kajian Kristologi Angkatan 104.
2. https://en.wikipedia.org/wiki/Juno_Februata, access date 14 Feb 2021
3. https://en.wikipedia.org/wiki/Samuel_Marinus_Zwemer , access date 14 Feb 2021

Stay connect With Us :