PEDULIRAKYAT.CO.ID, LUTRA — Hari ini Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan ke-80. Delapan dekade sejak proklamasi dibacakan di Jakarta, warga bangga menyebut negeri ini telah merdeka. Namun, di balik gegap gempita upacara dan perayaan, ada kenyataan pahit yang masih dialami oleh warga Seko Kabupaten Luwu Utara Sulawesi Selatan.
Muhammad Sulkifli Lubis (Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kabupaten Luwu Utara), mengungkapkan bahwa, beginilah kondisi jalan menuju Seko Kabupaten Lutra di tahun 2025.
“Delapan puluh tahun setelah kita merdeka, jalan utama menuju tanah kelahiran kami masih berupa lumpur tebal dan becek, nyaris tak bisa dilalui kendaraan biasa. Motor-motor penuh muatan menjadi saksi bisu bagaimana akses ke Seko masih sangat jauh dari kata layak jauh dari kata “Merdeka”.,” kata Sulkifli dalam keterangan rilisnya, 17 Agustus 2025.
Beberapa hari lalu, telah membaca berita menyakitkan di berbagai sosial media: “infrastruktur di Luwu Raya tahun ini tidak mendapatkan alokasi anggaran pembangunan”.
“Lagi-lagi, kami dianaktirikan. Lalu bagaimana nasib kami, orang Seko? Bagaimana nasib anak-anak yang harus menempuh jalan penuh lumpur ini hanya untuk pergi ke sekolah? Bagaimana dengan petani dan warga yang ingin menjual hasil kebunnya ke kota?,” tegasnya, dalam pertanyaannya itu.
“Saya, sebagai Ketua Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Luwu Utara, sekaligus putra asli Seko, bersuara hari ini bukan untuk mengeluh, tapi untuk mempertanyakan: benarkah kami sudah merdeka?,” tambahnya.
Lanjut, kata dia, karena kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajahan, tapi tentang akses yang adil, pembangunan yang merata, dan kehadiran negara hingga ke pelosok. Jangan biarkan Seko terus tertinggal. Jangan biarkan warga Seko terus merangkak di jalanan lumpur tersebut.
‘Kami butuh perhatian serius, kami butuh alokasi anggaran yang nyata, dan kami butuh komitmen jangka panjang untuk menyelesaikan akses infrastruktur ini,” ujarnya.
“Jalan ke Seko bukan hanya soal tanah dan batu, ini soal kehidupan, soal harga diri kami sebagai warga negara Indonesia. Kami akan terus berjuang, sebagai anak Seko sekaligus Ketua Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Lawu Utara, kami tidak akan diam. Kami akan terus bersuara, memperjuangkan hak-hak kami, dan mengawal janji-janji pembangunan,” tambahnya.
“Karena kami percaya: suara dari pelosok akan bergema jika disampaikan dengan keyakinan dan kebenaran. Seko adalah Indonesia juga, kami akan terus berjuang sampai keadilan pembangunan benar-benar dirasakan oleh semua rakyat, tanpa terkecuali,” tutupnya.
#Dirgahayu Republik Indonesia ke-80. Merdeka bukan hanya simbol merdeka harus dirasakan.
#Hut kemerdekaan
#Seko
Demikian, ketenangan tertulisnya Ketua Umum Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Luwu Utara, dan juga sebagai warga Seko Kabupaten Luwu Utara.


Tinggalkan Balasan