PEDULIRAKYAT.CO.ID, MAKASSAR — Apa yang terlintas di benakmu ketika mendengar soal kematian? Bagi banyak orang, “kematian” adalah sebuah kehilangan, kesedihan yang mendalam, dan perpisahan yang tak terelakkan. Namun, bagi segelintir orang lainnya, justru “kematian” mampu dijadikan ladang laba. Salah satunya adalah Darmawati, seorang perajin batu ukir nisan yang telah menggeluti pekerjaan ini selama dua dekade lamanya.
Darma, begitu sapaan akrabnya. Awalnya, pekerjaan itu ia lakukan berdasar pada coba-coba. Melihat orang lain membuat batu nisan, Darma merasa tertarik untuk membuatnya sendiri. Tanpa pengalaman, dirinya mulai belajar dari sana-sini, mengamati cara orang lain bekerja, dan bahkan meminta bantuan dari mereka yang lebih berpengalaman.
Perlahan-lahan, keahlian itu berkembang—darah seni ukir dan pahat mengalir dalam dirinya. Jadilah, Darma bersama suaminya yang merupakan pedagang, banting stir menjadi perajin batu nisan.
Meskipun bisnis batu ukir nisan masih jarang di pasaran, keuntungan yang diperoleh tidak bisa disepelekan. Pasalnya, dari satu batu, Darma bisa meraup kocek sebesar 150 ribu. Itu pun kembali lagi pada besar ukuran batu dan detail yang diukir. Semakin besar ukuran batu dan semakin sukar detailnya maka semakin banyak pula uang yang bisa dikantongi.
Jika dihitung omzet bersihnya, dalam perhari, nominal paling sedikit yang bisa diuntung sebanyak 500 ribu hingga 1 juta. Sangat menggiurkan bukan?
Hal itu juga dirasakan perajin batu nisan lainnya—Hasir. Pada saat Covid-19, 2020 lalu, bisnis seperti inilah yang tidak terdampak pandemi. Bagi Hasir, pandemi tidak selalu mendatangkan buntung tapi juga untung.
Menjelang ramadhan juga menjadi waktu-waktu tingginya angka pesanan, sebab banyak sanak famili yang gemar memperbaiki serta memperindah makam keluarganya.
Penjualan seperti ini dapat dijumpai di sekitaran jalan sebelum menuju Graha Pena, Urip Sumoharjo, Kota Makassar. Tiga sampai empat toko berjejer rapi di sana.
Darma menggunakan media batu granit dan marmer untuk membuat batu nisan. Dalam proses pembuatannya, desain awal dibuat menggunakan perangkat komputer yang biasanya diistilahkan sebagai setting, kemudian setting tersebut dipindahkan ke atas permukaan batu marmer yang telah dilapisi lakban kertas. Selanjutnya, batu tersebut diukir mengikuti desainnya. Setelah proses pengukiran selesai, pinggiran batu dilapisi dengan lakban bening guna selanjutnya dituangkan air keras hingga membentuk lubang.
Setelah lubang terbentuk sempurna, lakban yang menempel dilepas, dan batu dibiarkan mengering. Proses terakhir dari pembuatan batu marmer adalah pengecatan huruf yang terukir, sesuai dengan permintaan konsumen. Setelah cat kering, bagian-bagian batu yang kurang rapi dibersihkan dengan hati-hati untuk memastikan hasil akhir yang sempurna.
Sementara itu, untuk batu granit, prosesnya dimulai dengan pengecatan dasar menggunakan cat putih. Karbon kemudian ditempelkan pada permukaan batu sebagai media cetak desain. Setelah desain ditempatkan di atas karbon, hasil desain tersebut dipindahkan ke batu granit dengan menekan karbon sehingga menghasilkan tulisan pada permukaan batu.
Desain dan karbon kemudian dilepaskan, dan batu dipahat dengan menggunakan alat intan untuk menambah kedalaman pada tulisan. Setelah semua bagian dipahat, cat dasar dibersihkan, dan huruf serta angka yang terukir pada batu dicat sesuai dengan permintaan konsumen. Pun begitu, pesanan dengan jenis batu ini tarifnya jauh lebih meroket.
