PEDULIRAKYAT.CO.ID, GORONTALO — Rangkaian kegiatan Baitul Arqam Dasar (BAD) Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Provinsi Gorontalo semakin diperkaya dengan penyelenggaraan dialog panel bertajuk “Negarawan Muda: Merawat Nalar Etika Politik dan Suksesi Kepemimpinan 2029.” digelar Jumat, 15 Mei 2026.

Forum ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan kapasitas intelektual kader dalam merespons dinamika politik menuju suksesi kepemimpinan nasional tahun 2029.

Dialog tersebut menghadirkan Ir. H. Anas Jusuf, M.Si., Ketua Fokal IMM Provinsi Gorontalo, serta Erwin Ismail, S.Ikom., M.Ikom., sebagai narasumber. Kegiatan ini dipandu langsung oleh Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Gorontalo, Zainuddin, S.IP., M.AP.

Dalam pengantarnya, Zainuddin menegaskan bahwa dialog ini merupakan bagian integral dari proses kaderisasi ideologis dan intelektual Pemuda Muhammadiyah.

“Baitul Arqam tidak hanya membentuk kekuatan ideologi, tetapi juga menumbuhkan nalar kritis kader dalam membaca arah politik bangsa. Dialog ini menjadi ruang strategis untuk menyiapkan kader sebagai calon pemimpin masa depan,” ujarnya.

Ir. H. Anas Jusuf, M.Si., dalam pemaparannya menekankan bahwa konsep negarawan muda tidak hanya berhenti pada kemampuan politik praktis, tetapi harus dilandasi oleh integritas, etika, serta komitmen terhadap kepentingan umat dan bangsa.

“Negarawan adalah mereka yang mampu melampaui kepentingan sesaat dan menghadirkan kebijakan yang berorientasi pada kemaslahatan. Karena itu, kader Muhammadiyah harus tampil dengan nilai moral yang kuat dalam setiap ruang pengabdian,” jelasnya.

Sementara itu, Erwin Ismail, S.Ikom., M.Ikom., dalam materinya mengangkat berbagai tantangan demokrasi di era digital yang menjadi latar penting menuju suksesi kepemimpinan 2029. Ia menyoroti fenomena polarisasi, disinformasi, serta krisis etika politik yang semakin menguat di tengah dominasi media sosial.

Menurutnya, tantangan politik ke depan tidak hanya berkaitan dengan kontestasi kekuasaan, tetapi juga bagaimana menjaga kualitas demokrasi agar tetap sehat dan berintegritas. Ia menilai bahwa praktik politik identitas, politik transaksional, serta kecenderungan pencitraan yang lebih dominan daripada substansi menjadi persoalan serius yang harus dihadapi bersama.

Dalam perspektif politisi muda, Erwin menekankan pentingnya mengedepankan gagasan serta menjadikan politik sebagai ruang pengabdian yang menyejukkan, bukan ajang konflik dan kebencian.

“Politik harus berintegritas, mengedepankan gagasan, dan mampu menjadi penyejuk demokrasi. Pemuda harus menghindari praktik politik kebencian yang justru merusak tatanan sosial,” ungkapnya.

Lebih lanjut, dari perspektif ilmu komunikasi, ia menegaskan bahwa komunikasi politik harus bersifat edukatif, menjunjung tinggi kebenaran, serta menolak hoaks dan manipulasi informasi. Dialog yang sehat, menurutnya, menjadi kunci dalam menjaga kualitas ruang publik demokrasi.

Ia juga menguraikan bahwa etika politik yang perlu dirawat mencakup nilai kejujuran, transparansi, tanggung jawab sosial, serta penghormatan terhadap perbedaan sebagai fondasi utama dalam kehidupan demokrasi.

Dalam konteks suksesi kepemimpinan 2029, Erwin menekankan bahwa pemimpin masa depan harus memiliki karakter visioner, humanis, kolaboratif, berpikiran digital (digital-minded), serta tetap berpegang pada etika.

Pada momentum dialog tersebut, Erwin Ismail juga menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan sumber daya kader dengan memberikan beasiswa pendidikan S2 kepada salah satu kader Muhammadiyah, Agung, yang berprofesi sebagai karyawan swasta. Pemberian beasiswa ini disambut antusias oleh peserta dan menjadi inspirasi nyata bahwa penguatan kapasitas kader tidak hanya melalui wacana, tetapi juga melalui aksi konkret.

Ia juga mendorong peran aktif generasi muda dalam ruang publik, mulai dari meningkatkan literasi digital, terlibat dalam diskusi kebijakan, hingga berpartisipasi langsung dalam proses politik sebagai bentuk tanggung jawab terhadap masa depan demokrasi.

Dialog berlangsung dinamis dengan antusiasme peserta yang mengajukan berbagai pertanyaan kritis terkait etika politik, tantangan demokrasi digital, serta strategi menghadapi regenerasi kepemimpinan ke depan.

Sebagai penutup, forum ini menegaskan bahwa demokrasi yang sehat membutuhkan fondasi etika yang kuat, serta peran aktif generasi muda sebagai penjaga masa depan bangsa.

Melalui dialog ini, Baitul Arqam Dasar tidak hanya menjadi ruang penguatan ideologi, tetapi juga wahana pembentukan kesadaran kritis dan kepemimpinan visioner bagi kader Pemuda Muhammadiyah di Provinsi Gorontalo, dalam menyongsong suksesi kepemimpinan 2029 yang lebih berintegritas dan berkemajuan.

Stay connect With Us :