Hari Suciono : Penulis adalah Pegawai di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah
PEDULIRAKYAT.CO.ID – Setiap kali saya pergi ke pasar, ada satu pertanyaan sederhana yang hampir selalu muncul di kepala, “apakah harga bawang hari ini masih sama seperti minggu lalu?”
Pertanyaan itu mungkin terdengar sepele. Namun bagi jutaan rumah tangga Indonesia, pertanyaan serupa menjadi bagian dari rutinitas harian. Harga cabai, beras, minyak goreng, telur, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya diam-diam memengaruhi keputusan yang kita ambil setiap hari. Ketika harga naik, kita mulai mengurangi pembelian. Ketika pendapatan terasa cukup, keranjang belanja kembali terisi penuh.
Di balik aktivitas yang tampak sederhana tersebut, sebenarnya tersimpan cerita besar tentang kondisi ekonomi nasional. Salah satu cara membacanya adalah melalui Survei Penjualan Eceran yang dilakukan Bank Indonesia. Survei ini ibarat stetoskop yang digunakan untuk mendengarkan denyut konsumsi masyarakat. Ketika masyarakat berbelanja lebih banyak, ekonomi biasanya bergerak lebih dinamis. Sebaliknya, ketika toko-toko mulai sepi, ada sinyal yang perlu dicermati.
Ketika Konsumsi Menjadi Cermin Optimisme
Hasil Survei Penjualan Eceran terbaru menunjukkan kabar yang cukup menggembirakan. Penjualan eceran pada Mei 2026 diprakirakan tetap terjaga dengan Indeks Penjualan Riil (IPR) mencapai 225,0. Angka ini menunjukkan bahwa aktivitas konsumsi masyarakat masih berlangsung dengan baik, meskipun perekonomian global masih dibayangi berbagai ketidakpastian.
Menariknya, beberapa kelompok barang menjadi motor utama penggerak penjualan. Kelompok suku cadang dan aksesori kendaraan, perlengkapan rumah tangga lainnya, serta kelompok barang lainnya mencatat peningkatan secara tahunan. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya berbelanja untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga mulai melakukan pengeluaran yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari dan pemeliharaan aset yang dimiliki.
Secara bulanan, penjualan eceran pada Mei 2026 memang masih diprakirakan mengalami kontraksi sebesar 0,9 persen. Namun angka tersebut jauh lebih baik dibandingkan kontraksi pada April 2026 yang mencapai 11,6 persen. Perbaikan ini menunjukkan bahwa perlambatan yang terjadi sebelumnya mulai mereda.
Kita perlu memahami bahwa pola konsumsi masyarakat Indonesia memiliki karakteristik yang unik. Aktivitas belanja sering kali meningkat menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan kemudian mengalami normalisasi setelahnya. Pada April 2026, misalnya, penjualan eceran mengalami penurunan bulanan karena masyarakat telah melewati periode Ramadhan dan Idulfitri 1447 Hijriah yang biasanya diwarnai lonjakan konsumsi. Sementara itu, pada Mei 2026, adanya momentum Kenaikan Yesus Kristus, Hari Raya Waisak, dan Iduladha memberikan dorongan baru terhadap permintaan masyarakat. Dengan kata lain, konsumsi masyarakat bergerak layaknya ombak yang mengikuti ritme kalender sosial dan budaya bangsa.
Data ini memberi pesan penting bahwa daya beli masyarakat masih menunjukkan ketahanan. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, konsumsi domestik tetap menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ketika rumah tangga masih memiliki keyakinan untuk berbelanja dan memenuhi kebutuhannya, roda perekonomian akan terus berputar.
Menjaga Harga, Menjaga Harapan
Namun, menjaga konsumsi tidak cukup hanya dengan memastikan masyarakat tetap berbelanja. Ada faktor lain yang tidak kalah penting, yaitu stabilitas harga. Bagi sebagian besar masyarakat, inflasi bukanlah istilah ekonomi yang rumit. Inflasi terasa nyata ketika uang yang sama membeli barang yang lebih sedikit dibandingkan sebelumnya. Ketika harga bawang, cabai, atau beras meningkat terlalu cepat, daya beli masyarakat akan tergerus. Akibatnya, keranjang belanja menjadi lebih ringan meskipun pengeluaran tetap sama.
Dalam konteks ini, hasil survei memberikan sinyal yang cukup positif. Ekspektasi harga untuk tiga bulan mendatang atau Juli 2026 diprakirakan relatif stabil. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Juli 2026 yang berada pada level 175,8, hampir tidak berubah dibandingkan Juni 2026 yang sebesar 175,6.
Meski demikian, masyarakat tetap perlu mencermati perkembangan pada enam bulan mendatang. Untuk Oktober 2026, IEH diprakirakan meningkat menjadi 167,6 dari sebelumnya 163,2 pada September 2026. Salah satu faktor yang mendorong kenaikan tersebut adalah ekspektasi meningkatnya harga bahan baku. Kenaikan harga bahan baku ibarat riak kecil di hulu sungai yang berpotensi menjadi gelombang lebih besar di hilir. Ketika biaya produksi meningkat, pelaku usaha pada akhirnya akan menghadapi tekanan untuk menyesuaikan harga jual. Jika tidak diantisipasi dengan baik, kondisi tersebut dapat memengaruhi daya beli masyarakat.
Di sinilah pentingnya Bank Indonesia, Banyak orang mengenal Bank Indonesia sebagai lembaga yang mengatur suku bunga atau menjaga nilai tukar rupiah. Padahal, peran yang dijalankan jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Melalui kebijakan moneter yang tepat, penguatan koordinasi pengendalian inflasi bersama pemerintah pusat dan daerah, serta pemantauan berbagai indikator ekonomi, Bank Indonesia berupaya menjaga agar harga-harga tetap terkendali dan daya beli masyarakat tetap terpelihara. Tujuannya sederhana namun sangat penting: memastikan masyarakat dapat menjalankan aktivitas ekonomi dengan rasa aman dan penuh keyakinan.
Bayangkan jika ekonomi adalah sebuah kapal besar. Konsumsi masyarakat menjadi angin yang menggerakkan layar, sementara stabilitas harga adalah kompas yang menjaga arah pelayaran. Tanpa angin, kapal sulit bergerak. Namun tanpa kompas, kapal berisiko tersesat. Dalam kondisi tersebut, Bank Indonesia hadir sebagai penjaga arah agar kapal ekonomi Indonesia tetap melaju menuju tujuan yang diinginkan.
Karena itu, setiap transaksi di pasar, setiap keranjang belanja yang terisi, dan setiap keputusan rumah tangga dalam mengelola pengeluaran bukan hanya mencerminkan perilaku konsumsi semata. Di dalamnya tersimpan kepercayaan terhadap kondisi ekonomi yang stabil dan keyakinan bahwa kebutuhan hidup dapat dipenuhi dengan lebih baik. Kepercayaan inilah yang menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah berbagai tantangan yang masih membayangi perekonomian global.HARI
[1] Tulisan merupakan pendapat pribadi dan tidak mencerminkan pandangan institusi tempat penulis bekerja


2 Komentar
Hasil servei, akurat.
Hasil survei dari PIHPS yaa… keren