PEDULIRAKYAT.CO.ID, BULUKUMBA — Dua mantan Bupati Kabupaten Bulukumba angkat bicara soal polemik yang terjadi di Masjid Islamic Center Dato Tiro (ICDT) Bulukumba. Pertama, H. Zainuddin Hasan (Bupati Bulukumba Periode 2015-2010), kedua, A. M. Sukri A. Sappewali (Bupati Bulukumba Periode 2016-2021).
A. M. Sukri A. Sappewali menyampaikan, terkait Masjid ICDT Bulukumba saat ini adalah memiliki dua versi Ketua, maka dari itu tidak boleh sebenarnya dibiarkan berkepanjangan. Karena menyangkut nama baik Pemerintah Bulukumba dan juga pasti menjadi tertawaan orang dari luar Bulukumba kalau kasus Masjid ICDT ini semakin diperpanjang. Apalagi kalau bicara soal kepemilikan Masjid ICDT Bulukumba, memang itu jelas adalah aset Pemda.
Namun perlu diketahui, bahwa sebenarnya Masjid itu adalah rumah Allah SWT maka semua orang punya hak untuk melakukan ibadah di Masjid tersebut. Kemudian bagaimana semua warga dalam naungan Pemda itu, punya tanggung jawab untuk menjaga ketentraman rumah Allah SWT. Jadi kalau memang pemerintah mau baik semua, silahkan buka komunikasi kepada berbagai pihak.
“Karena pengurus Masjid ICDT memang harus di SK kan oleh Bupati dan itu adalah kewenangannya pak Bupati. Tapi ingat, meskipun bisa di SK kan oleh Bupati seharusnya yang menjadi pengurus itu khususnya Ketua, bukan yang terlibat dalam Parpol karena akan merusak nama baik Masjid jika orang yang terlibat di Parpol, tidak boleh Masjid dibawa-bawa ke Parpol,” ujar A Sukri saat di konfirmasi langsung oleh pedulirakyat.co.id, dua hari lalu.
Intinya, kata A. Sukri yang menjadi Ketua itu harus yang dekat dari Masjid, apakah itu ditunjuk Bupati kemudian tidak ada yang keberatan. Ataukah lebih baiknya hasil Musyawarah dengan dihadiri semua kalangan dan disetujui oleh Bupati.
“Maka dari hasil itulah, kemudian yang terpilih sebagai ketua lakukan pengajuan penerbitan SK, agar SK-nya diterbitkan oleh Bupati kemudian dilakukan Pelantikan oleh Bupati. Saya kira semua akan baik-baik saja selama komunikasi diperbaiki terhadap semua kalangan,” kata A. Sukri Bupati dua periode ini.
Sementara itu, H. Zainuddin Hasan menjelaskan, bahwa terkait polemik yang terjadi di Masjid ICDT Bulukumba adalah perlunya pemerintah dengan masyarakat untuk bangun komunikasi supaya bagus. Karena Masjid ICDT Bulukumba adalah milik masyarakat Bulukumba.
“Kenapa dulu saya ke Bulukumba karena saya merasa terpanggil, dan termasuk pembangunan banyak terbengkala dan perlu diselesaikan. Termasuk pembangunan Masjid ICDT ini, saya lanjutkan pembangunannya dan saya selesaikan dimasa Periode saya,” jelas Zainuddin sapaan akrabnya itu Zaidin.
“Tapi saya sadari bahwa banyak orang yang membantu saya selaku Bupati Bukukumba, terutama masyarakat Bulukumba. Namun kita sadari di perjalanan kepemimpinan saya selaku Bupati Bulukumba banyak yang kurang. Maka yang kurang itu lah perlu dibenahi, kalau kita berpolemik di Bulukumba. Kan malu kita didengar orang dari luar, saya malu sekali mendengar itu ada versinya ini dan ada versinya ini. Maka disinilah perannya Bupati untuk menyatukan ini dan dibantu dengan tokoh-tokoh masyarakat Bulukumba. Ada MUI, ada Dewan Masjid, ada Muhammadiyah ada NU dan tokoh agama lainnya,” tambahnya.
Jadi, lanjut dia, bahwa diinginkan ini adalah perlu tudang sipulung, artinya bisa duduk bersama-sama untuk menyelesaikan ini. Jadi sebenarnya pemerintah sangat bertanggung jawab ini, dalam rangka membangun Masjid ini, tapi bukan membangun pembangunannya saja. Tapi bagaimana membangun komunikasi dengan jamaahnya juga bagaimana meramaikan Masjid setiap salat, kan itu yang utama. Jangan sampai membangun Masjid besar-besar tapi jamaahnya tidak ada bagaimana?.
