PEDULIRAKYAT.CO.ID, MAKASSAR — Di penghujung tahun 2024, tepatnya pada tanggal 17 Desember 2024, Institut Parahikma Indonesia (IPI) ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan sukses melaksanakan wisuda angkatan ke-V di Hotel Four Points by Sheraton Makassar. Wisuda kali ini mencetak sebanyak 44 wisudawan yang tidak sedikit di antaranya dinobatkan sebagai wisudawan berprestasi tingkat institut, tingkat fakultas, program studi, dan juga yang berpresi di bidang non akademik.

Fahira Tuzzahra, anak kedua dari bapak Abdul Kadir dan Ibu Nurmiah yang berhasil meraih predikat cumlaude dengan IPK sempurna 4.00. Video perjalanan inspiratifnya dipertontonkan di depan tamu undangan.

Dalam videonya menceritakan bahwa ia pernah hampir tidak melanjutkan pendidikan dan memilih belajar menjahit karena ekonomi krisis di tengah wabah covid-19. Hal itu membuatnya berpikir tidak mungkin berkuliah dan pergi jauh tanpa uang. Namun ibunya mengungatkan meski harus berhutang.

Dalam rantauannya ke Gowa untuk kuliah, ia banyak mempertahankan hidup dengan keras. Ia beberapa kali makan nasi dan air garam juga melakukan usaha kecil yang menghasilkan materi.

Jelas dalam videonya menggambarkan bagaimana ia yang kerja keras, tekun, berdoa, dan mencari peluang, akhirnya mendapat kesempatan memperoleh beasiswa persyarikan dari Rektor IPI ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan, Dr. Hj. Nurhayati Azis, S.E., M.Si. uangkapan terima kasih itu diikuti oleh sejumlah nama yang menginspirasi perjalanan hidupnya, di antaranya penghormatan yang dihaturkan kepada Prof. Azhar Arsyad yang menanamkan nilai “Man jadda wa jadah”.

Selain itu, Fahira juga diminta menyampaikan pidato pesan dan kesan. Dalam pidatonya ia menyisakan haru pada hadirin.

“Hati ini tak bisa berbohong betapa bangganya kami berkuliah di Institut parahikma Aisyiyah Sulawesi selatan. Segala langkah kecil kami, segala proses dan jatuh bangun kami melekat sangat dalam pada tempat yang kami sebut sebagai rumah kedua ini. tahun 2020 kami datang mendaftarkan diri meski masih dalam suasana covid. Kami yang datang dari berbagai daerah dengan muka lugu, tanpa berbekal banyak ilmu memutuskan berjuang di kampus ini. Canda tawa, bahagia, tangis dan kecewa semua mewarnai perjalanan kita,” ujarnya.

“Namun, Institut parahikma ‘Aisyiyah Sulawesi selatan bukanlah kampus yang konon katanya dunia kampus itu mengerikan, dosennya killer, prosesnya mematikan sungguh paradigma itu tidaklah benar. Kami bangga sekaligus berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada bapak ibu dosen kami yang sudah mengantarkan kami sampai pada proses ini,” tambahnya.

Sambungnya bahwa selama berkuliah, kampus IPI banyak memberi ruang baginya untuk belajar, melebarkan sayap untuk terbang tinggi bersama mimpi-mimpi yang sedang dan selalu diusahakannya.

“Di era ini Gen Z, generasi Alpha, dan tahun depan akan menjadi tahun pertama kelahiran generasi beta, tak jarang kita temui banyak kasus yang berada dalam lingkup pendidikan seperti pencabulan, pelecehan, pembunuhan, pembulian dan kasus criminal lainnya. Jangankan di ibu kota kasus seperti inipun sudah ada di kota kita. Kota Makassar menjadi salah satu tempat tujuan untuk merantau menempuh pendidikan dan ini akan menjadi tantangan untuk kita semua menghadapi segala macam persoalan akhir zaman. Maka sekedar punya ilmu dan menyandang gelar tidaklah cukup,” jelasnya.

Fahira yang merupakan mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Inggris ini, menyampaikan suka duka dalam pidatonya. “Saya pernah menunjukkan kepada bapak saya video di youtube wisuda angkatan ke-2 ketika saya menjadi MC wisuda pertama. Saya berkata pada bapak ‘Pak, nanti saya yang berpidato di wisuda sa. Nanti bapak sediakan naskah untuk sambutan orang tua,” tutupnya.

Diketahui, bahwa perkataan ini menjadi nyata. Meski tidak ada sambutan dari orang tua, tapi berdirinya ia berpidato justru menjadi kado terindah di hari ulang tahun bapaknya di hari itu.

Stay connect With Us :