PEDULIRAKYAT.CO.ID, BONE — Generasi muda sebagai tumpuan harapan dan pemegang tongkat estafet kepemimpinan bangsa semakin hari semakin menunjukkan kemunduran.

Jangankan berdiskusi persoalan kebangsaan, sekedar mengetahui informasi terbaru terkait pemerintahan pun kadang luput.

Pengecualian jika kabar viral di medsos, barulah mereka tertarik membaca. Parahnya lagi, kadang mereka lebih tertarik pada segmen negatif yang mengantarkan mereka terjebak pada komentar nyinyir, dibanding upaya menelisik subtansi persoalan yang di muat media.

Kekhawatiran tersebut, oleh Anggota DPRD Provinsi Sulsel Andi Irwandi Natsir coba diretas dalam sebuah dialog bersama akademisi dan aktivis pemuda Bone, di Gedung PGRI (13/2/2021).

Dialog ini menjadi bagian dari penyebarluasan Perda Nomor 3 Tahun 2018 Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan tentang kepemudaan.

Hadir peserta dari kalangan aktivis mahasiswa, OKP, komunitas pemuda dan Ormas se-Kabupaten Bone. Kurang lebih 200 perwakilan pemuda menjadi peserta di acara itu. Hadir sebagai sebagai pembicara pertama Dr. Rahmatunnair, S.Ag, M.Ag

Dalam pemaparannya, Rahmatunnair berupaya mendorong kembali semangat generasi muda untuk berdaya saing. Menurutnya, pemuda harus menyadari diri bahwa kompetisi adalah garis takdir kehidupan manusia.

“Sejak lahir manusia telah ditakdirkan bertarung, saat terjadi pembuahan ada ribuan hingga jutaan spermatozoa berlomba mencapai sel ovarium, dan hanya satu yang akan menang selebihnya akan gugur,” bebernya.

Sementara di lain sisi, Dr. Fahrizal S.Pd, M.Pd, menyambung sebagai pembicara kedua menyampaikan hal senada. Meski lebih jauh menekankan pada peran dan fungsi pemuda masa kini yang harusnya lebih adaptif.

“Pemuda harus bersiombiosis dalam mengarungi tantangan zaman hari ini. kompleksitas persaingan membuat pemuda tidak bisa hidup sendiri, harus ada upaya kerjasama antar satu dengan yang lainnya menembus ketatnya persaingan,” ungkap doktor Ical sapaan akrabnya.

Subarman Salim yang adalah penggiat literasi di Kab. Bone sebagai pemandu acara, juga menyisipkan pesan bahwa, pemuda tak boleh luput dari fenomena kebangsaan, generasi muda tidak boleh terjebak dalam dinamika politik.

“Tidak usahlah diajak anak muda masuk politik, kita kehilangan banyak waktu untuk urus politik, sudah terlalu banyak akses untuk dimanfaatkan sebagai media politik, anak muda harusnya fokus mengasah skill,” terangnya.

Menanggapi diskusi yang berkembang, Andi Irwandi, Anggota DPRD Sulsel sebagai penggagas dan fasilitator acara memberikan pandangannya.

“Pemuda tak boleh gamang alias galau. Mereka harus percaya dengan kekuatan dan kemampuan yang mereka miliki. Mereka harus punya visi, dan punya keberanian untuk mewujudkannya,” terang Irwandi dalam rilisnya, Senin (15/2/2021).

Menyentil pasal 12 Perda Nomor 3 Tahun 2018 Pemerintah Sulawesi Selatan Tentang Kepemudaan. Irwandi melanjutkan bahwasanya Pemuda selalu memiliki peran dan posisi strategis sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan. Di sisi lain mereka memiliki tanggung jawab menjaga dan memajukan budaya (lokal dan nasional), sekaligus memahami dan mampu berakselerasi dengan perubahan jaman.

Umar Habsi pengacara muda hadir sebagai salah satu peserta turut menanggapi, bahwasanya Perda Nomor 3 Tahun 2018 tersebut perlu di revisi ulang, terkhusus pada pasal 4 ayat 9 yang berbunyi “Pemuda adalah laki-laki warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16-30 tahun”.

“Usia 16 tahun tidak sinkron dengan syarat permodalan dalam sistem perbankan hari ini. Dimana usia tersebut belum di bolehkan untuk menerima pinjaman modal dari Bank. Artinya tujuan kemandirian generasi muda masih jauh dari harapan,” terang Umar yang juga alumnus Pasca Sarjana ilmu Hukum UGM tersebut.

Dialog yang berlangsung sampai pukul 23.00 tersebut tersebut ditutup oleh pernyataan Irwandi, bahwasanya budaya diskusi generasi muda harus senantiasa dipelihara. Dengan itu, kualitas keberlangsungan calon pemimpin bangsa dan daerah akan terjaga.

“Pesan saya, diskusi seperti ini jangan hanya berhenti di dalam forum seperti ini. Kehadiran kami hanyalah memantik nalar dan pengetahuan. Kalian, kembangkanlah terus diluar, jikalau kalian tak menemukan tempat dan teman diskusi, kami dengan senang hati senantiasa menunggu para kawan-kawan peserta dirumah,” kata Irwandi menutup pembicaraan.(RedkasiPeduli).

Stay connect With Us :