“Jadi saya mohonkan, duduk tudang sipulung orang Bugis bilang kan, tidak ada pekerjaan yang tidak bisa kita selesaikan pak. Jadi saya kira ini hanya komunikasi kurang lancar sih, karena disitu apa yang mau diacari mauki cari keuntungan kan tidak ada, artinya hanya mencari pahala semata-mata. Beramal dan mendapatkan Ridho Allah SWT,” terangnya.
Selain itu, Zainuddin menegaskan, bahwa atas polemik tersebut, jangan sampai tidak terjadi komunikasi. Jangan-jangan yang di SK kan Bupati tidak inginkan oleh masyarakat jamaah yang ada di Masjid Islami Center. Itu kan menjadi masalah juga kan, kalau jamaahnya tidak ada dan bubar semua di situ bagaimana, apalah artinya itu SK.
“Jadi itulah saya katakan, mari duduk bersama-sama, apa sih susahnya sih kalau pak Bupati panggil orang, siniko semua. Pak Bupati bikin perintah melalui humas, dan undang semua untuk kita bicarakan ini apa menjadi permasalahannya kan. Makanya saya heran kalau dua versi, itu bagaimana mi caranya, intinya tidak bisa dua versi pak,” tegasnya.
“Jadi saya terus terang saja, saya sedih sekali ketika ini menjadi polemik. Namanya saja Ketua Ta’mirul Masjid di Islami Center Dato Tiro kan begitu, apa sih susahnya pak Bupati bikin ultimatum. Bahwa saya ambil alih dan saya mengundang semua. Jadi undang mi Pak Andi Muttamar, undang mi Pak Jamiruddin dan semua kalangan kita undang. Sehingga membicarakan, apa sih permasalahannya ini, dan kalau selesai bagusnya kalau kita berpelukan di dalam Masjid begitu luas ditonton oleh jamaah ia kan,” tambahnya.
Kemudian ditanyakan soal pemilihan Ketua, ia menyarankan agar Musyawarah dulu baru tentu melahirkan sebuah seorang pemimpin.
“Bagaimana kalau tidak Musyawarah, kan Musyawarah dulu orang pak bukan mau ditunjuk itu dan saya, Musyawarah lahh…. kemudian libatkan jamaah, tokoh-tokoh masyarakat. Dan itu lah saya bilang tadi libatkan dari Majelis Ulama, Dewan Masjid dan semua unsur-unsur yang ada di Bulukumba lah,” bebernya.
Selanjutnya ditanyakan soal penunjukan langsung Ketua oleh Bupati, Zainuddin mengaku bahwa dirinya tidak mau jika langsung menunjuk seorang untuk dijadikan seorang pemimpin.
“Kalau saya tidak perlu langsung saya tunjuk orang, kalau saya tidak mau otoriter begitu. Saya selalu menanyakan dulu ke bawah, jamaah terutama, tokoh-tokoh masyarakat dan saya tanyakan bahwa bagaimana kalau saya tunjuk ini. Karena ini bukan Kepala Dinas ini mau ditunjuk, karena ini jamaah mau diurus pak,” imbuhnya.
“Saya ini selaku masyarakat Bulukumba sangat prihatin adanya seperti ini, nanti di tempat lain didengar apa itu ini kan Masjid. Saya sendiri di Gorontalo ini pak Ketua Ta’mirul Masjid tapi Musyawarah, baru saya dikukuhkan oleh KUA yang ada di Kabupaten. Saya selaku Ketua Ta’mirul Masjid, saya bilang saya ini sudah Bupati di Puhuato, Bupati di Bulukumba dan calon Gubernur kemarin dan terakhir sekarang saya Ketua Ta’mirul Masjid tapi inilah yang paling saya suka,” tutupnya, saat dikonfirmasi beberapa hari lalu.
Diketahui, dari dua versi itu masing-masing sudah melakukan Pelantikan, versi Andi Muttamar saat Pelantikan dihadiri Ketua DPRD Bulukumba. Kemudian versi H Amry Bupati Andi Utta hadir sekaligus melantik saat itu.
Kemudian, pedulirakyat.co.id konfirmasi langsung Bupati Bulukumba Andi Utta, namun WA redaksi hanya ceklis satu. Namun dilihat di grup WA, WA Bupati Andi Utta tetap aktif, sehingga kami dari redaksi pedulirakyat.co.id duga bahwa WA redaksi sudah diblokir oleh Bupati Andi Utta. Pada akhirnya sampai saat ini belum ada jawabannya, sehingga berita ini diterbitkan.


Tinggalkan Balasan