Cara manual masih diterapkan Darma untuk mengerjakan batu nisan, meskipun pada era modern seperti sekarang, banyak dari perajin batu nisan memanfaatkan teknologi laser.
“Teknik ini (laser) kurang optimal karena kedalaman ukiran pada batu lebih dangkal dan terbatas pada variasi huruf yang bisa dihasilkan,” tuturnya, Senin (11/11/2024).
Untuk waktu pengerjaan setiap batu juga berbeda-beda. Pengerjaan untuk batu marmer memakan waktu sekitar satu hari, sementara untuk batu granit satu hingga dua hari.
“Proses pembuatan batu granit cenderung lebih lama karena setiap bagian dipahat satu per satu,” jelasnya.
Setiap pekerjaan tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi wanita kelahiran Ujung Pandang ini dalam menghadapi pelanggan yang terkadang sulit dipahami. Tak jarang, ada saja pelanggan yang tidak mengambil pesanan tepat waktu, bahkan ada yang menghilang setelah memberikan uang muka. Batu nisan yang tidak diambil tersebut biasanya ia manfaatkan sebagai contoh untuk pelanggan yang ingin memesan.
“Setidaknya, ada manfaat dari yang tidak ambil. Bisa jadi referensi desain bagi pelanggan lain,” katanya.
Salah satu pengalaman pilu lain yang dialami Darma, terjadi ketika seorang perempuan memesan prasasti untuk makam sang bapak yang telah wafat mendahuluinya. Tak berselang lama, ia menerima kabar bahwa perempuan itu juga telah meninggal. Kisah lain juga terjadi pada seorang kakek yang memesan prasasti untuk dirinya sendiri, namun meninggalkan tanggal wafat kosong.
Meskipun pekerjaan tersebut berkaitan dengan kematian, Darma melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Baginya, pembuatan prasasti adalah pekerjaan yang mulia. Prasasti membantu menjaga kenangan akan seseorang yang telah tiada, serta mempermudah keluarga yang ditinggalkan untuk menemukan makam almarhum/almarhumah.
“Prasasti itu seperti pengingat bahwa kehidupan ini sementara. Melalui pekerjaan ini, saya juga sering diingatkan untuk selalu bersyukur dan mempersiapkan diri,” jelasnya dengan bijak.
Sekretaris Jurusan Ilmu Ekonomi UIN Alauddin Makassar, Aulia Rahman B, SE., M.Si menjelaskan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia mengalami deflasi yang menyebabkan masyarakat menjadi lebih kreatif dalam mencari sumber pendapatan baru, salah satunya melalui Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) seperti perajin batu nisan.
Rahman bilang sektor UMKM memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian lokal, terutama di bidang perdagangan. Meski gaji yang diberikan oleh UMKM sering kali tidak memenuhi standar Upah Minimum Regional (UMR), usaha-usaha ini tetap mampu membantu menghidupi keluarga dan mengurangi angka pengangguran. Bahkan, jika berkembang lebih jauh, perajin batu nisan dapat menyerap tenaga kerja lebih banyak lagi.
Dalam perkembangan ekonomi kreatif, Rahman juga menyoroti pentingnya keterampilan khusus yang dibutuhkan untuk berinovasi, seperti dalam pembuatan lukisan atau produk kreatif lainnya.
“Permintaan terhadap barang-barang kreatif, terutama untuk acara-acara penting seperti ceremony, masih tinggi. Meski demikian, pasar ini tidak bisa dijangkau oleh semua orang karena memerlukan keterampilan khusus,” jelasnya, Senin (25/11/2024).
Aulia menyampaikan bahwa dalam sektor perekonomian, semua potensi dapat dimaksimalkan, termasuk dari situasi yang penuh duka. Ia menambahkan bahwa banyak orang mampu memanfaatkan potensi ekonomi dari kondisi sulit, seperti orang yang sedang menghadapi kesusahan atau kematian, sehingga ekonomi dapat berubah dalam keadaan apa pun.
Penulis Nadhilla Putri Hasir (Mahasiswa Jurusan Jurnalistik UIN Alauddin Makassar)


Tinggalkan Balasan